Kamis, September 13, 2018

Judule Opo Yo..?


Diary dear..,

Mengurus turun waris memang tidak mudah. Ada saja yang kurang lengkap ada saja yang ngeyel. Harus ini itu dan menunggu. Apalagi rumah yang kutempati surat tanahnya masih bentuk Model D. Surat tanah model seperti ini sah dan sudah tercatat/terdaftar di Agraria setempat. Sejarahnya apa aku kurang mengerti kenapa surat tanah di DIY dan sebagian wilayah Indonesia (kalo gak salah) masih ada yang bentuk Model D. Bahkan ada yang letter C segala. Monggo silahkan googling kalo pingin tahu. Hehehe…
Untuk menaikkan menjadi sertipikat harus konversi dulu istilahnya. Setelah dikonversi baru jadi sertipikat tanahnya (sekalian turun waris dan ganti nama apabila itu warisan).

Sudah 2x aku mondar mandir ke Jawa Timur (salah satu kota di sini) mengurus akta kematian orang tua dan membuat surat keterangan ahli waris dan sebagainya. Sempat tersendat karena pihak kelurahan sana tidak mau menandatangani berkas karena kakak dan salah satu adikku belum tanda tangan. Harus dihadapan lurahnya atau diberi solusi saat penanda tanganan berkas oleh kakak dan adikku (bila mereka tidak bisa hadir di sana) aku harus membuat dokumentasi foto saat mereka tanda tangan berkas dan dicetak. Aku pulang ke Jogja lagi memenuhi permintaan pihak kelurahan sana. Setelah selesai memenuhi kekurangan syarat dan berkas aku kembali lagi ke Jawa Timur. Balik lagi ke kelurahan sana untuk meminta tanda tangan pak lurah kemudian ke kecamatan. Nyaris ada lagi yang dipermasalahkan oleh pegawai kelurahan sana karena jarak tanggal pembuatan SKW dan lainnya agak berjauhan waktunya. Tetapi syukurlah pak lurahnya meng-acc dan tidak mempermasalahkan. Kemudian setelah itu aku ke kecamatan setempat diantar oleh saudara sepupuku.
Selesai dari sana aku langsung pulang. Mempersiapkan kelengkapan berkas untuk dilanjutkan minta tanda tangan tetangga kiri kanan, depan belakang. Ijin RT, RW dan dukuh. Lagi… pak dukuhnya sedikit rewel yang katanya surat kerelaan tidak menerima warisan dari kakak dan adikku harus ditanda tangani kelurahan dan kecamatan setempat (sesuai KTP kakak dan adik tinggal). Wah, masa’ kudu ke Semarang dan Bekasi minta tanda tangan dan cap kelurahan dan kecamatan sana? Membayangkan wira wirinya aku udah mulai kesal. Aku cerita pada Nathan, temanku yang bekerja di kantor notaris. Dia bilang mungkin dukuhnya ngerti tanah daerah rumahku nilai ekonominya tinggi, jadi dia “nyari-nyari”, katanya. Nathan pun bilang surat kerelaan itu ditanda tangani dan dicap oleh kelurahan dan kecamatan dimana obyek tanah berada. Bukan berdasarkan KTP tinggal saudara. Itu orang BPN sendiri yang bilang, sambung Nathan.

Aku balik lagi ngeyel sama pak dukuhnya, bahwa… untuk surat kerelaan tidak menerima… itu ditanda tangani kelurahan dan kecamatan dimana obyek tanah berada. Ini kata orang BPN, kataku. Dianya masih ngeyel, katanya mau ditanyakan dulu ke kelurahan dan BPN. Monggo saja pak, kataku. Aku pulang dengan tangan hampa. Kesal bercampur kecewa. Keesokan harinya aku ke kantor BPN minta dibuatkan memo agar pak dukuh mau percaya apa yang sudah aku bilang dan sekaligus dia percaya bahwa aku sudah ke kantor BPN untuk menanyakan hal itu.
Pagi aku ke kantor BPN setempat, ketemu pegawai BPN bagian informasi lalu aku ceritakan masalahku. Pegawai bagian informasi tersebut mempertemukan aku dengan bapak yang biasa mengurusi berkas-berkas turun waris di BPN. Alhamdulillah memo aku dapat darinya dan dia berpesan kalo ada masalah lagi orangnya suruh tanya langsung ke beliau. Siap pak, matur nuwun atas pertolongannya, kataku.
Dengan membawa memo dari BPN, Sabtu kemarin aku 3x bolak balik ke rumah pak dukuh. Sayangnya beliau tidak ada di rumah terpaksa Minggu pagi  aku ke rumahnya lagi, akhirnya bertemu pak dukuh dan kusodorkan berkasku dan memo dari BPN. Pak dukuh membaca memo tersebut dan langsung menanda tangani berkasku. Nah begitu.., kataku dalam hati. Alhamdulillah satu rintangan sudah teratasi.
Sekarang berkas sudah disahkan oleh kelurahan dan kecamatan. Eh… ada saja yang kurang. Ternyata petikan letter C dan djeneng yang harusnya dikeluarkan oleh kelurahan belum diberikan. Terpaksa lagi aku harus balik ke kelurahan meminta itu. Eh lha dalah… sampai di kelurahan pihak yang mengurusi urusan warisan tidak bisa diganggu karena sedang ada pemeriksaan keuangan desa oleh inspektorat. Memang harus sabar… sabar menunggu. Setelah dapat petikan letter C dan djeneng dari kelurahan kemudian ke kantor pajak untuk laporan pajak waris. Berlanjut ke BPN mendaftarkan berkas, lalu kemudian menunggu pengukuran ulang tanah (obyek waris) oleh pihak BPN, dst dst.
Proses konversi ini memang cukup lama, memakan  waktu sekitar 6 bulan (paling cepat) hingga 8 bulan sampai jadi sertipikat tanah sekaligus ganti nama keahli waris.

Kenapa tidak diurus saat orang tua masih ada? Begitu pertanyaan dari saudara atau teman yang mencoba mengulik kenapa aku baru sekarang mengurus semua ini. Aku jawab, karena waktu bapak atau ibuku masih ada/hidup mereka belum pernah secara langsung memintaku mengurus tanah + rumah itu dibalik nama atas namaku. Masa’ iya aku mau menyodor-nyodorkan diri meminta pada mereka agar tanah + rumah yang kutinggali itu dibalik namaku? Gak etis dan gak sopan kan..?! Walau secara lisan mereka sudah mengatakan kepadaku dan saudara-saudaraku (kakak, adik-adik dan lainnya) bahwa rumah yang kutempati itu diberikan kepadaku. Sekarang setelah kedua orang tuaku telah tiada, kakak menyuruhku segera mengurus balik nama (turun waris) tanah dan rumah itu.

Awal mula semua kulakukan sendiri karena kupikir lewat notaris akan sama saja aku harus turun kebawah untuk urusan RT, RW, Dukuh kemudian kelurahan karena menurut informasi pihak kelurahan sini tidak mau pihak ketiga yang mengurus, harus ahli warisnya atau salah satu dari ahli waris. Belum lagi mengurus akta kematian orang tua ke Jawa Timur karena KTP orang tua dari sana, dan juga urusan pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris (SKW), Pernyataan Ahli Waris dan surat-surat lain sebagainya sebagai kelengkapan dokumen pendukung, ahli waris harus datang sendiri ke kelurahan sana (Jawa Timur). Tanda tangan di depan pak lurahn dst.
Jujur saja, yang paling njelimet adalah meminta tanda tangan dan cap. Ini yang buat aku wira wiri.

Dalam mengurus konversi dan turun waris ini aku dibantu oleh Nathan (Jonathan) seorang teman yang bekerja di notaris, sudah kuceritakan diatas ya. Aku banyak bertanya padanya, segala macam prosedur dan apa saja yang harus dilengkapi.  
Dari pengalaman yang aku peroleh selama ini ternyata kebijakan instansi satu dan yang lainnya ada perbedaan. Ada yang ketat pada peraturan, ada yang sedikit longgar. Tergantung kebijakan masing-masing.

Semoga lancar, tidak ada masalah lagi dan cepat selesai dengan baik. Aamiin ya Allah…





 





Rabu, September 05, 2018

Kapan Nikah?

Bagi yang masih jomblo sering ditanyain kapan nikah? Itu terjadi padaku beberapa tahun lalu. Sampai-sampai aku paling tidak suka ikut acara keluarga termasuk saat Lebaran berkunjung ke rumah saudara yang hampir pasti menerima pertanyaan "sulit itu". Aku lebih suka tidak ikut acara kumpul-kumpul, entah itu kumpul keluarga, kumpul bareng teman-teman. Aku sering absen acara reuni ini itu karena aku menghindari pertanyaan-pertanyaan menyebalkan itu. Aku lebih menarik diri dari dunia kumpul-kumpul, lebih suka menyendiri di rumah atau bepergian sendiri.
Sekarang pertanyaan "kapan nikah" sudah jarang kudengar lagi, meski satu dua orang masih ada yang menanyakannya. Barangkali mereka bosan atau mereka akhirnya mau mengerti aku.
Bagi jomblo seperti aku usia menikah sudah melewati batas walau sebagian orang masih pantang menyerah mengejar jodoh. Hak mereka bagi yang masih rajin mengejar jodoh dan menjadi hakku dan sebagian orang yang akhirnya mengikhlaskan keadaan menjomblo sampai saat ini. Artinya kita sudah tidak target lagi urusan jodoh, tidak mengejar dan tidak menolak andai suatu saat jodoh datang. Dalam doaku sehari-hari pun urusan jodoh tidak menjadi prioritas lagi. Aku sudah cukup lama tidak berdoa minta jodoh. Lebih menyerahkan segalanya pada yang Maha Kuasa daripada meratapi keadaan. Apakah aku sudah bosan berdoa meminta jodoh..? Entahlah. Yang pasti aku tidak pernah bosan meminta/berdoa untuk urusan lainnya. Aku tetap bersandar pada Allah yang mempunyai kehidupan ini.

Kalo ada yang masih terus bertanya, "kapan nikah" itu tandanya mereka tidak mau mengerti kita yang jomblo atau sekedar pertanyaan basa basi. Menghadapi orang seperti ini kita yang harus berusaha membuat mereka mengerti dengan cara menjelaskan apa yang menjadi tujuan hidup kita atau menjelaskan mengapa kita sampai sekarang belum menikah/tidak ingin menikah.

Hal yang perlu diingat bagi yang jomblo (termasuk aku) adalah: menikahlah karena keinginan sendiri dan atau karena sudah siap untuk menikah, bukan karena tekanan dari pertanyaan "kapan nikah?".
Pernikahan itu kita yang jalani. Ketika masalah muncul dalam rumah tangga, kitalah yang akan merasakan. Bukan saudara, teman, ataupun tetangga.

Jadi, berhentilah wahai orang-orang yang suka menanyakan "kapan nikah?". Sungguh itu pertanyaan yang sangat membosankan bagi kami yang belum menikah.

Sabtu, Juni 02, 2018

Gracias Zidane

Zinedine Zidane
Tanggal 31 Mei 2018 lalu benar-benar menjadi hari yang membuat hati bersedih, khususnya fans Real Madrid.
Waktu itu sekitar jam 18.00 WIB sambil berbuka puasa seperti biasa aku baca berita lewat twitterku. Ada sebuah pengumuman di laman Real Madrid, press conference. Press con apa aku tidak begitu menghiraukan tetapi aku sempat berpikir sejenak ada pengumuman apa ya? Liga domestik musim ini sudah selesai, liga champion juga sudah selesai, lalu pengumuman apa? Kan ini waktunya pemain-pemain "mudik" untuk persiapan Piala Dunia 2018 di Rusia.
Ahh... Apa mungkin pengenalan jersey baru? Kataku dalam hati selanjutnya sambil scroll berita-berita lain yang ada di temlen twitterku.
Gak sampai 30 menit pengumuman press con dari Real Madrid, tiba-tiba sudah beredar berita Zinedine Zidane pamit mengundurkan diri dari kursi pelatih Real Madrid. Deg..! Kaget rasanya membaca berita itu. Benarkah..? Aku sempat tidak percaya membaca berita itu. Aku scroll portal berita lainnya, baik yang dari luar negeri ataupun dalam negeri. Ternyata benar Zidane pamit gak jadi pelatih Madrid lagi. Sedih bukan kepalang rasanya :(
Makanan buka puasa yang sudah kutelan tadi rasanya mau keluar lagi. Tadinya nyantai sambil buka puasa sambil baca-baca berita mendadak drop dan gak nafsu makan lagi. Lemas dan hilang mood seketika.
Wajah Florentino Perez dalam menemani Zidane press con kelihatan sekali memendam kesedihan yang mendalam. Sorot matanya menunjukkan bahwa dia terguncang akan keputusan Zidane yang mendadak itu. Bagaimana tidak, belum juga seminggu merayakan kemenangan di Liga Champions, berhasil meraih trofi ke 13 UCL.., tidak ada angin, tidak ada badai, tidak ada rencana, tidak ada gosip tentang Zidane mau hengkang, tiba-tiba Zidane pamit mengundurkan diri sebagai pelatih Real Madrid. Saat anak-anak asuh Zidane pulang ke negara masing-masing untuk memperkuat timnas mereka berita ini mencuat dan bikin syok presiden Perez, pemain, fans dan publik penggila bola lainnya. Dunia sepakbola gempar! Benar-benar sebuah keputusan yang mendadak, sulit dipercaya dan tentu bagi kami (fans, manajemen klub) ini mirip sebuah "bom meledak" ditengah-tengah kegembiraan.
Demikian kemarin aku lihat Florentino Perez saat menempatkan trofi ke 13 UCL milik Real Madrid di markas El Real wajahnya masih terlihat sedih. Ya, seharusnya Perez bersama Zidane meletakkan trofi tersebut di sana. Zidane sudah membuat keputusan, Zidane sudah pamit mengundurkan diri, Zidane sudah mengukir sejarah indah untuk Real Madrid, Zidane sudah membuat klub, manajemen dan para fans bangga.
Sukses selalu Zidane.., dan kami berharap suatu saat nanti anda melatih kembali di klub kebanggaan ini, Real Madrid.

Gracias Zizou... Hala Madrid..!

Rabu, Mei 30, 2018

Piala ke 13 dan "Ramos vs Salah"


Final Liga Champions musim 2017/2018 yang mempertemukan Real Madrid vs Liverpool memang sudah selesai dan menghasilkan Real Madrid sebagai jawaranya. Perhelatan telah usai namun meninggalkan bekas goresan yang mungkin bagi sebagian orang akan tetap menempel di kepala yaitu insiden Sergio Ramos dan Mohamed Salah “kontak fisik” yang berakibat keluarnya Salah dari kompetisi tersebut dimenit 30. Sayang memang kejadian tersebut harus terjadi, terlepas siapa yang salah, sengaja atau tidak kalau dilihat kembali bahwa apa yang dilakukan Ramos sebagai seorang bek wajar-wajar saja. Menjadi tidak wajar karena terlihat ditayangan ulang dan foto-foto yang beredar tangan kiri Ramos menjepit tangan kanan Salah dan menariknya sehingga Salah terjatuh kearah kiri dan tangan kiri Salah menyentuh tanah kemudian menahan badannya yang terjatuh bersama Ramos. Tetapi sebelumnya ada foto yang beredar bahwa tangan Salah lah yang duluan masuk ke lengan Ramos dan menahan tangan kiri Ramos sehingga terjadilah apa yang terlihat, yaitu tangan kanan Salah dijepit dan ditarik lengan kiri Ramos kemudian mereka sama-sama jatuh. Sialnya Salah mengalami cedera tangan kirinya dan Ramos baik-baik saja.
Ramos terlihat bersalah karena dianggap bermain “kotor” yang menyebabkan Salah harus pergi meninggalkan lapangan dibabak pertama yang belum selesai dan Liverpool mengalami kekalahan 1-3 dari Real Madrid. Ramos selama ini dikenal sebagai pemain yang kasar sedangkan Salah sebagai seorang pemain yang baik. Jadi dengan kejadian itu wajar saja Ramos menjadi si “penjahat”.
Melihat apa yang dilakukan oleh Ramos sebagai seorang bek, wajar-wajar saja dia melakukan tekel. Bukankah tugas seorang bek adalah menghalau, menghadang dan “mematikan” serangan lawan agar gawang timnya tidak kebobolan? Bukankah sebagai seorang bek harus mempunyai fisik yang kuat dan “gahar”..?! Kalau sebagai seorang bek lembek ya gak laku lah, mana ada klub bola mau pakai bek letoy? Ngapain mainkan bek lembek yang ada malah gawang kebanjiran gol lawan.
Kalau dilihat kembali tekel Ramos terhadap Salah termasuk tekel bersih karena kaki Ramos sudah menyentuh bola dan wasitpun tidak memberi hukuman kan pada Ramos?
Usai pertandingan Ramos mungkin sadar bahwa di media sosial dirinya jadi bahan cacian pendukung Salah dan Liverpool. Dia telah menulis sebuah pernyataan kepada Salah di media sosialnya, tetapi itu semua tidak menghentikan serbuan makian padanya.
Seorang pengacara Mesir katanya mau menuntut Ramos sekitar 16 T karena ulah dia terhadap Salah. Apa bisa “kecelakaan” di arena olahraga digiring ke hukum di luar itu? Cuma nanya sih, soalnya aku awam soal hukum. Bukankah dalam sebuah pertandingan olahraga sudah ada tim pengadilnya yang berhak menentukan seorang olahragawan atau seorang pelatih, atau sebuah tim melakukan kesalahan? Di sepakbola ada wasit yang memimpin sebuah pertandingan, sehingga apabila ada pelanggaran di lapangan selama pertandingan digelar wasitlah yang berhak memberi hukuman pada pemain, pelatih yang membuat pelanggaran di dalam lapangan. Suporter sepakbola pun ada sanksi bila mereka membuat ulah di dalam stadion atau saat pertandingan berjalan.
Ada orang luar negeri yang membuat petisi (online) untuk Ramos agar dihukum karena ulahnya terhadap Salah. Kemarin aku baca petisi tersebut sudah tembus 500ribu tanda tangan. Entahlah apakah petisi itu didengar oleh UEFA atau FIFA. Yang pasti jika UEFA mengabulkan petisi tersebut ancaman Ramos tidak bisa bermain di Piala Super Eropa dan mungkin pertandingan lain yang diikuti Real Madrid (tergantung sanksinya seperti apa). Jika FIFA ikutan menyetujui petisi itu bisa dipastikan Ramos akan absen di Piala Dunia 2018 Rusia membela timnas Spanyol. Ahh… semoga semua itu tidak terjadi. Aku rasa UEFA dan FIFA tidak mau didikte oleh petisi semacam itu, dan pastinya mereka akan melihat, menyelidiki sebelum menjatuhkan sanksi. Itupun jika mereka menggubris petisi online tersebut.
Sesungguhnya kejadian seperti yang dialami Ramos vs Salah itu hal yang biasa terjadi dalam pertandingan sepakbola. Hal ini jadi gempar karena Ramos sebagai pelaku “kotor” melawan Salah sebagai pemain baik-baik. Lalu bagaimana dengan nasib pemain Madrid, Carvajal yang mengalami cedera hamstring? Rupanya cederanya Carvajal kalah heboh sama Salah. Berita tadi pagi aku baca bahwa Carvajal diperkirakan bisa ikut di Piala Dunia. Syukurlah…
Dari tanah air ada seseorang yang mengaku sebagai fans Liverpool merasa tidak terima ada muslim yang “teraniaya” dan akan demo di Kedutaan Besar Spanyol di Jakarta. Duh mak..! Kenapa urusan sepakbola dikait-kaitkan dengan agama? Sesensi itukah dia? Kalau rakyat Mesir marah terhadap Ramos wajar, karena mereka khawatir Salah absen dalam perhelatan Piala Dunia yang sebentar lagi digelar di Rusia. Harapan mereka besar terhadap Salah yang sedang on fire, apalagi setelah tahun 1990 (kalo tidak salah) Mesir absen dalam Piala Dunia dan sekarang berhasil masuk kembali menjadi salah satu peserta Piala Dunia tahun 2018 ini. Fans Liverpool marah besar terhadap Ramos juga sangat wajar karena sekian tahun mereka kehilangan gelar juara Liga Champions dan juga EPL, serta momen kembalinya mereka diajang Liga Champions dan masuk final pula bubar begitu saja karena kejadian Ramos dan Salah itu.
Secara pribadi aku pun kagum pada sosok Mo Salah ini. Dia menjadi top scorer di EPL dan beberapa penghargaan yang sudah disabetnya di musim ini bahkan digadang-gadang bakal menerima Ballon d’Or pengganti Ronaldo dan Messi. Pemain yang sedang on fire ini memang telah menyihir penggemar sepakbola di kolong jagat ini. Jadi sangatlah wajar publik Mesir sangat bangga pada Salah, dan sangat marah bila bintang sepakbola mereka terluka dan terancam tidak ikut Piala Dunia yang sudah mereka idam-idamkan sejak lama.

Dari lubuk yang paling dalam aku mendoakan semoga Mohamed Salah cepat pulih dari cederanya dan bisa membela timnas Mesir di Piala Dunia nanti. Salah bisa beraktivitas kembali dan menjadi pesepakbola handal dikemudian hari. Siapa tahu setelah era Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, Mohamed Salah menjelma menjadi superstar sepakbola menggantikan mereka berdua.

Rabu, Maret 07, 2018

Kado Ulang Tahun Real Madrid



Lega setelah kemenangan Real Madrid dini hari tadi melawan PSG leg 2 UCL.
Performa Madrid dikompetisi domestik memang sedang tidak stabil, apalagi musim ini paruh pertama Madrid sering menemui kendala dalam bertanding melawan tim-tim lokal Spanyol. Tetapi syukurlah masuk paruh kedua musim ini Madrid mulai memperbaiki penampilannya dalam kompetisi Laliga. Mudah-mudahan masih ada kebaikan dan keberuntungan menaungi Real Madrid dalam mengejar poin di Laliga sehingga nanti musim kompetisi berakhir Real Madrid mendapat tiket otomatis ke Liga Champions musim depan. Aamiin…

Kembali ke Parc des Princes, stadion milik PSG.
Real Madrid sebagai tim tamu datang dengan skuad utama meski Toni Kroos dan Gareth Bale tidak diturunkan sebagai starting eleven. Skema yang digunakan 4-4-2, sedangkan PSG memakai skema 4-3-3. Kedua tim main secara offensive. Enak dilihat, seru dan bikin deg-degan. Yang bilang bikin bete siapa? Yang bilang dibantu wasit siapa? Mungkin yang bilang itu gak nonton dini hari tadi. 

Babak pertama ditutup tanpa gol. 

Masuk babak kedua permainan tetap sengit hingga akhirnya di menit 51 gawang PSG dibobol Cristiano Ronaldo melalui tandukannya yang menerima assist dari Vasquez. PSG 0 – 1 RealMadrid.
Tribun penonton fans PSG menyalakan flare yang menyala besar, memerah! Pertandingan pun sempat dihentikan sejenak karena asap flare yang masuk ke lapangan. Memang yah kelakuan sebagian fans suka begitu. Sebelumnya fans PSG juga membuat kegaduhan disekitar hotel yang diinapi para pemain Madrid. Tujuannya apa? Ya mengganggu agar pemain-pemain Madrid tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Duh…
Biarinlah nanti mereka kena hukuman karena menyalakan flare di dalam stadion. Klub akan kena denda atau apalah hukuman lainnya akibat ulah suporternya.

Dalam posisi tertinggal Verratti menerima kartu kuning kedua (=kartu merah) karena pelanggaran yang dibuatnya. Babak pertama tackel keras Verratti pada Casemiro dan babak kedua melakukan pelanggaran kembali dan protes keras terhadap wasit. Meski kalah jumlah pemain PSG bisa menyamakan kedudukan melalui gol yang dicetak Cavani dimenit 71. Namun dimenit 80 Casemiro menyumbang satu gol melalui bola yang meluncur dari Cavani dan diterima sukses oleh Casemiro dan menjadi sebuah gol tambahan untuk Real Madrid.
Hingga babak kedua berakhir kedudukan tak berubah PSG 1 – 2 Real Madrid (agregat 2 – 5). Real Madrid berhak satu tiket ke 8 besar. Alhamdulillah...

Wow.., dari berita Detik ternyata yang nonton PSG vs Real Madrid semalam (dini hari waktu Indonesia) banyak pesohor-pesohor lho. Ada mantan Presiden Prancis, ada Presiden dan Perdana Menteri Prancis, serta pemain-pemain bola yang sudah pensiun seperti David Beckham, Kaka, Gary Naville, pelatih timnas Jerman Joachim Loew, dan model Bella Hadid.
Wajar sih ya, yang main bertabur bintang yang nonton juga bintang-bintang. Hehe

Ngomong-ngomong soal pertandingan 16 besar PSG vs Real Madrid ini, banyak lho yang menjagokan PSG. Alasannya mereka di liga domestik berjaya (pastilah… karena materi pemain mereka bintang-bintang dan mahal pula dibanding tim-tim lain yang main di liga yang sama). PSG belanja gila-gilaan dimusim transfer lalu. Ingat kan transfer Neymar yang bikin mata terbelalak dengan harga yang menjulang dan aku anggap gak masuk akal.
Ratusan trilyun rupiah mereka gelontorkan demi membangun skuad mewah. Sedangkan Real Madrid dibursa transfer lalu hanya beli pemain-pemain yang gak popular, tapi mereka punya skills bagus menurut pelatih dan tim pencari bakat pemain Real Madrid. Entah mengapa ditangan Zidane opa Perez manut gak beli pemain bintang seperti biasanya.
Moga-moga dengan skuad yang ada ini Real Madrid tetap melejit menggapai prestasi. Aamiin…   

Selamat Ulang Tahun Real Madrid, 6 Maret 
Hala Madrid!

Selasa, Maret 06, 2018

Selamat Jalan Bapak

Allah yang menciptakan, kepada Allah jualah kita kembali.

Sudah satu minggu bapakku berpulang. Sebelumnya beliau mengeluh sakit dada dan tidak mau makan disertai suhu badan panas. Gejalanya mulai hari Jumat, hari Sabtu masih mengeluh yang sama dan kemudian hari Minggu pagi dibawa kesalah satu rumah sakit di Semarang. Diobservasi akhirnya masuk ICU petang harinya. Dokter ICU bilang ke kakakku katanya bapak perlu diventilator karena paru-parunya bermasalah yang menyebabkan sakit dada.
Setelah berembuk antara kami, kakak beradik dan pertimbangan macam-macam, kami sepakat bapak tidak usah diventilator. Andai diventilator pun belum tentu bisa sembuh total setelah keluar dari ICU, dan penyembuhannya bisa berbulan-bulan. Selain itu keluarga tidak bisa menjaga bapak dari dekat kalau bapak dirawat di ICU. Dokter pun sepakat dengan keputusan kami, faktor usia bapak yang sepuh dan fisik bapak yang sudah lemah dan bila diventilator sakit sekali, bapak semakin menderita.
Akhirnya bapak dikeluarkan dari ICU dan dirawat di kamar. Pernapasan bapak dibantu oksigen cair, makan minum melalui sonde. Kasihan melihat bapak terbaring seperti itu. Bicaranya makin tak bisa kami mengerti karena mulut tidak bisa terkatup karena harus dioksigen.
Minggu pagi aku dikabari, karena aku harus menyelesai sedikit pekerjaan akhirnya aku berangkat dari Jogja keesokan harinya, hari Senin siang sekitar jam 13.00. Begitu sampai Semarang aku langsung ke rumah sakit. Bapak terbaring dengan selang dihidung, mulut, dan tangan plus kateter.
Aku menginap di rumah sakit bersama adikku yang bungsu. Sempat shock saat melihat laporan saturasi bapak menurun drastis diangka 72. Aku terbangun sekitar jam 00.30 aku melihat napas bapak dalam dan tersengal-sengal. Dalam hati aku berkata, “ya Allah apakah ini saatnya bapak pergi?”. Aku masih melihat dadanya terus menerus sambil mengawasi dada bapak, cairan oksigen dan cairan infus. Sebenarnya bisa saja aku memanggil suster jaga untuk menanyakan kenapa bapakku seperti itu napasnya, atau membangunkan adikku yang tertidur. Tapi aku masih berpikiran positif mungkin ini salah satu reaksi dari obatnya. Setelah lumayan lama aku mengawasi bapak, napas beliau berangsur normal. Kemudian aku tidur, tapi tidak bisa juga tertidur pulas. Sebentar-sebentar aku terjaga dan melihat dada bapak, cek air oksigen dan cairan infus. Begitu terus hingga waktu subuh tiba.
Selasa pagi, siang, malam bapak cenderung diam. Tidak banyak meracau seperti hari Senin. Malam pun bapak terjaga cuma dua kali (kalo tidak salah) dan sebentar. Tidak ada kecurigaan sama sekali hingga waktu subuh tiba. Bapak lebih tenang hingga suster jaga datang jam 05.30 untuk mengecek saturasi bapak(88-89), tensi darah (108/67) dan kadar gula (220).
Setelah itu adikku pergi kebawa untuk membeli kopi panas dan sarapan. Selesai ngopi dan sarapan kami ngobrol sambil melihat kondisi bapak.
Suster memanggil salah satu dari kami, adikku yang datang menemuinya. Suster memberitahu kalau bapak harus menambah albumin 2 botol. Kekurangan albumin itu yang menyebabkan kaki dan tangan bapak bengkak. Tingkat kesadaran bapak juga menurun, diajak komunikasi sudah tidak merespon. Dokter pagi yang visit mencoba membangunkan/memanggil bapak, tetapi tidak ada respon. Kesadarannya makin menurun tetapi napas bapak masih ada.

Jam 06.50 kakakku dan istrinya datang sambil membawa makan buat kami. Lalu adikku melapor tentang albumin tadi, kemudian kakakku mengurus kebagian administrasi untuk memesan albumin tersebut.
Sekitar jam 07.50 bapak mulai kritis. Aku melihat leher bapak yang tadinya ada gerakan tarikan napas sempat terhenti sebentar (kira-kira 3 atau 4 detik) kemudian terlihat kembali tarikan napasnya. Lega sebentar lalu tiba-tiba aku melihat napas bapak terhenti kembali (deg..! Dalam hati aku berkata, apakah sekarang waktunya bapak pergi?). Buru-buru kakakku menyuruh aku yang sudah panik untuk memanggil suster. Suster kupanggil lewat panggilan yang ada di kamar tersebut. Tapi aku melihat bapak sudah terdiam, lehernya tidak terlihat gerakan napas lagi. Suster datang dan mencoba menekan dada bapak tetapi sudah tidak ada respon. Innalillahi wa innailaihi rojiun…

Setelah dimandikan dan disucikan di rumah sakit bapak dibawa ke rumah kakak. Dimakam kan sore itu juga di Semarang. Berangkat dari rumah kepemakaman sekitar jam 16.15. Aku bersama 2 adikku dan 2 kakak sepupuku naik ambulance yang membawa bapakku. Baru kali ini aku menaiki mobil ambulance jenazah. Jenazah bapakku.

Semoga bapak husnul khotimah dan bertemu ibu di surgaNYA. Aamiin ya Robbal Aalamiin

Selasa, November 14, 2017

Teman Lamaku


Sabtu, Minggu kemarin menemani teman dari Jakarta jalan-jalan di Jogja. Tujuan teman kesini sebetulnya mau menghadiri undangan kawinan relasi suaminya saat pendidikan di Lemhanas dulu. Karena suamimya sedang sakit akhirnya temanku sebagai istrinya menggantikan kehadirannya dihajatan itu.
Sejak hari Jumat temanku (namanya Ida) sudah menelponku ngomongin rencananya itu. Janjian ini itu… dan hari Sabtunya dia datang dijemput sopir. Aku belum bisa menemani karena aku masuk kerja. Setelah bubar dari rutinitas kerjaku aku pulang mandi kemudian menyusulnya ke mess AL menemuinya. Ngobrol-ngobrol sampai maghrib lalu bergantian kami sholat kemudian dia mulai persiapan diri ke kondangan. Kuperhatikan dia dandan. Aku melihat peralatan make up-nya. Dulu pakai Sari Ayu sekarang pakai Ultima dan SK-II.  Wajar dong seiring peningkatan ekonominya beda pula yang dikenakan. Selesai dandan dan Ida nampak cantik dalam balutan atasan hitam dipadu sarung motif dengan warna dasar hitam dan warna-warna kontras. Okay…
Kemudian dilanjut keacara nikahan. Aku tidak ikut turun hanya menunggu di mobil, dan aku sudah bilang Ida, aku tidak ikutan masuk keacara nikahan itu. Alasannya sederhana, aku males dandan :)  
Ida tidak mempermasalahkan keenggananku itu. Dia pun bilang gak akan lama-lama di pesta pernikahan itu. Datang, masukin amplop lalu salaman ke yang punya gawe, salaman sama pengantinnya terus pulang.
Sampai di gedung parkiran penuh, tamunya banyak. Sesuai rencana Ida cuma datang, tulis buku tamu, masukin amplop, salaman terus pulang. Acara dilanjut ketempat bakmi jowo disekitaran jalan Nagan. Temanku itu mau kumpul-kumpul sama teman-teman sesama lulusan Lemhanas suaminya. Kebetulan teman-teman Lemhanas ini banyak ibu-ibunya.
Ida memang supel meski teman-teman suaminya dia kenal juga sama mereka. Ibu-ibu kalo sudah kumpul sama aja kayak ABG.., selfie-selfie gak ketinggalan. Mereka kumpul-kumpul disana sambil melepas kangen sembari makan mie jowo dan foto-foto. Aku yang bukan dari bagian mereka cuma diam saja sembari sesekali senyum saat dikenalkan Ida kepada mereka.

Selesai dari sana pulang ke mess. Ngobrol sampai larut, dari cerita teman, keluarga hingga usaha temanku ini yang ternyata dia sudah mempunyai 300 kamar kos! AC dan non AC.
Cukup lama aku tidak mengikuti perkembangan usahanya ini. Tau-tau udah segitu aja. Aku diperlihatkan foto rumah kosnya yang lebih mirip banguna hotel empat lantai. Busyeeettt ini sih bukan rumah kontrakan atau kos-kosan. Ini udah kayak hotel, Da! Kataku setengah berteriak.
Dia bilang kalo saat ini sedang membangun kamar-kamar tambahan lagi. “Yang pasti aku ngutang bank lagi, Lel.” Kata Ida sambil selonjoran di tempat tidur. Cerita beralih tentang anak-anaknya. Anak keduanya yang lulusan Akpol sudah dinas di Lombok, anak pertamanya lulusan sekolah pilot katanya mau nerusin ke spesialis boeing di Spanyol. Lalu anak ketiganya sudah semester akhir dikuliahannya.
Ida ini temanku sejak SD, SMP kemudian berpisah karena aku ikut orang tua pindah tugas. Orang tua kami pun saling kenal karena sama-sama sebagai pendatang waktu di Bitung - Sulut dulu. Hubungan kami tetap terjalin walau kami berpisah kota, berpisah propinsi. Lumayan sering ketemu jika ada pertemuan-pertemuan di Jakarta. Dari dulu sejak kami kecil, remaja dan kemudian Ida menikah dan punya anak aku tetap keep in contact dengannya. Suaminya seorang perwira tinggi Angkatan Laut. Dulu saat masih muda pernah ditugaskan di Jerman. Saat ini suaminya sudah perwira tinggi bintang dua (kalo gak salah Laksamana Muda), setara Mayor Jenderal kalo di AD (maaf jika salah. Hehehe… Maklum aku kurang mudeng masalah kepangkatan dalam TNI).

Keesokan harinya kami jalan-jalan. Dimulai ke Dowa, toko tas rajutan yang sudah beberapa tahun ini sedang booming di Jogja. Kami kesana liat-liat dan belanja. Gak disangka aku dibelikan sebuah tas. Alhamdulillah…
Selesai dari situ kami pergi makan siang lalu lanjut ke pasar Beringharjo. Borong daster dan cari souvenir untuk pengajian 40 hari meninggal ibunya. Selesai dari situ kami menyeberang ke Mirota Batik. Cari baju untuk mertuanya dan beli sedikit makanan oleh-oleh. Niat mau ke kota gede lihat-lihat kerajinan perak gak jadi karena keburu sore. Sebelum naik mobil Ida yang sejak kemarin pengen banget ronde keturutan juga. Disamping pasar Beringharjo kami menemukan minuman tersebut. Beli dua harganya diluar dugaan 28.000! Memang sih, Ida nambah isi bulatan yang terbuat dari tepung ketan isi kacang entah 3 atau 4 biji. Tapi ya sudahlah yang penting temanku sudah dapat yang diinginkan.
Pulang ke mess masih ada waktu buat ngobrol sambil menunggu adzan maghrib. Ida beres-beres koper dan belanjaannya. Setelah semuanya beres kami bergegas ke bakmi Kadin untuk makan malam. Sampai disana sudah ramai pembeli dan kami harus nunggu satu jam lebih untuk makan bakmi godog pesanan kami. Kelar makan akhirnya kami berpisah. Ida ke bandara aku pulang ke rumah.
Terima kasih ya Allah masih Engkau beri kesempatan lagi aku bertemu teman kecilku, teman remajaku, teman lamaku. Semoga ketemu lagi. Aamiin…

Selasa, Oktober 24, 2017

Reuni 30 Tahun SMA

Akhirnya aku ikut reuni teman-teman SMA Negeri 1 Sumedang. Niat sudah bulat tekatpun sudah memuncak. Meski lumayan jauh kutempuh juga perjalanan yang cukup melelahkan itu. Alhamdulillah… teman-teman lamaku menyambut niatku ini dengan suka cita. Benar-benar gak nyangka mereka semua antusias dengan rencana ini.
Aku berangkat menggunakan kereta malam Mutiara Selatan pukul 00.15 WIB. Ngantuk tak terasa meski jam tidurku biasanya dibawah jam itu.
Tiba di stasiun Bandung pukul 08.35 WIB. Dua temanku (Tatang dan Anit) sudah berada disana. Histeris kegirangan saat pertama kali aku menjumpai dua temanku tersebut. 30 tahun sudah berlalu dan Alhamdulillah Tuhan masih memberi kami kesempatan untuk bertemu dan berkumpul.
Perjalanan dari stasiun menuju Sumedang kota tempat kami pernah bersekolah sudah dipelupuk mata. Wajah teman-teman lama silih berganti seliweran di kepala. Membayangkan betapa kami saling merindu satu sama lain.
Sebelum perjalanan ke Sumedang berlanjut aku minta temanku mampir ke Kartika Sari untuk beli kue bolen yang memang sudah menjadi target oleh-oleh pulang ke Jogja yang harus kubeli.
Sepanjang perjalanan Bandung – Sumedang kami bertiga ngobrol. Cerita masa lalu dan cerita terbaru yang belum aku ketahui bercampur jadi satu. Kami tertawa mengenang masa lalu..., cerita kesana kemari dan akhirnya kami tiba di Sumedang jam 11.00 WIB. Kami langsung menuju rumah salah satu teman (Elly) yang dengan tangan terbuka menjamu kami. Yaaa… Allah begitu hepinya hati ini ketika ada dua teman kami (Dudun dan Utay) yang sudah berada disitu duluan. Tegur sapa peluk cium saat yang lainnya mulai berdatangan. Bener-bener sebuah pertemuan yang mengharu biru. 30 tahun terlewati dan kini mereka berada didepanku. Reuni kelas kami telah dimulai. Sabtu, 21 Oktober 2017.

Acara spontanitas. Dari pembagian kaos kelas yang sudah disponsori oleh salah satu teman kami (Cicin). Kemudian dilanjut makan siang (yang disponsori oleh Elly) dilanjut foto bersama di rumah Elly. Sorenya aku dan tiga temanku ke toko cari jilbab pink untuk seragam kelas kami. Lanjut ke hotel yang lagi-lagi disponsori teman kami Cicin. Maklum dia punya usaha disamping itu orangnya gak pelit. Setelah maghrib kami kumpul di hotel kemudian kami makan malam dan lanjut ke karaoke ditraktir oleh Cicin lagi. Hehehe…
Bersyukur punya teman yang sukses secara materi dan royal menjamu teman-temannya. Makanya, rejekinya mengalir terus.
Kalo ingat masa SMA nya dulu dia ini termasuk murid yang bandel dan sampai sekarang pun masih bandel. Hahaha  (Piisss... atuh kocin)
Tapi siapa yang tahu perjalanan hidup orang kemudian hari?

Keesokan harinya tepat tanggal 22 Oktober 2017 kami berkumpul kembali di hotel dan berangkat ketempat reuni angkatan '87. Saung Pawenang – Sumedang. Perjalanan tidak begitu jauh. Tiba ditempat sebagian peserta sudah datang. Registrasi kemudian masuk ruangan. Sambil menunggu yang lain ada suguhan snack yang sudah disiapkan panitia. Jumpa teman-teman yang lain, ada yang ingat nama dan wajahnya. Ada yang ingat wajah tapi lupa nama. Duhh… semoga dimaklumi karena sudah lama gak bertemu sebagian memori perlahan menguap.
Acara inti sudah mulai dan benar saja kata beberapa teman, reuninya garing alias menjenuhkan.
Kelas per kelas maju diperkenalkan. Dan saat maju kedepan panggung bersama teman-teman kelasku, aku melihat barisan depan tamu VIP guru-guru duduk disitu. Sumpriiittt bukan sok gak mau kenal atau gimana, wajah dan nama guru-gurupun aku gak ingat. Cuma satu yang aku ingat yaitu guru bahasa Inggris, bu Tita. Yang lainnya blank.
Wetti sebagai jubir kelas kami memperkenalkan satu per satu dari kami.
Kelas kami ini dulunya terkenal bandelnya. Sampai ada wali kelas yang mengundurkan diri jadi wali kelas kami karena gak kuat menghadapi kebandelan murid-muridnya. Ketika kenaikan ke kelas tiga beberapa teman laki-laki dari kelas kami dipindah ke kelas lain. Tujuannya supaya terpisah murid bandel satu dan yang lainnya. Huhuhu…
Tapi saat reuni kelas kami (hari Sabtu) mereka yang sudah dipindah ke kelas lain itu malah datang gabung dengan kami. Hehehe… ikatan kekeluargaannya masih kuat.
Selesai acara masing-masing pulang. Aku harus menunggu sampai malam di Sumedang karena aku naik bus malam pulang ke Jogja.
Disela-sela itu aku sempatkan keliling kota Sumedang. Tapak tilas jaman remaja dulu. Dengan diantar temanku, Yanie, aku dibawa keliling Sumedang. Banyak perubahan kotanya setelah 30 tahun dan nyaris aku tidak mengenali lokasi jaman dulu.
Menyempatkan diri beli oleh-oleh khas Sumedang, tahu. Ini juga salah satu target oleh-oleh yang harus kubeli. Wah.. bawaan semakin banyak ketika Elly dan Dudun membawakan oleh-oleh juga. Alhamdulillah rejeki..!
Dari pertemuan bersama teman-teman lamaku itu, satu pelajaran lagi yang aku dapat, bahwa kebahagiaan itu datang tidak melulu dari orang yang kita harapkan, tetapi terkadang datang dari orang-orang yang tidak kita duga sebelumnya.
Malam beranjak aku dan tiga temanku, Elly, Atti dan Dudun mengantar aku ketempat penjemputan penumpang di Alam Sari. Bus baru datang sekitar pukul 21.30 an. Akhirnya aku pulang ke Jogja meninggalkan kenangan indah bersama teman-teman kelasku.
Sampai jumpa lagi kawan!