Selasa, Desember 15, 2009

7 Desember 2009

Dina buru-buru bangun dan bergegas mandi. Pagi ini dia harus segera tiba di kantor lebih pagi dari biasanya karena harus menemani pimpinannya menemui distributor di kantor Kuningan Jakarta Selatan. Gawat, jangan sampai telambat, kata Dina dalam hati. Tahu sendiri, hanya selisih 5 – 10 menit telat keluar dari rumah bakal menemui kemacetan yang luar biasa. Inilah Jakarta! Selalu krodit dengan kemacetan, gerutu Dina sambil menyambar tas kerjanya yang ada di meja.
Pagi ini Dina harus memastikan bahwa semuanya beres agar bos tidak ngomel-ngomel karena ada hal yang dianggap tidak sempurna.
Sebagai seorang sekretaris disebuah perusahaan elektronik terkemuka di negeri ini, dia harus profesional dalam bekerja. Mulai dari mengecek agenda kerja, menyiapkan keperluan pimpinan hingga hal-hal kecil yang menyangkut keperluan pimpinan selama dinas tidak luput dari perhatiannya.
Dina bekerja sebagai seorang sekretaris sudah tujuh tahun di perusahaan ini. Perusahaan elektronik yang terletak di wilayah Jakarta Utara ini sudah memberi banyak hal, suka dan duka. Lawatan keberbagai daerah/kota di Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara dan Australia pernah disinggahinya. Itu semua berkat Dina menjadi seorang sekretaris. Punya teman/relasi banyak dan gaji yang layak plus fasilitas kesehatan yang baik diperolehnya. Dukanya, bila akhir bulan dia harus menemani bos menunggu closing product dari cabang-cabang yang dilaporkan oleh bagian sales. Biasanya bos suka rewel dengan keterlambatan laporan yang masuk, belum lagi koreksian laporan yang dilimpahkan pada dirinya. Urusan pekerjaan sebetulnya tidak masalah bagi Dina, yang membuat telinganya merah bila bos sudah marah-marah yang tidak fokus. Ini sifat jelek bosnya yang selalu harus dimaklumi. Dina harus ekstra sabar dan harus pintar-pintar melayani bosnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.35 WIB, masih ada waktu 15 menit untuk mengecek ulang perlengkapan yang akan dibawa nanti. Oke, semuanya sudah beres dan tidak ada yang terlupa.
Pak Handoko, pimpinan Dina atau biasa disebut bos oleh Dina datang tepat jam 07.55. Setelah menanyakan semua persiapan kepada Dina, mereka langsung berangkat.
Pak Yono, supir kantor yang setia menemani kemanapun bos pergi, kali ini sedikit berwajah ceria. Dina pun iseng bertanya, “Pak, tumben pagi-pagi sudah ceria. Ada kabar bahagia ya?”, tanya Dina mencoba membuka pembicaraan pada pak Yono.
Pak Yono tersipu-sipu mendengar pertanyaan Dina, sambil menjawab : “ iya mbak. Anak saya sudah lulus pendadaran kemarin”. “Wah hebat! Sebentar lagi di wisuda donk Pak?” Kata Dina melanjutkan pertanyaannya kepada pak Yono. “Iya mbak”, jawab pak Yono kemudian.
Selama perjalanan mereka bertiga tidak banyak bicara. Sesekali Pak Handoko menerima telepon melalui telepon selulernya. Sementara pandangan Dina lebih sering keluar memperhatikan jalanan ibukota yang padat sambil sesekali melihat pemandangan gedung-gedung bertingkat yang ada di kiri kanan jalan.

Tiba di kantor Kuningan, Dina dan Pak Handoko langsung menuju ruang pertemuan. Di sana sudah ada Pak Wisnu, seorang Sales Manager Mereka berbincang-bincang sambil menunggu pihak distributor. Kali ini yang menjadi mitra kerja adalah sebuah perusahaan elektronik yang berada di Jawa Timur.
Dina menyiapkan segala keperluan rapat, sementara Pak Handoko dan Pak Wisnu sedang membahas program-program yang akan dibawa ke Malaysia minggu depan. Tiba-tiba Pak Handoko memanggil Dina. “Din, persiapan untuk ke Malaysia minggu depan sudah beres?” Dengan cepat Dina langsung menjawab “sudah Pak. Tiket pesawat PP sudah saya booking dan untuk akomodasi sudah saya kontak ke cabang Malaysia untuk di bookingkan. Dan informasi terakhir yang saya terima dari cabang Malaysia melapokan, bahwa semuanya sudah siap, Pak”. “Oke, terima kasih Din”, ucap Pak Handoko.
Setelah mempersiapkan keperluan rapat Pak Handoko, Dina mengambil posisi duduk agak kesamping, dekat Bu Inggrid seorang manager dari divisi lainnya. Sedangkan Pak Handoko dan Pak Wisnu duduk bersebelahan. Pas-lah mereka kan satu tim yang satu Marketing Manager dan satunya lagi Sales Manager, pikir Dina sesaat sebelum tamu yang ditunggu-tunggu datang.
Tepat pukul 10.15 rombongan dari perusahaan jamu tersebut datang didampingi Pak Wijaya direktur utama tempat Dina bekerja. Setelah perkenalan dan basa-basi lainnya, masuklah acara inti yang dinanti-nanti. Hmm…, Bos perusahaan rekanan yang sedang berbicara di depan mempresentasikan produk-produknya ternyata oke juga. Hehehe…., keren juga, kata Dina dalam hati. Tanpa disadari Dina, Bu Inggrid yang ada disebelahnya juga berkomentar sama tentang Pak Wijaya. “Penilaian kita koq sama ya Bu?” celetuk Dina sambil berbisik-bisik. “Iya”, jawab Bu Inggrid singkat sambil tersenyum memandang Dina. “Ssstt…, Pak Wijaya melihat ke kita Bu. Sepertinya Dia terasa kalau jadi pusat perhatian kita Bu”, tulis Dina pada secarik kertas yang disodorkan ke Bu Inggrid. Tak lama kemudian Bu Inggrid tersenyum sambil melihat wajah Dina yang manis tersenyum juga. Kemudian Dina menulis dikertas lagi “intermezzo Bu. Hehehe….”, lalu disodorkan kertas itu pada Bu Inggrid. “Iya, daripada manyun. Hehehe…”, tulis Bu Inggrid pada Dina.

Usai rapat, Dina buru-buru memberesi bawaannya. Semua yang ada di ruangan itu menuju ruangan yang sudah disiapkan untuk makan siang.
Bos-bos dan para tamu mendahului untuk mengambil makan siang, sedangkan Dina masih asyik menerima telepon dari rekan kerjanya yang di kantor. Ada urusan kerja yang harus disampaikan ke Pak Handoko. Semua pesan dari kantor sudah direkam di kepala Dina dan usai makan siang harus segera di sampaikan ke Pak Handoko.
Setelah makan siang selesai Dina-pun menghampiri Pak Handoko untuk menyampaikan pesan dari kantor.

Usai acara tersebut, Dina dan Pak Handoko kembali ke kantor. Selama perjalanan Pak Handoko lebih sering bicara pada Dina dan Pak Handoko. Kali ini obrolan Pak Handoko lebih ke hal-hal yang lucu-lucu. Mungkin ingin melepas kepenatan rutinitasnya saja beliau begitu. Dan juga bisa dibilang pengusir kantuk setelah pertemuan dan makan siang tadi.
“Pak Yono sudah makan?” Tanya Pak Handoko tiba-tiba. “Sudah Pak” jawab Pak Yono. “Tadi di kantor sana disediakan makan buat driver-driver. Kenyang Pak”, lanjut Pak Yono meyakinkan pertanyaan Pak Handoko. Pak Handoko-pun mengangguk-angguk.
Dalam perjalanan pulang ke kantor Dina lebih banyak diam. Sampai-sampai Pak Handoko iseng bertanya padanya. “Tumben Din, koq diam aja?” Iya Pak, ngantuk kekenyangan tadi. Seloroh Dina sambil tertawa kecil.
Hujan mulai turun. Rintik-rintik air mengenai kaca mobil. Hmm… hawanya semakin enak buat tidur nih, pikir Dina.
Kemudian Dina melirik pada Pak Handoko sedang asyik dengan blackberry-nya, Pak Yono sedang berkonsentrasi pada kemudi. Sedangkan Dina asyik melihat air hujan sambil sesekali membalas sms yang masuk ke handphone-nya.

Tak terasa mobil yang kami naiki memasuki halaman kantor. Pak Yono menghentikan mobil persis di depan pintu lobby kantor sehingga kami turun tidak kehujanan. Pak Handoko, Dina turun dari mobil dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Pak Yono.
Dina-pun langsung masuk ke lift menuju lantai empat tempat ruang kerjanya berada. Sedangkan Pak Handoko mampir ke salah satu rekan kerjanya yan berada dilantai dasar.
Sore itu jam sudah menunjukkan pukul 17.35 WIB. Segera Dina memberesi berkas-berkas kerjanya. Pak Handoko sudah pulang 20 menit sebelumnya. Pekerjaan untuk esok hari sudah disiapkan Dina dalam agenda kerjanya. Setelah selesai, Dina bergegas pulang meninggalkan kantor.
Hari ini beberapa pekerjaan sudah terselesaikan oleh Dina. Esok ada pekerjaan baru dan pekerjaan yang belum sempat diselesaikan masih menunggu. Begitulah setiap harinya Dina menapaki rutinitasnya sebagai seorang sekretaris.

Sabtu, Desember 05, 2009

Mengenang Yang Lalu, Membina Yang Baru

Reuni lewat fesbuk yang pertama kali kami lakukan. Melalui teman-teman yang sudah kami temukan, mulailah acara itu disusun. Reuni teman-teman lama. Aku yang masih terdampar di Jogja mulai giat mencari informasi sana-sini. Sms, telepon, chatting, apa saja yang sekiranya bisa untuk menghubungi teman-teman, aku lakukan. Tempat reuni di Jogja. Karena ini teman-teman semasa kuliah yang tidak satu kampus denganku. Teman main kala jam kuliah kosong atau kala liburan tiba.

Astaga..!! Orang itu nongol juga, gumamku dalam hati. Laki-laki yang selalu kunilai good looking itu akhirnya berani muncul, menampakkan batang hidungnya. Ga salah nih...? Kamu Roy..? Tumben ikutan? Bukannya kamu takut ama istri kamu? Selalu beralasan bila diajak kumpul-kumpul gini? Tanyaku padanya.
"Hehehe..., kali ini aku pakai alasan lain lagi supaya lolos dari curiganya". Kata Roy santai. Manusia satu ini memang pernah ketahuan selingkuh oleh istrinya. Sejak itu dia selalu kucing-kucingan dengan istri bila ada acara bersama teman-temannya. Selalu curiga dan mosi tidak percaya yang keluar dari istrinya. "Syukurin..!!" Ledekku padanya bila dia memberi alasan terhadapku atau kepada teman-teman lainnya.
Bukannya apa-apa..., manusia yang satu ini super nyebelin. Hampir semua akses untuk menghunginya ditutup. Sampai-sampai daftar teman-teman di fesbuk-pun di hidden olehnya. Jadi orang yang belum jadi teman di fesbuknya tidak bisa melihat daftar teman-temannya. Ck ck ck... Banci, betul-betul pengecut! Umpatku. "Takut mantan-mantan ikut nimbrung difesbuk-ku", katanya enteng. Anjrit..! Sebegitu pentingnya kamu, Roy? Teriakku padanya.
Makanya, kalo masih takut istri ga usah macam-macam-lah Roy. Kataku kemudian. Hehehe... Roy nyengir kuda untuk menutupi rasa malunya.

Reuni diselenggarakan malam minggu. Bertempat disebuah restauran bernuansa Bali dan ber-dress code hitam atau putih, atau kombinasi hitam dan putih.
Selesai maghrib, aku bergegas dandan. Baju yang kupakai terusan hitam. Praktis dan ga banyak aksesoris selain jam tangan, gelang, cicin dan anting yang biasa kupakai. Sepatu berhak sedang warna putih tulang dan tas kecil warna hitam. Sederhana dan nyaris semuanya hitam-hitam yang kupakai malam itu. Untung kulitku putih jadi terlihat kontras saat aku mengenakan baju tersebut. Aku ga pintar dandan, jadi penampilanku sederhana. Yang penting ga salah kostum atau norak.
Jam menunjukkan pukul 18.30. Aku sudah siap, tinggal tunggu jemputan teman. Lima menit kemudian Yustin yang didampingi suaminya datang menjemputku. Undangan tertera pukul 19.00 tepat. Yang telat dihukum nyanyi sambil berjoget didepan teman-teman. Untunglah lokasi restauran itu tidak jauh dari rumahku, jadi aku dan Yustin terhindar dari hukuman tersebut.

Pukul 18.55 meja yang kami pesan sudah penuh dengan undangan. Suara tawa dan senda gurau teman-teman begitu riuh terdengar. Semua hanyut dalam kenangan masa lalu.
Tiba-tiba aku menatap seseorang yang duduk diujung meja. Hei..., itu kan Bono? Kenapa dia banyak diam? Kemana istrinya? Tanyaku pada Yustin. Yustin yang duduk disebelahku menyenggol lenganku. "Dia masih jomblo", kata Yustin. "Oohh..., sama kayak aku donk?" gurauku. "Kamu minat ga?" sambung Yustin. "Ga ah Yus", bisikku pada Yustin. "Kenapa Lel?" Ga kenapa-kenapa aja. Jawabku ringan.

Acara demi acara sudah dilewati. Gelak tawa dan gurauan terlontar. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Restauran masih tampak ramai, inikan malam minggu. Jam tutup restauran lebih malam dari biasanya.
Usai acara kami semua saling berjabat tangan dan berpelukan. Saling mengucapkan sampai berjumpa lagi, keep in contact, etc.
Bono yang dari tadi mojok, tiba-tiba menghampiri aku dan Yustin. "Hai... Lel, Yustin. Kalian pulang dengan siapa?" tanya-nya. "Aku bareng Yustin", kataku. Kamu sama siapa Bon..? tanyaku balik. "Sendiri aja". Kata Bono.
Sambil ngobrol kami menuju parkiran. Wah, ternyata teman-teman masih ada yang asyik ngobrol di sana. Kami sempat nimbrung sebentar, kemudian kami pamit diikuti yang lainnya.
Seru...!! Temu kangen malam itu sukses. Reuni kecil yang kami buat membawa kenangan indah yang tak terlupakan. Teman lama terjalin kembali, teman baru terbina untuk sebuah persahabatan.

Malam bergulir semakin larut. Tampak bintang bertaburan di atas sana. Terima kasih Tuhan, malam ini tidak turun hujan. Sehingga acara reuni kami dapat berjalan dengan
lancar. Ucapku dalam hati.

Jumat, November 13, 2009

Pagi-Pagi Udah Bohong

Ochin bohong lagi. Lagi lagi bohong...
Apa dikira aku ga tau ya? Ahh... pura-pura aja ga tau. Biar dia ke Ge eR-an kalo kebohongannya tidak diketahui olehku. Dasaaarrr...!! Penyakit orang yang ga mutu.
Mboh wis..., aku ora mudeng. Lama-lama isi blogku ini ikutan ga mutu kalo isinya cuma gini-gini aja.

Kamis, November 12, 2009

Puiiihhh...!!

Ga semestinya aku bertemu lagi ama anjing ras itu. Rasanya pengen nendang sejauh mungkin dari hadapanku, kalo ga aku ingat anjing juga adalah makhluk Tuhan.
Sumpah...!! Muak rasanya lihat tampang dan kelakuannya yang menyebalkan. Aku jadi berpikir, buat apa bagus kemasan tapi kelakuannya busuk! Puiihh..., sakit perutku ngeliat anjing itu.

Rabu, November 11, 2009

It's Not Too Late

Untuk memulai hal baru yang bisa merubah pada sesuatu yang lebih baik dari saat ini. Tapi kenapa selalu mendapat halangan yang itu-itu saja, yang bikin 'eneg' dan pengen banget nampar orang itu!! Huuh..., memang susah bicara ama orang (maaf)'budeg hati' dan ga punya nurani. Mending ngomong sama si bryan kucing penjaga rumahku yang pemalas itu. Paling enggak dia diam dan mendengarkan omonganku sambil tiduran diatas keset depan rumah.
Bryan, untung aku masih punya hati yang baik dan ga tegaan (ceilehh..!!), jadi masih bisa ketahan perbuatan brutal itu. Kalo enggak aku bisa menjadi manusia buas seperti nenek moyangmu yang di hutan itu. Ihh... amit-amit, jangan sampe!!

It's not too late. Betul ga bryan...? Mulai saat ini kita harus semangat. Semangat membangun hal-hal yang bisa membuat kita survive. Makanya, kenapa aku suka Oshin. Semangat dia yang pantang menyerah dalam mengarungi kehidupan ini. Seorang gadis cilik hingga dewasa terus menerus berjuang untuk meraih yang lebih baik. Bisa ga ya aku seperti dia? Minimal semangat juangnya

Jumat, November 06, 2009

Hal Baru

Hal baru ga selalu tidak nyaman. Ada positifnya yang kuperoleh, paling enggak aku membiasakan mandi lebih pagi lagi, jam 06.00 udah cebar-ceburr... guyur air disekujur tubuh. Berangkat kerja lebih pagi dan mengurangi kebiasaan buruk kelamaan leyeh-leyeh di rumah. Biasanya sih jam 06.30 aku baru mandi, dan berangkatnya lebih nyantai, yang penting ga telat nyampe kantor. Kadang-kadang telat juga nyampenya. Hihihi....

Dari segi ketidak nyamanan yang kutemui dari hal baru ini : Pekerjaan rumahku keteteran, semakin amburadul karena waktu mengerjakannya terburu-buru dan waktunya sedikit. Kalo kuforsir badanku yang tidak kuat. Akhirnya..., ya sudahlah! Sekuat aku mengerjakan pekerjaan rumahku. Toh yang menghuni rumahku hanya aku sorangan, paling yang komplin adik atau kakak pas kalo mereka main ke rumah plus tetangga yang membatin. Hehehe...
No problemo!!

Minggu, November 01, 2009

Hari Minggu Pagi

Good morning my day...!!
Jogja cerah, Jogja gerah. Panas buangeett...!! Sampe 37 derajat celcius katanya. Pantas cucianku cepet keringnya.
Hari ini ga ada yang istimewa untuk diceritain. Ga ada curhat, ga ada berita spektakuler yang asik buat dibahas. Berita TV pun masih berkutat soal KPK vs POLRI.
Hidup KPK!! Wuihh.. hubungannya apa? Pendukung aja, biar KPK ga dibubarin atau dikebiri. Wis, wis... aku ga mau ikut campur berkomentar. Ora mudeng.

Diary dear,
Online di internet pagi2 membuat pikiran fresh lagi. Tadi sarapan ketan + bacem koro & benguk, enak banget. Untung bacemnya ga begitu manis, jadi masih keterima ma tenggorokanku. Kalo ga pasti wis ta' lepeh bacem itu. Aku ga suka makanan yang manis-manis.
Yo wis, aku abis ini mau ke Indogrosir dulu. Mau belanja bulanan.
Have a nice Sunday

Sabtu, Oktober 31, 2009

Antara Sayang, Cinta Dan Siksaan Batin

Busyeett, aku dicurhati lagi ma si Upik. Duh Pik, aku sendiri kalo punya masalah seperti kamu, pasti nangis juga. Tapi gimana donk.., kita kan teman. Saling dengerin curhat dan saling menasehati, iya ga? (sok tua kamu Lel..!!) Hahaha…., bisa aja aku ini!? Sorry Pik, kita sama-sama wanita. Ga jauh beda kan? (Perasaan kita maksudku).

Hmm... Pik, aku upload di blog ya ceritamu? Bereslah, masalah identitas aku rahasiakan. Oke? (Upik sudah setuju-red!)

Mulai cerita nih.
Benar-benar suatu dilema. Bagaimana tidak, Upik yang tulus memberi sayang dan cintanya pada Upak ternyata menemukan hal yang pahit. Upak dengan segala kepedean dan kearoganannya merendahkan martabat Upik sebagai perempuan. Kata Upik, Upak dulu tidak seperti itu. Upak orangnya perhatian, bijaksana, sopan dan tidak menyakiti. Intinya dia orang yang baik. ( titik!)

Begini…,
Pada mulanya mereka berteman, kemudian menjalin hubungan secara baik-baik. Upak yang mengawali pernyataan sikap atas perasaannya pada Upik. Upikpun menyambutnya dengan senang hati, karena Upik memang mempunyai perasaaan yang sama seperti Upak.
Singkat kata merekapun menjalin hubungan asmara. Ditengah perjalanan cinta mereka, tanpa dinyana-nyana, Upak ber-ulah. Sikap yang ditunjukkan Upak belakangan sangat menyakitkan hati dan perasaan Upik.
Upik bertahan untuk tetap bisa menerima kelakuan Upak yang menyakitkan itu karena rasa sayangnya pada Upak, tentunya. Kebodohan yang dibuat Upik ini berulang-ulang, dan Upik menyadari itu. Jengah rasanya aku melihat ulah Upik yang stupid ini. Sudah berulang-ulang kuperingatkan, tapi Upik menerima omonganku hanya dengan menangis tanpa bisa merubah sikapnya. Abis gimana..., aku masih sayang sama Upak? Aku ga bisa pergi darinya, kata Upik sambil menangis. Tapi kamu jangan mau juga disiksa batin seperti itu! Kataku balik pada Upik.

Sekitar dua minggu kemudian,
Tidak kusangka-sangka Upik bilang ke aku, bahwa dia akan melupakan Upak. Bantu aku untuk melupakan dia, katanya padaku. Oke, aku setuju atas tekat bulatnya membuat keputusan ini. Berani mengambil resiko walaupun itu tidak mudah. Melawan perasaan sayang, cinta untuk diubah menjadi hambar dan benci! Kata Upik.
Kubilang pada Upik, jangan kamu benci dia, itu hanya semakin menyakiti hati kamu. Matikanlah perasaan sayang dan cintamu terhadapnya. Ubahlah perasaan itu sebagai hal yang hambar, datar tanpa harus membenci. Terimalah dia sebagai teman biasa, tanpa harus menyimpan dendam. Karena perasaan dendam, benci atau menjauhi dia hanya akan semakin menyiksa batinmu. Alamaak…, dalem banget!
Pik, kamu pasti bisa! Ini pernah kulakukan pada saat aku mengalami hal yang sama seperti kamu.
Alhamdulillah..., aku baik-baik saja sampai sekarang. Aku tidak punya rasa dendam pada mantan-mantanku, walaupun mereka pernah jahat terhadapku dan aku tidak pernah terlintas sama sekali untuk membalas perbuatan mereka. Satu hal yang perlu diingat, saat kita mengikhlaskan perbuatan mereka, disitulah kita memenangkan pertarungan batin yang hebat.
Kamu tahu Pik, salah satu dari mantanku mengalami kejadian yang tidak kuduga sama sekali. Awalnya kukira dia mendapatkan kesempurnaan hidup saat dia memilih pasangan hidupnya. Seorang wanita, bekerja disalah satu bank, dinikahinya. Mereka hidup bahagia, mereka sama-sama bekerja & sekarang sudah dikaruniai anak
Tahu tidak, aku dengar si-mantan sudah tidak bekerja di instansi tempat dia kerja dulu, dengar-dengar ada perampingan di tempat kerjanya. Tapi tidak masalah bagi dia karena dia punya usaha sendiri yang dikelolanya dan kakaknya. Seperti biasa, pasang surut bisnis mereka alami juga. Sudah sampai di situ….
Seiring berjalannya waktu, aku dengar kabar lagi, bahwa dia baru saja kehilangan anak. Anak keduanya meninggal karena keteledoran pengasuhnya. Dan yang terbaru dari kabar yang sama sekali ga kucari-cari ini (semua kabar kuperoleh datang dengan sendirinya), katanya dia sekarang luntang-lantung ga kerja. Sesaat aku tertegun, apa ini teguran atau balasan dari Tuhan atas perbuatannya dulu? Dia meninggalkanku demi wanita lain & bersikap sangat menyakitkan terhadapku. Dia juga masih punya hutang padaku yang hingga saat ini belum lunas. Sudah kutagih beberapa kali, sampai-sampai aku malu menagihnya. Tetap saja dia selalu mengelak dan mempermainkan perasaanku.
Hai bung…, jangan main-main dengan hutang dan janji..!! Bisa celaka bila tidak dibereskan.
Sekali lagi aku menarik napas dalam-dalam saat aku mengetahui dia dengan segala problema hidupnya.

Lagi dan lagi…,
Ada lagi mantanku yang lain, Pik. Dia sudah bercerai. Orang ini pernah menyepelekan aku. Dulunya sih dia pernah suka ma aku, pernah pacaran juga kami saat dia belum menikah. Tapi kami putus karena sikapnya yang tidak menarik dan sangat tidak gentleman.
Singkatnya,
Dari cerita yang kuperoleh (ceritanya setelah dia cerai nih), dia lagi kepingin cari pendamping hidup lagi. Kabarnya dia sudah dapat pacar baru, tapi tersandung karena ulah pacarnya itu. Dia menginginkan wanita yang punya banyak uang, tapi sayang disaat dia sudah mendapatkan wanita yang diinginkan, malah si wanita itu (pacarnya-red!) pergi meninggalkannya bersama uang yang dititipkan pada si pacar tersebut.
Haah…? Rupanya sepadan dengan perbuatannya, dia sering mempermainkan wanita dulunya. Menganggap remeh terhadap wanita yang tidak kaya dan selalu menganggap enteng untuk menaklukkan wanita.
Tapi Pik..., aku sama sekali tidak girang mendengar semua itu. Kujadikan semuanya sebagai cerminan hidup, agar aku lebih berhati-hati dalam hidup ini. Sepak terjang kita ada konsekuensinya.

Senin, Oktober 19, 2009

Sebuah Paradigma Baru

Awalnya dari sebuah perselisihan kecil di pagi hari dan berlanjut ke hal yang menyebalkan!
Aku ngobrol ama teman lamaku, sebut saja namanya Pujo. Kuceritakan apa yang terjadi denganku. Dia bilang, aku harus membalik paradigmaku. Paradigma…?? Yah, kamu harus bisa melakukan itu bila ingin keluar dari masalah itu. Begitu kira-kira maksud dari kata-kata Pujo terhadapku.
Awalnya memang susah Lel, tapi lama-lama pasti kamu bisa. Begitu kata Pujo, kepadaku. Oke, akan aku coba.

Pagi ini, hampir saja aku membuat kebodohan lagi untuk mengirim sms. Tapi aku ingat kata-kata si Pujo, bahwa aku harus membalik paradigmaku.
Batalin, batalin ngirim sms bodoh ini! Gumamku dalam hati. Cepat-cepat kuhapus sms itu dan aku bergegas pergi kerja. Lebih cepat lebih baik, kata Pak JK waktu berkampanye dulu. Hehehe….
Benar saja, sesampai di kantor aku merasa enjoy dengan paradigma baru yang kubalik. Ditambah lagi ada teman yang menelponku dan bercerita panjang lebar tentang kehidupan. Klop sudah keyakinanku untuk mempraktekkan paradigma baruku. Thanks Pujo, semoga Tuhan selalu memberkati hidupmu. Amien….

Eit…, ada sms dari teman lama masuk. Hiiihh… seneng sekali. Ternyata Tuhan memberiku hiburan lewat mereka. Bos yang satu ini rupanya sedang ga sibuk. Makanya bisa sms-an ama aku. Biasanya kalo ga meeting ama manager bulenya, dia sibuk ngurusin pesawat. Dan….
Ngobrol punya ngobrol ternyata teman-teman Manadoku pada mau buat acara gathering di Lembang. Aduh, pengen sekali aku ikut. Tapi…? Bisa ga’ ya aku ikutan acara mereka? Aku kan ga libur kalo Sabtu. Hmm…??

Awan mendung di kota Jogja tidak membuatku berduka. Meskipun hari ini aku memakai baju hitam-hitam. Kenapa? Karena baju kerjaku lainnya belum kering alias baru pagi tadi kucuci. Penyakit malasku kambuh beberapa hari ini, cucian kutumpuk begitu saja di ember. Baru sadar setelah mau kerja, ternyata stok sudah menipis.
Lelly, Lelly…. Ck ck ck…!!

Semoga hari esok cerah dan hangatnya mentari pagi menyinari bumi ini.
Untuk Pujo, sukses buat band kamu. Kapan bawain lagu-lagunya The Police lagi?
Oya, kamu tau group band TOTO kan? Lagunya bagus-bagus, tapi ada satu lagu yang pengen aku dengar lagi, judulnya AFRICA. Kaset TOTO-ku udah rusak. Aku ingat sekali lagu itu pernah aku dengar waktu di Hard Rock CafĂ© Jakarta tahun 1996. Jadul banget ya? Bawain donk…, special buat aku. Hehehe….