Adalah sebuah blog yang dimiliki oleh seorang wanita biasa. Memiliki motivasi nge-BLOG yang sederhana dan menyalurkan hobi melamun dengan menuangkan hasil lamunannya dalam bentuk tulisan. Lumayan, memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan positif... Hehehe...
Rabu, Juli 09, 2008
Selasa, Juli 08, 2008
Kucing Garong
Kalo animasi yang ini gimana...? Ini baru namanya kucing garong.
Emang cuma orang yang bisa goyang trio macan. Gue juga bisa. Tarik maaass... sampe pagi

MyNiceSpace.com
Emang cuma orang yang bisa goyang trio macan. Gue juga bisa. Tarik maaass... sampe pagi
MyNiceSpace.com
Senin, Juli 07, 2008
Life Begin at 40
Sudah menjadi kebiasaanku bangun pagi dan kuusahakan selalu bangun sebelum matahari terbit. Ku cek hpku ternyata ada 2 sms yang masuk tengah malam tadi. Dua-duanya dari temanku. Sebelumnya, tepatnya jam 22.21 wib Joe sudah lebih dulu mengirim sms ultah buatku. Datang lebih awal, ga pa2 Joe. Mungkin kamu sudah sangat mengantuk menunggu jam 24.00 yaa.
Kubalas sms mereka dan kuucapkan terima kasih atas perhatian mereka terhadap hari specialku.
Pagipun beranjak mulai terang. Ibu dan bapakku menelpon untuk mengucapkan selamat ultah, kemudian menyusul sms/telp dari adik dan kakakku, iparku, saudaraku, teman2 kantorku (aduuh seperti ngabsen murid di kelas ya!) dan telepon dari teman jauhku yang juga mengucapkan hal yang sama. Terima kasih untuk semua doa dan ucapan yang sudah datang kepadaku, semoga Tuhan membalas budi baik kalian semua. Amien...
Seiring dengan semakin terangnya matahari bersinar, akupun mulai menyiapkan diri untuk ke kantor. Ehh.... ada lagunya d'Masiv di radio. Kudengar lagunya, kuresapi syairnya. Itu lho lagu yang judulnya Cinta Ini Membunuhku. Lagunya bagus, syairnya mengena. Terlebih bagian reff.nya aku paling suka : "Kau hancurkan aku dengan sikapmu, tak sadarkah kau telah menyakitiku. Lelah hati ini meyakinkanmu, Cinta ini..., Membunuhku". Halaah...!! Apa2an aku ini. Pagi2 udah terlena dengan syair lagu cinta. Hehehe... dasar emak-emak selera musiknya masih ABG.
Dan akhirnya akupun tiba di kantor juga. Joe telpon, dia mulai ngeledekin aku. Ngeledeknya sih sambil b'canda. Dia selalu nanyain apa aku masih gendut? Aku bilang aku udah turun BB 3,5 kg. Dia ga percaya. Ya udah, lebih baik dia ga usah percaya daripada aku harus mati2an buat dia percaya. Capek dueeh...!! Yang penting aku ga gaptek kan Joe?! Hihihi..., sorry bro! Aku masih banyak kekurangannya. Tapi lumayanlah untuk tingkatan emak-emak macam aku gini masih oke diajak browsing internet atau diajak ngomongin hal2 lainnya. Apalagi masalah gosip tv atau teman. Huush..!! Ga boleh ngomongin orang. Hehehe...
Satu lagi Joe, yang penting dalam hidup ini kita bisa down to earth

MyNiceSpace.com
Kubalas sms mereka dan kuucapkan terima kasih atas perhatian mereka terhadap hari specialku.
Pagipun beranjak mulai terang. Ibu dan bapakku menelpon untuk mengucapkan selamat ultah, kemudian menyusul sms/telp dari adik dan kakakku, iparku, saudaraku, teman2 kantorku (aduuh seperti ngabsen murid di kelas ya!) dan telepon dari teman jauhku yang juga mengucapkan hal yang sama. Terima kasih untuk semua doa dan ucapan yang sudah datang kepadaku, semoga Tuhan membalas budi baik kalian semua. Amien...
Seiring dengan semakin terangnya matahari bersinar, akupun mulai menyiapkan diri untuk ke kantor. Ehh.... ada lagunya d'Masiv di radio. Kudengar lagunya, kuresapi syairnya. Itu lho lagu yang judulnya Cinta Ini Membunuhku. Lagunya bagus, syairnya mengena. Terlebih bagian reff.nya aku paling suka : "Kau hancurkan aku dengan sikapmu, tak sadarkah kau telah menyakitiku. Lelah hati ini meyakinkanmu, Cinta ini..., Membunuhku". Halaah...!! Apa2an aku ini. Pagi2 udah terlena dengan syair lagu cinta. Hehehe... dasar emak-emak selera musiknya masih ABG.
Dan akhirnya akupun tiba di kantor juga. Joe telpon, dia mulai ngeledekin aku. Ngeledeknya sih sambil b'canda. Dia selalu nanyain apa aku masih gendut? Aku bilang aku udah turun BB 3,5 kg. Dia ga percaya. Ya udah, lebih baik dia ga usah percaya daripada aku harus mati2an buat dia percaya. Capek dueeh...!! Yang penting aku ga gaptek kan Joe?! Hihihi..., sorry bro! Aku masih banyak kekurangannya. Tapi lumayanlah untuk tingkatan emak-emak macam aku gini masih oke diajak browsing internet atau diajak ngomongin hal2 lainnya. Apalagi masalah gosip tv atau teman. Huush..!! Ga boleh ngomongin orang. Hehehe...
Satu lagi Joe, yang penting dalam hidup ini kita bisa down to earth
MyNiceSpace.com
Jumat, Juli 04, 2008
Kesadaran Hidup
Seperti diingatkan oleh Tuhan, tiba2 aku membaca 2 artikel di bawah ini di Kompas.Com 4 Juli 2008 dan satunya lagi beberapa hari yang lalu.
Aku sadar sebagai manusia sering kali khilaf dalam menyikapi hidup yang memang sudah berat ini. Tetapi tidak elegan rasanya kalo kita selalu menuntut dan menuntut tanpa kita bertindak yang lebih arif dan bijaksana. Alangkah baiknya aku lebih membumikan diri daripada terus melihat keatas tanpa kita sadar bahwa masih banyak orang yang lebih susah dibandingkan kita. Atau kita bisa melihat Pak Sugeng, walaupun dia sebagai seorang PNS dengan kehidupannya yang sudah mencukupi tetapi dia lebih memilih berpola hidup sederhana untuk menyiasati kebutuhan hidup yang semakin tinggi ini.
Beruntung aku menyadarinya lebih awal sehingga aku bisa memperbaiki diri lebih cepat. Terima kasih Tuhan, You are the best God I can get.
Jafar, Berharap Rezeki dari Tetesan Air Aren
By : Ing
PANASNYA terik matahari siang, tak membuat langkah Jafar (30) surut. Apalagi, dilihatnya ratusan orang tengah melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Bagi Jafar, di tengah teriknya panas, ratusan orang itu menjanjikan rezeki lebih baginya.
Jafar adalah seorang penjual es aren. Es, yang mungkin jarang kita temui. Tak seperti es doger, es campur ataupun es dawet yang bisa dijumpai di banyak tempat. Modal Jafar hanyalah air aren yang ditempatkannya pada dua batang lodhong (bambu besar). Selain itu, ada dua batang bambu lainnya, untuk menempatkan gelas. Empat batang bambu itu, disatukannya dengan sebuah batang bambu yang berukuran kecil. Membawanya? Dipanggul!
Tak lelahkah Jafar memanggulnya? "Namanya cari rezeki, ya enggak boleh lelah. Kalo panas gini, capek juga sih. Batangnya aja udah berat. Apalagi kalau ada isinya, tambah berat lagi," kata Jafar.
Air Aren, cerita Jafar, hasil dari pengolahan buah Aren. "Itu loh, dari pohon kolang-kaling. Ngolah-nya gimana, saya juga enggak tahu. Saya tiap hari ngambil di pembuatnya di Rangkas Bitung. Kebetulan, saya juga tinggal di daerah itu," ujarnya.
Setiap hari, Jafar membeli air aren dengan modal Rp 30 ribu rupiah. Satu gelas es aren ia jual dengan Rp 2000. Keputusan Jafar memilih berjualan di Jakarta, karena menurutnya di ibu kota jarang dijumpai penjual es aren.
"Banyak yang penasaran, kalau saya bawa-bawa ini. Seperti Mbak jugakan? Haha...Ya lumayan rezekinya. Orang nanya, jual apa Bang. Saya bilang es aren, jadi pada mau ngerasain," ujar mantan buruh pabrik ini.
Dalam sehari, Jafar bisa menjual hampir 30 gelas es aren. Baginya penghasilan yang didapatnya cukup untuk membiayai hidup kedua orangtuanya. "Enggak seberapa, tapi enggak apa-apalah. Masih bisa bantu orang tua. Tapi kalau buat nikah, saya belum berani dengan penghasilan segini. Kerja di pabrik dulu lumayan dapetnya (gaji), tapi di-PHK. Biarlah, sekarang gini yang penting halal," katanya sambil tersenyum.
Biasanya, pukul 4 pagi Jafar sudah meninggalkan Rangkas Bitung, menggunakan KRL menuju ke Stasiun Tanah Abang. Dari Tanah Abang, ia pun berjalan menyusuri Jakarta, berharap kucuran rezeki dari tetesan air aren yang dipanggulnya.
Penasaran? Semoga Anda menemukannya di belantara Jakarta. "Saya muternya kemana-mana. Enggak tentu. Kadang di Blok M, kadang di Senayan, tapi kalo ada aksi saya pasti nguber, banyak yang beli," ujar Jafar.
Kenaikan BBM, Coba Bayangkan?
By : Sugeng Pamilu K - Tangerang
Saya adalah seorang pegawai negeri sipil di sebuah Departemen (yang kata orang basah), tinggal di Tangerang dan kantor saya di daerah Jakarta Selatan. Hampir setiap hari ke kantor naik sepeda motor, meski dirumah ada mobil. Waktu ditanya teman kenapa pakai motor dan saya jawab dengan alasan nasinalisme, hampir semuanya tertawa. Seakan-akan kata nasionalisme, sudah menjadi barang yang lucu saat ini. Karena saya berfikir, kalo saya memakai mobil ke kantor, tiap hari saya membutuhkan bensin premium 10 liter, karena rumah saya jauh dan jalur macet. Sedangkan kalo menggunakan sepeda motor, saya membutuhkan hanya 1 liter bensin premium. Berapa dana subsidi yang saya hemat?
Seperti yang kita ketahui bersama, bensin premium masih disubsidi pemerintah. Anggap saja, tiap liter bensin premium disubsidi pemerintah Rp. 1.000,-, berarti saya menghemat Rp. 9.000,- sehari, sebulan (22 hari kerja) = Rp. 9.000,- X 22 = Rp. 198.000,-. Setahun = 12 X Rp. 198.000,- = Rp. 2.376.000,-.
Bayangkan jika dilakukan seribu orang, sejuta dan seterusnya tinggal dikalikan saja. Angka subsidi Rp. 1.000,- per liter, saya mengacu kepada harga premium di Malaysia yang sekitar Rp. 7.500,-. Dan perlu diingat pula, bahwa subsidi yang kita nikmati bukan cuma dari BBM saja, dari listrik juga. Dari angka-angka diatas, subsidi yang diterima oleh pengguna mobil yang memakai premium sebulan, dengan kebutuhan premium sebanyak 5 liter sehari = 5 X Rp. 1.000,- X 30 hari = Rp. 150.000,-, yang berarti lebih besar dari Bantuan Langsung Tunai yang diterima kaum Dhuafa negeri ini, sambil desak-desakkan kepanasan di depan kantor pos. Coba pembaca bayangkan? Sedangkan pemakai mobil, memanfaatkan subsidi dengan pakaian rapi, mobil yang ber ac, wangi dan seterusnya.
Saya juga ngak yakin apakah para pendemo kenaikan harga BBM itu tidak memanfaatkan subsidi BBM tersebut. Sekali lagi, bukannya saya mendukung kenaikan BBM atau tidak. Manusiawi kalau kita ingin harga-harga kebutuhan kita murah dan terjangkau. Tapi kalau harga minyak dunia juga tinggi, dan kita bukanlah negara pengekspor minyak bahkan pengimpor BBM, realitas itu harus kita hadapi dengan bijaksana. Kalau kita memaksa untuk meningkatkan produksi minyak demi konsumsi kita, apa yang kita tinggalkan buat generasi mendatang? Ingat minyak bukanlah sumber daya alam yang dapat diperbaharui!!
Sekarang ini, banyak para pemakai kendaraan yang dulunya menggunakan Pertamax (yang harganya tidak disubsidi), sekarang ikut-ikutan menggunakan premium (yang harganya masih disubsidi). Kalau kita berpendapat bahwa memakai premium kan tidak dilarang? Itu memang benar. Salah pemerintah tidak dapat mengatur pembatasan pembelian premium untuk kendaraan pribadi? Benar pemerintah kita tidak mampu mengaturnya. Pemerintah belum dapat menyediakan angkutan umum yang bersih, lancar dan aman? Hal ini memang benar juga Tapi yang perlu diketahui dan diingat saya mencintai negara ini dan masa depannya. Dan saya harap kita semua mencintai negara ini dan masa depannya. Jangan memanfaatkan ketidak mampuan pemerintah kita sebagai alasan mengerogotinya melalui subsidi.
Bayangkan, mengatur pemakaian BBM untuk kendaraan di dalam negeri saja pemerintah kita tidak mampu, bayangkan jika harga BBM di negara kita jauh dibawah harga di negara sekitar. Akibatnya penyelundupan BBM akan meningkat pesat, dan pemerintah kita pasti kewalahan (tidak mampu) untuk mengatasinya. Untuk adilnya, bandingkan antara Pajak Penghasilan yang kita bayar dengan subsidi yang kita (keluarga kita) nikmati. Kalau masih lebih besar pajak penghasilan, saya sebagai Warga Negara Indonesia mengucapkan terima kasih. Seperti yang kita ketahui bahwa 70% Penerimaan negara kita berasal dari pajak. Sedangkan pengeluaran untuk subsidi baik untuk BBM dan Listrik, merupakan hampir 30% pengeluaran negara kita. Saya perbandingkan pajak penghasilan, karena jenis pajak inilah sumbangsih kita pada negara tercinta sebenaranya, sedangkan jenis pajak lainnya merupakan imbalan atas konsumsi kita saja.
Pantaskah kita menuntut pemerintah memberikan subsidi lebih, jika kita masih mengerogotinya lewat pemakaian BBM dan listrik yang bersubsidi dengan boros?
Bandingkan dengan negara-negara di Skandinavia, disana Pajak Penghasilan untuk orang pribadi bisa mencapai 60%, dengan fasilitas biaya pendidikan dan kesehatan gratis, dan harga BBM dan Listrik tidak disubsidi. Sedangkan di Indonesia, pajak penghasilan besarnya, paling tinggi hanya sampai 35% (dan rencananya akan diturunkan), dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan sebagian gratis, dan harga BBM dan Listrik masih disubsidi.
Memang ini bukan perbandingan yang sempurna, tapi setidaknya menggambarkan upaya yang telah dilakukan pemerintah.
Terakhir saya hanya bisa berpesan, hadapilah realita (kita adalah Warga Negara Indonesia atau hidup di Indonesia, harga Minyak dunia melonjak tinggi) dengan bijaksana, jangan memanfaatkan ketidak mampuan pemerintah kita, tetap kritisi pemerintah kita agar menjadi lebih baik dan bayarlah pajak dengan benar. Dan Katakan bahwa aku mencintai negeri ini!!!!!
Aku sadar sebagai manusia sering kali khilaf dalam menyikapi hidup yang memang sudah berat ini. Tetapi tidak elegan rasanya kalo kita selalu menuntut dan menuntut tanpa kita bertindak yang lebih arif dan bijaksana. Alangkah baiknya aku lebih membumikan diri daripada terus melihat keatas tanpa kita sadar bahwa masih banyak orang yang lebih susah dibandingkan kita. Atau kita bisa melihat Pak Sugeng, walaupun dia sebagai seorang PNS dengan kehidupannya yang sudah mencukupi tetapi dia lebih memilih berpola hidup sederhana untuk menyiasati kebutuhan hidup yang semakin tinggi ini.
Beruntung aku menyadarinya lebih awal sehingga aku bisa memperbaiki diri lebih cepat. Terima kasih Tuhan, You are the best God I can get.
Jafar, Berharap Rezeki dari Tetesan Air Aren
By : Ing
PANASNYA terik matahari siang, tak membuat langkah Jafar (30) surut. Apalagi, dilihatnya ratusan orang tengah melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Bagi Jafar, di tengah teriknya panas, ratusan orang itu menjanjikan rezeki lebih baginya.
Jafar adalah seorang penjual es aren. Es, yang mungkin jarang kita temui. Tak seperti es doger, es campur ataupun es dawet yang bisa dijumpai di banyak tempat. Modal Jafar hanyalah air aren yang ditempatkannya pada dua batang lodhong (bambu besar). Selain itu, ada dua batang bambu lainnya, untuk menempatkan gelas. Empat batang bambu itu, disatukannya dengan sebuah batang bambu yang berukuran kecil. Membawanya? Dipanggul!
Tak lelahkah Jafar memanggulnya? "Namanya cari rezeki, ya enggak boleh lelah. Kalo panas gini, capek juga sih. Batangnya aja udah berat. Apalagi kalau ada isinya, tambah berat lagi," kata Jafar.
Air Aren, cerita Jafar, hasil dari pengolahan buah Aren. "Itu loh, dari pohon kolang-kaling. Ngolah-nya gimana, saya juga enggak tahu. Saya tiap hari ngambil di pembuatnya di Rangkas Bitung. Kebetulan, saya juga tinggal di daerah itu," ujarnya.
Setiap hari, Jafar membeli air aren dengan modal Rp 30 ribu rupiah. Satu gelas es aren ia jual dengan Rp 2000. Keputusan Jafar memilih berjualan di Jakarta, karena menurutnya di ibu kota jarang dijumpai penjual es aren.
"Banyak yang penasaran, kalau saya bawa-bawa ini. Seperti Mbak jugakan? Haha...Ya lumayan rezekinya. Orang nanya, jual apa Bang. Saya bilang es aren, jadi pada mau ngerasain," ujar mantan buruh pabrik ini.
Dalam sehari, Jafar bisa menjual hampir 30 gelas es aren. Baginya penghasilan yang didapatnya cukup untuk membiayai hidup kedua orangtuanya. "Enggak seberapa, tapi enggak apa-apalah. Masih bisa bantu orang tua. Tapi kalau buat nikah, saya belum berani dengan penghasilan segini. Kerja di pabrik dulu lumayan dapetnya (gaji), tapi di-PHK. Biarlah, sekarang gini yang penting halal," katanya sambil tersenyum.
Biasanya, pukul 4 pagi Jafar sudah meninggalkan Rangkas Bitung, menggunakan KRL menuju ke Stasiun Tanah Abang. Dari Tanah Abang, ia pun berjalan menyusuri Jakarta, berharap kucuran rezeki dari tetesan air aren yang dipanggulnya.
Penasaran? Semoga Anda menemukannya di belantara Jakarta. "Saya muternya kemana-mana. Enggak tentu. Kadang di Blok M, kadang di Senayan, tapi kalo ada aksi saya pasti nguber, banyak yang beli," ujar Jafar.
Kenaikan BBM, Coba Bayangkan?
By : Sugeng Pamilu K - Tangerang
Saya adalah seorang pegawai negeri sipil di sebuah Departemen (yang kata orang basah), tinggal di Tangerang dan kantor saya di daerah Jakarta Selatan. Hampir setiap hari ke kantor naik sepeda motor, meski dirumah ada mobil. Waktu ditanya teman kenapa pakai motor dan saya jawab dengan alasan nasinalisme, hampir semuanya tertawa. Seakan-akan kata nasionalisme, sudah menjadi barang yang lucu saat ini. Karena saya berfikir, kalo saya memakai mobil ke kantor, tiap hari saya membutuhkan bensin premium 10 liter, karena rumah saya jauh dan jalur macet. Sedangkan kalo menggunakan sepeda motor, saya membutuhkan hanya 1 liter bensin premium. Berapa dana subsidi yang saya hemat?
Seperti yang kita ketahui bersama, bensin premium masih disubsidi pemerintah. Anggap saja, tiap liter bensin premium disubsidi pemerintah Rp. 1.000,-, berarti saya menghemat Rp. 9.000,- sehari, sebulan (22 hari kerja) = Rp. 9.000,- X 22 = Rp. 198.000,-. Setahun = 12 X Rp. 198.000,- = Rp. 2.376.000,-.
Bayangkan jika dilakukan seribu orang, sejuta dan seterusnya tinggal dikalikan saja. Angka subsidi Rp. 1.000,- per liter, saya mengacu kepada harga premium di Malaysia yang sekitar Rp. 7.500,-. Dan perlu diingat pula, bahwa subsidi yang kita nikmati bukan cuma dari BBM saja, dari listrik juga. Dari angka-angka diatas, subsidi yang diterima oleh pengguna mobil yang memakai premium sebulan, dengan kebutuhan premium sebanyak 5 liter sehari = 5 X Rp. 1.000,- X 30 hari = Rp. 150.000,-, yang berarti lebih besar dari Bantuan Langsung Tunai yang diterima kaum Dhuafa negeri ini, sambil desak-desakkan kepanasan di depan kantor pos. Coba pembaca bayangkan? Sedangkan pemakai mobil, memanfaatkan subsidi dengan pakaian rapi, mobil yang ber ac, wangi dan seterusnya.
Saya juga ngak yakin apakah para pendemo kenaikan harga BBM itu tidak memanfaatkan subsidi BBM tersebut. Sekali lagi, bukannya saya mendukung kenaikan BBM atau tidak. Manusiawi kalau kita ingin harga-harga kebutuhan kita murah dan terjangkau. Tapi kalau harga minyak dunia juga tinggi, dan kita bukanlah negara pengekspor minyak bahkan pengimpor BBM, realitas itu harus kita hadapi dengan bijaksana. Kalau kita memaksa untuk meningkatkan produksi minyak demi konsumsi kita, apa yang kita tinggalkan buat generasi mendatang? Ingat minyak bukanlah sumber daya alam yang dapat diperbaharui!!
Sekarang ini, banyak para pemakai kendaraan yang dulunya menggunakan Pertamax (yang harganya tidak disubsidi), sekarang ikut-ikutan menggunakan premium (yang harganya masih disubsidi). Kalau kita berpendapat bahwa memakai premium kan tidak dilarang? Itu memang benar. Salah pemerintah tidak dapat mengatur pembatasan pembelian premium untuk kendaraan pribadi? Benar pemerintah kita tidak mampu mengaturnya. Pemerintah belum dapat menyediakan angkutan umum yang bersih, lancar dan aman? Hal ini memang benar juga Tapi yang perlu diketahui dan diingat saya mencintai negara ini dan masa depannya. Dan saya harap kita semua mencintai negara ini dan masa depannya. Jangan memanfaatkan ketidak mampuan pemerintah kita sebagai alasan mengerogotinya melalui subsidi.
Bayangkan, mengatur pemakaian BBM untuk kendaraan di dalam negeri saja pemerintah kita tidak mampu, bayangkan jika harga BBM di negara kita jauh dibawah harga di negara sekitar. Akibatnya penyelundupan BBM akan meningkat pesat, dan pemerintah kita pasti kewalahan (tidak mampu) untuk mengatasinya. Untuk adilnya, bandingkan antara Pajak Penghasilan yang kita bayar dengan subsidi yang kita (keluarga kita) nikmati. Kalau masih lebih besar pajak penghasilan, saya sebagai Warga Negara Indonesia mengucapkan terima kasih. Seperti yang kita ketahui bahwa 70% Penerimaan negara kita berasal dari pajak. Sedangkan pengeluaran untuk subsidi baik untuk BBM dan Listrik, merupakan hampir 30% pengeluaran negara kita. Saya perbandingkan pajak penghasilan, karena jenis pajak inilah sumbangsih kita pada negara tercinta sebenaranya, sedangkan jenis pajak lainnya merupakan imbalan atas konsumsi kita saja.
Pantaskah kita menuntut pemerintah memberikan subsidi lebih, jika kita masih mengerogotinya lewat pemakaian BBM dan listrik yang bersubsidi dengan boros?
Bandingkan dengan negara-negara di Skandinavia, disana Pajak Penghasilan untuk orang pribadi bisa mencapai 60%, dengan fasilitas biaya pendidikan dan kesehatan gratis, dan harga BBM dan Listrik tidak disubsidi. Sedangkan di Indonesia, pajak penghasilan besarnya, paling tinggi hanya sampai 35% (dan rencananya akan diturunkan), dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan sebagian gratis, dan harga BBM dan Listrik masih disubsidi.
Memang ini bukan perbandingan yang sempurna, tapi setidaknya menggambarkan upaya yang telah dilakukan pemerintah.
Terakhir saya hanya bisa berpesan, hadapilah realita (kita adalah Warga Negara Indonesia atau hidup di Indonesia, harga Minyak dunia melonjak tinggi) dengan bijaksana, jangan memanfaatkan ketidak mampuan pemerintah kita, tetap kritisi pemerintah kita agar menjadi lebih baik dan bayarlah pajak dengan benar. Dan Katakan bahwa aku mencintai negeri ini!!!!!
Selasa, Juli 01, 2008
Juli Ceriaa...!!
Begitulah harapanku diawal bulan ini, keceriaan yang kugapai.
Uneg2 Wong Cilik (ini bukan sponsor dari salah satu partai. Betul2 murni curhat pribadi)
Lanjutan judul yang diatas, tetapi apa yang terjadi sejak 2 hari yang lalu televisi sudah mendengung2kan harga gas Elpiji 12 kg bakal dinaikkan tepat tanggal 1 Juli ini. Duh..!! Apalagi yang akan dinaikkan berikutnya setelah BBM, Elpiji? Akankah tarif telepon, listrik, air akan menyusul naik juga?
Belum usai rasanya kami menanggung beban berat biaya kemahalan hidup, kini sudah terbebani kenaikkan yang lain.
Lagi, kenaikan disektor pajak. Kali ini pajak PBB rumahku mengalami kenaikan sekitar 60,5%. Wah, otak orang yang menaikkan pajak PBB itu sadar tidak kalo itu memberatkan masyarakat?! Padahal bangunan rumah yang kami tempati sudah lama, kenapa tidak turun tetapi malah naik? Apa sih kontribusi negara buat kami orang2 swasta? Kami kerja cari sendiri (sulit lagi), makan juga cari sendiri, fasilitas umum pun rata2 bayar!! Sampai buang air di tempat umum pun harus bayar.
Pernah tidak merasa sewot ketika kita parkir sebentar saja atau makan dipinggir jalan dan bisa melihat sekaligus mengawasi kendaraan kita, tiba2 tukang parkir menghampiri dan meminta uang parkir. Atau foto copy selembar dua lembar harus membayar biaya parkir lebih mahal dari harga foto copy-annya. Sudah begitu bila terjadi kerusakan atau kehilangan pihak pengelola parkiran tidak mau menanggung resikonya. Mereka cuma mau uangnya saja tanpa mau bertanggung jawab. Padahal kami sudah membayar uang parkir dan pajak.
Ada lagi ketika diminta karcis parkir mereka tidak punya, berarti parkir liar donk. Mau melawan sepertinya buang tenaga saja karena pasti mereka akan memaki2 dengan segala umpatan yang menyakitkan. Ya sudah akhirnya mengalah saja daripada ribut. Tetapi koq tidak ada penertiban parkir2 liar seperti itu yaa?? Aparat penertibannya pada kemana?
Atau ini salah satu gambaran sulitnya mencari pekerjaan di negeri tercinta ini. Sehingga yang seharusnya bebas dari pungutan liar dijadikan ajang mencari uang. kalo sudah seperti ini akhirnya cuma bisa ikhlas saja memberi, anggap saja beramal. (Titik !!)
By the way, pungutan pajak dimana2; bayar rek. listrik, telepon, belanja di super market, makan di restoran bahkan simpan uang di bank pun terkena pajak!! Kapan sih negeri ini (aparatnya) berhenti membuat rakyatnya sengsara?
Kalo saja kami ini digaji seperti orang2 di luar negeri sana, walaupun harga2 mahal tetapi kita masih bisa menjangkaunya. Tapi apa yang terjadi disini, digaji murah biaya hidup mencekik leher. Bagaimana rakyatnya bisa hidup dengan sejahtera kalo apa2nya serba mahal.
Gimana anak2 mau jadi pinter kalo biaya sekolah saja mahal. Apakah sekolah hanya milik anak2 dari keluarga mampu saja yang bisa sekolah tinggi? Terus bagaimana dengan anak2 dari golongan orang yang kurang/tidak mampu, apakah mereka hanya cukup sekolah sampai tingkat SD, SMP atau bahkan tidak bisa bersekolah sama sekali karena tidak mempunyai biaya? Ini tidak adil.
Rasanya negeri ini semakin jauh dari kemakmuran, semakin mundur dan semakin kacau.
Apa yang salah dari negeri ini, sistemnya kah atau pemerintahannya kah, atau orang2 yang semakin brutal dengan segala aksi2 demonya yang selalu mengatas namakan rakyat, padahal kami tidak merasakan apa2 dari segala perbuatan itu. Malah kami tidak bersimpati melihat aksi2 demo brutal tersebut. Atau aku yang salah menganalisa tentang negeri ini dengan segala yang terjadi? Maklum, pengamat amatiran. Kalopun ada salah2 mohon dikoreksi dan dimaafkan. Ini uneg2 pribadiku sebagai masyarakat awam & merasa tertindas dengan keadaan sekarang ini. Mahal mahal mahal dan kemahalan hidup yang kami rasakan saat ini. Hmm...
Uneg2 Wong Cilik (ini bukan sponsor dari salah satu partai. Betul2 murni curhat pribadi)
Lanjutan judul yang diatas, tetapi apa yang terjadi sejak 2 hari yang lalu televisi sudah mendengung2kan harga gas Elpiji 12 kg bakal dinaikkan tepat tanggal 1 Juli ini. Duh..!! Apalagi yang akan dinaikkan berikutnya setelah BBM, Elpiji? Akankah tarif telepon, listrik, air akan menyusul naik juga?
Belum usai rasanya kami menanggung beban berat biaya kemahalan hidup, kini sudah terbebani kenaikkan yang lain.
Lagi, kenaikan disektor pajak. Kali ini pajak PBB rumahku mengalami kenaikan sekitar 60,5%. Wah, otak orang yang menaikkan pajak PBB itu sadar tidak kalo itu memberatkan masyarakat?! Padahal bangunan rumah yang kami tempati sudah lama, kenapa tidak turun tetapi malah naik? Apa sih kontribusi negara buat kami orang2 swasta? Kami kerja cari sendiri (sulit lagi), makan juga cari sendiri, fasilitas umum pun rata2 bayar!! Sampai buang air di tempat umum pun harus bayar.
Pernah tidak merasa sewot ketika kita parkir sebentar saja atau makan dipinggir jalan dan bisa melihat sekaligus mengawasi kendaraan kita, tiba2 tukang parkir menghampiri dan meminta uang parkir. Atau foto copy selembar dua lembar harus membayar biaya parkir lebih mahal dari harga foto copy-annya. Sudah begitu bila terjadi kerusakan atau kehilangan pihak pengelola parkiran tidak mau menanggung resikonya. Mereka cuma mau uangnya saja tanpa mau bertanggung jawab. Padahal kami sudah membayar uang parkir dan pajak.
Ada lagi ketika diminta karcis parkir mereka tidak punya, berarti parkir liar donk. Mau melawan sepertinya buang tenaga saja karena pasti mereka akan memaki2 dengan segala umpatan yang menyakitkan. Ya sudah akhirnya mengalah saja daripada ribut. Tetapi koq tidak ada penertiban parkir2 liar seperti itu yaa?? Aparat penertibannya pada kemana?
Atau ini salah satu gambaran sulitnya mencari pekerjaan di negeri tercinta ini. Sehingga yang seharusnya bebas dari pungutan liar dijadikan ajang mencari uang. kalo sudah seperti ini akhirnya cuma bisa ikhlas saja memberi, anggap saja beramal. (Titik !!)
By the way, pungutan pajak dimana2; bayar rek. listrik, telepon, belanja di super market, makan di restoran bahkan simpan uang di bank pun terkena pajak!! Kapan sih negeri ini (aparatnya) berhenti membuat rakyatnya sengsara?
Kalo saja kami ini digaji seperti orang2 di luar negeri sana, walaupun harga2 mahal tetapi kita masih bisa menjangkaunya. Tapi apa yang terjadi disini, digaji murah biaya hidup mencekik leher. Bagaimana rakyatnya bisa hidup dengan sejahtera kalo apa2nya serba mahal.
Gimana anak2 mau jadi pinter kalo biaya sekolah saja mahal. Apakah sekolah hanya milik anak2 dari keluarga mampu saja yang bisa sekolah tinggi? Terus bagaimana dengan anak2 dari golongan orang yang kurang/tidak mampu, apakah mereka hanya cukup sekolah sampai tingkat SD, SMP atau bahkan tidak bisa bersekolah sama sekali karena tidak mempunyai biaya? Ini tidak adil.
Rasanya negeri ini semakin jauh dari kemakmuran, semakin mundur dan semakin kacau.
Apa yang salah dari negeri ini, sistemnya kah atau pemerintahannya kah, atau orang2 yang semakin brutal dengan segala aksi2 demonya yang selalu mengatas namakan rakyat, padahal kami tidak merasakan apa2 dari segala perbuatan itu. Malah kami tidak bersimpati melihat aksi2 demo brutal tersebut. Atau aku yang salah menganalisa tentang negeri ini dengan segala yang terjadi? Maklum, pengamat amatiran. Kalopun ada salah2 mohon dikoreksi dan dimaafkan. Ini uneg2 pribadiku sebagai masyarakat awam & merasa tertindas dengan keadaan sekarang ini. Mahal mahal mahal dan kemahalan hidup yang kami rasakan saat ini. Hmm...
Sabtu, Juni 21, 2008
Menumbangkan Mimpi Indah

Senin, 30 Juni 2008
Akhirnya mimpi indah yang kuharapkan tumbang juga. Tengah malam tadi, final Euro 2008 digelar, Jerman vs Spanyol dan dimenangkan oleh Spanyol 1-0.
Sehari sebelumnya, Sabtu 29 Juni di Assen Circuit Belanda tengah berlangsung balap MOTOGP. Tentunya aku ga absen nonton donk.
Dengan perasaan was2 aku mengikuti acara tersebut. Start dimulai, dengan posisi start pertama oleh Casey Stoner, kedua Valentino Rossi, ketiga Dani Pedrosa.
Aku tidak bergeser kemana2 dengan dada berdegup kencang tetap memelototi race tersebut. Akhirnya gubrak! Rossi terjatuh pada lap. pertama. Mengejar dan mengejar akhirnya Rossi hanya finis diurutan 11.
Duh, kecewa sekali melihat jagoanku tidak masuk finis diurutan terhormat.
Dan lengkaplah sudah kesedihan dan kekecewaanku mengakhiri postingan di bulan Juni ini dengan segunung perasaan kecewa.
Moga2 saja ada seberkas keceriaan yang kudapat di bulan depan esok. Semoga...!!
Sabtu, 28 Juni 2008
Sembari nunggu hasil final Euro 2008, iseng2 aku tulis percakapan singkatku dengan keponakanku.
Keponakan : tante, Tuhan itu ada ga?
Aku : Ada
Keponakan : Tuhan ada dimana?
Aku : diatas langit
Keponakan : Tuhan itu agamanya apa, tante?
Aku : hmmm... (aku t'diam tanpa menjawab)
Keponakan : tante, Tuhan agamanya apa??
Aku : Islam (karena kami beragama Islam)
Pertanyaan seperti ini sering sekali terlontar dari mulut anak2. Yang paling repot kalo ditanyain Tuhan itu beragama apa. Karena kami beragama Islam, ya aku jawab Tuhan itu beragama Islam.
Bagi yang kurang berkenan dengan tulisanku ini, aku mohon maaf yang sebesar2nya.
Kamis, 26 Juni 2008
Cihuuyy.... Jerman masuk final Euro 2008
Hari ini aku telat masuk kantor gara2 nonton pertandingan sepak bola dini hari tadi, Jerman vs Turki.
Dini hari nanti giliran Spanyol vs Rusia
Senin, 23 Juni 2008
Seperti terkena kutukan sendiri dengan judul diatas "Menumbangkan Mimpi Indah", ternyata tim Oranje kesebelasan Belanda tersingkir oleh kekuatan tim Kuda Hitam Rusia. Dan keesokkan harinya menyusul Italia ditundukkan oleh tim matador Spanyol. Waduh... bener2 bikin keki. Hik hik hik..... I am so sad. Besok2 musti lebih berhati2 dalam memilih judul. Biar ga kualat. Hihihi....
Ngomong2, tinggal tim Jerman nih yang jadi jagoanku untuk melangkah kebabak semifinal. Mudah2an bisa masuk final & juara. Amiiin....
Sabtu, 21 Juni 2008
Luar biasa, setelah kemenangan Jerman atas Portugal, kini Turki menumbangkan mimpi indah Kroasia dari ajang Euro 2008 ini. I am quite happy with this results . Siapa yang sangka lawan mereka adalah tim2 yang diatas kertas lebih unggul dan banyak dijagokan orang, tetapi ternyata bisa dihentikan langkahnya disaat Jerman & Turki mulai berada diujung tanduk. Wow... bener-bener di luar dugaan. Maju terus sampai titik keringat penghabisan.
Dini hari nanti giliran Belanda vs Rusia yang akan berlaga dilanjutkan dini hari keesokkan harinya Spanyol vs Italia. Semakin mendebarkan, siapa yang bakal lolos ke babak semifinal?
Tetap ikuti & aku pasti akan mengikuti perjalanan mereka hingga mencapai babak akhir, final Euro 2008
Senin, Juni 16, 2008
Sabtu, Juni 14, 2008
Tulisan Yang Ga Penting
Kamis, Juni 12, 2008
Curhat Previous Ex...( ? )
Pagi tadi, lagi2 ponselku bikin aku t'bangun di pagi buta. Kali ini yang buat ulah mantan pacarku.
"gila kamu, jam berapa ini?" kataku seraya meletakkan ponsel ditelingaku. "belum bangun Lel?", tanyanya kemudian. "ya belum lah, kamu denger sendiri kan suaraku serak".
Setelah b’basa-basi, aku tanya ke dia. "Ada apa nih, tumben2nya nelpon pagi2 buta begini?"
“Ga ada, cuma pingin ngobrol ama kamu aja”, kata dia. “Yang bener ga ada apa2 nih?” tanyaku balik ke dia. Dia t’diam sejenak, kemudian b’cerita :
“Aku pusing Lel. Usahaku macet, kreditku di bank masih numpuk. Rencanaku aku mau jual rumah & mobil untuk nutupi hutang2ku itu, daripada warisanku yang dieksekusi bank kan mending aku jual rumah dan mobil, Lel. Lagi pula nilai jualnya lebih tinggi warisan itu dibanding rumah & mobilku. Tapi yang jadi masalah istriku ga menyetujui rencanaku itu. Padahalkan hartaku cuma itu selain uang simpanan. Kalo aku ga jual rumah & mobil lantas aku mau bayar pake apa hutang2 itu. Aku udah bilang sama istriku, untuk sementara kita kontrak rumah dulu & mobil yang satunya ga aku jual karena itu untuk transportasi kami. Tapi dia tetep ga mau. Maunya istriku sih aku disuruh cari jalan lain dulu. Jangan sampe jual2 gitu, katanya. Pikiranku buntu, apa aku harus ngepet aja ya Lel..?” kata dia sambil b'canda. “Gila kamu, stupid idea tau.., dosa!” sergahku. “Abis aku bingung ga tau lagi harus b’buat apa”. “Cobalah kamu ngomong lagi sama istri kamu, kasih dia pengertian. Toh, kalian masih punya uang simpanan untuk melanjutkan hidup, sebelum kamu memulai usaha yang baru. Istri kamu juga bekerja kan…, jadi apa yang dikhawatirkan kalo masih ada sumber yang lainnya” kataku meyakinkan dia. “Istriku terlalu sayang sama harta kali”, celetuk dia asal menjawab.
“Ya udah, kamu sekarang usaha dulu, aku yakin pasti kamu bisa. Kan kamu orangnya pantang menyerah. Cobalah, aku bantu dengan doa disini” lanjutku, memberi semangat ke dia. “Okelah…, moga2 aku bisa & b’hasil. Thanks Lel, udah b’sedia dengerin ceritaku & thanks buat doa kamu. Kamu memang mantan yang t’baik yang aku punya”, kata dia mulai menggombal. “Sialan kamu…” jawabku balik. Sambil ketawa kecil dia bilang: Hehehe..., sayang kita dulu putus ya”. Tanpa pikir panjang aku tangkis omongan dia, “Aku yang ogah, buntut2nya kamu warisin utang kayak sekarang. Hahaha.., ahh.. udahlah ga usah diungkit2 lagi masa lalu, toh kamu yang b'ulah duluan dulu. Forget it, move on”, kataku kemudian. Hehehe…. Kami ketawa bareng2 sambil menutup pembicaraan pagi itu. Wish you luck
"gila kamu, jam berapa ini?" kataku seraya meletakkan ponsel ditelingaku. "belum bangun Lel?", tanyanya kemudian. "ya belum lah, kamu denger sendiri kan suaraku serak".
Setelah b’basa-basi, aku tanya ke dia. "Ada apa nih, tumben2nya nelpon pagi2 buta begini?"
“Ga ada, cuma pingin ngobrol ama kamu aja”, kata dia. “Yang bener ga ada apa2 nih?” tanyaku balik ke dia. Dia t’diam sejenak, kemudian b’cerita :
“Aku pusing Lel. Usahaku macet, kreditku di bank masih numpuk. Rencanaku aku mau jual rumah & mobil untuk nutupi hutang2ku itu, daripada warisanku yang dieksekusi bank kan mending aku jual rumah dan mobil, Lel. Lagi pula nilai jualnya lebih tinggi warisan itu dibanding rumah & mobilku. Tapi yang jadi masalah istriku ga menyetujui rencanaku itu. Padahalkan hartaku cuma itu selain uang simpanan. Kalo aku ga jual rumah & mobil lantas aku mau bayar pake apa hutang2 itu. Aku udah bilang sama istriku, untuk sementara kita kontrak rumah dulu & mobil yang satunya ga aku jual karena itu untuk transportasi kami. Tapi dia tetep ga mau. Maunya istriku sih aku disuruh cari jalan lain dulu. Jangan sampe jual2 gitu, katanya. Pikiranku buntu, apa aku harus ngepet aja ya Lel..?” kata dia sambil b'canda. “Gila kamu, stupid idea tau.., dosa!” sergahku. “Abis aku bingung ga tau lagi harus b’buat apa”. “Cobalah kamu ngomong lagi sama istri kamu, kasih dia pengertian. Toh, kalian masih punya uang simpanan untuk melanjutkan hidup, sebelum kamu memulai usaha yang baru. Istri kamu juga bekerja kan…, jadi apa yang dikhawatirkan kalo masih ada sumber yang lainnya” kataku meyakinkan dia. “Istriku terlalu sayang sama harta kali”, celetuk dia asal menjawab.
“Ya udah, kamu sekarang usaha dulu, aku yakin pasti kamu bisa. Kan kamu orangnya pantang menyerah. Cobalah, aku bantu dengan doa disini” lanjutku, memberi semangat ke dia. “Okelah…, moga2 aku bisa & b’hasil. Thanks Lel, udah b’sedia dengerin ceritaku & thanks buat doa kamu. Kamu memang mantan yang t’baik yang aku punya”, kata dia mulai menggombal. “Sialan kamu…” jawabku balik. Sambil ketawa kecil dia bilang: Hehehe..., sayang kita dulu putus ya”. Tanpa pikir panjang aku tangkis omongan dia, “Aku yang ogah, buntut2nya kamu warisin utang kayak sekarang. Hahaha.., ahh.. udahlah ga usah diungkit2 lagi masa lalu, toh kamu yang b'ulah duluan dulu. Forget it, move on”, kataku kemudian. Hehehe…. Kami ketawa bareng2 sambil menutup pembicaraan pagi itu. Wish you luck
Langganan:
Postingan (Atom)

