Senin, Maret 21, 2011

Postingan Maret

Hmm... menjelang akhir Maret aku belum punya postingan baru. Tidak ada hal yang menarik untuk diceritakan, tetapi seperti suatu kewajiban aku harus mengisi blog tiap bulannya. Serasa mempunyai hutang bila terlewatkan, meski hanya satu postingan saja itu sudah cukup.
Memang tidak mudah bercerita, walau terkadang khayalanku (cerita) sudah ada untuk dituangkan disini. Ada saja yang membuatku gagal "nggedabrus" disitus ini. Kalo ga masalah internet yang lelet, daya khayalku (baca : mengarang-red!) tiba-tiba saja macet yang tidak kuketahui alasannya. (Woo... si kambing hitam lagi-lagi menjadi alasan). Hehe...

Begini, (pemaksaan cerita nih). Sabtu 12 Maret lalu jam 08.00 wib aku ke Jakarta. Tiga hari di sana cukup untuk melepas kejenuhan. Ada suatu acara yang harus kuhadiri, sekalian refreshing lah karena sudah setahun setengah aku tidak cuti.

Tiba di Cengkareng jam 08.55 wib
Jakarta pagi hari di hari Sabtu, masih terasa lengang karena sebagian kantor libur. Praktis tidak ada kendala macet, taksi yang kutumpangi meluncur mulus dan tiba ditujuan masih jam 10.00 wib.
Acara jam 11.00 wib molor hingga baru mulai selepas adzan Dzuhur. Setelah acara kelar barulah sorenya aku jalan-jalan menyusuri ibukota yang macet bin bundet itu. Malam minggu ketemu teman... kita jalan rame-rame ke Blok M dan makan malam di Kebayoran Baru.
Keesokan harinya jadwal jalan-jalan masih berlanjut. Inginnya ke Dufan (tempat favoritku nih bila ke Jakarta. Hehe... Kayak anak kecil ya?), tapi tidak jadi karena siang Jakarta diguyur hujan. Akhirnya ke Mangga Dua setengah harian dilanjut ke Plaza Indonesia, EX, Grand Indonesia hingga ke Kebon Kacang makan nasi uduk. Aku yang masih penasaran ama nasi uduk yang konon kabarnya top banget itu, akhirnya kesampaian juga makan di sana. Ternyata rasanya tidak istimewa seperti yang kubayangkan. Standard saja!
Di Mangga Dua kusempet-sempetin belanja, di PI dan sekitarnya cuma lihat-lihat saja, gila pa mau belanja disitu? Harganya selangit!
Setelah jalan-jalan dan makan aku pulang ke rumah saudaraku. Hari sudah malam, tapi aku harus mandi karena badan lengket semua. Setelah selesai mandi aku diajak saudaraku ke Depok untuk melihat anaknya (keponakanku) yang buka klinik 24 jam disana. Dalam perjalanan ke Depok mataku rasanya lengket. Ngantuk banget! Tapi kupaksakan saja ikut, mumpung disana sekalian nengok keponakan.
Akhirnya sampai juga di kliniknya. Wah... ga terasa ponakanku sudah dewasa dan memulai kehidupan dengan menjadi seorang dokter. Moga-moga dia berhasil menyumbangkan ilmunya bagi masyarakat sekitar. Amien....

Hari Senin aku pulang. Mampir ke Senayan dulu sebelum ke bandara. Terpaksa pulang siang karena tiket pesawat yang kudapat jadwal keberangkatannya siang hari. Delay satu jam... membuatku harus makan siang di bandara terminal 3. Susananya agak sepi karena di situ cuma AirAsia dan keberangkatan haji saja.

Hari ini cuaca diluar begitu panas. Waktunya makan siang sekarang, tapi aku malas mau keluar. Padahal perut dah keroncongan. Mana lagi mata ngantuk karena semalam aku begadang nunggu gelaran pertama 2011 MotoGP di Losail Qatar. Rossi, Rossi... bangkitlah!
Belakangan ini aku sering bangun tengah malam, seperti ada yang ngebangunin saja. Apalagi kalo aku sudah berniat nonton sepakbola... tiba-tiba saja mataku langsung terbangun pada jam event bola itu berlangsung. Iya ya... Liga Champions Eropa sedang berlangsung dan bulan April depan sudah memasuki perempat final. Aku senang jagoanku Real Madrid bisa menundukkan Olimpique Lyon. Begitupun Barcelona bisa menghempaskan Arsenal dienambelas besar. Sama-sama maju diperempat final dan beruntung dalam undian mereka tidak bertemu dibabak tersebut.

Aku lapar. Diluar panas, mau keluar males. Tapi kalo ga keluar perutku melilit minta diisi. Moga-moga panas terik ini bukan pertanda hujan badai nantinya. Biasanya seperti itu, siang panas terik sorenya hujan lebat. Kayak Sabtu lalu... hujan angin plus petir malam harinya.

Sabtu, Februari 26, 2011

Salah Kostum

Berkaitan undangan pada tanggal 24 Februari lalu, akhirnya aku bisa juga memenuhi undangan tersebut. Aku ijin tidak masuk kerja pada hari itu.

Undangan kuterima melalui sms tanggal 22 Februari pagi. Tidak disebutkan harus memakai baju apa? Karena itu aku memilih baju sedikit santai (blus lengan panjang krem bercorak bunga dan celana panjang coklat tua) plus sepatu coklat muda dan tas kecil warna senada. Wajahku kudandani ala kadarnya tanpa blush on, eye shadow, eyeliner, ataupun pensil alis. Wajahku hanya kututupi dengan bedak yang sebelumnya dialasi pelembab dan foundation. Aku termasuk orang yang kurang suka berdandan. Ini terbukti dari lipstick yang kupunya cuma satu, bedak satu. Tidak punya blush on, eye shadow, eyeliner, dan juga pensil alis. Alisku pun tidak kucukur seperti kebanyakan wanita lain. Apa adanya, yo opo anane ngene…!? Stop sampai disitu tentang dadanan minimalisku.
Berangkat ke gedung utama UGM, ternyata aku salah kostum. Seharusnya baju yang dikenakan : wanita memakai kain panjang / sarung (semacam kebaya modern begitulah) dan pria-nya memakai stelan jas. Haah…?? Aku sudah terlanjur memakai baju yang kusebutkan tadi. Agak malu saat aku memasuki ruangan yang sudah mulai banyak tamunya itu. Kulihat sekitarnya memang memakai busana yang sudah ditentukan. Dengan muka kucuek-cuekin, aku, kakak dan istrinya duduk dibagian tengah yang sudah duluan ada adik + istrinya serta saudaraku. Aku berangkat bersama kakakku dan istrinya yang juga sama-sama salah kostum (kakakku memakai kemeja batik lengan panjang) dan istrinya memakai baju muslim gamis. Lumayanlah kakak iparku ga begitu kelihatan saltum dibanding aku memakai celana panjang.
Kulihat beberapa saudaraku yang lain sudah berada dideretan depan, kami sapa mereka sambil berjabat tangan.
Rupanya adik iparku tahu, bila busana yang harus dikenakan ada ketentuannnya. Tapi dia pikir kami sudah mengetahui hal itu. Dan geeeerrr…. Kami tertawa kecil akan kejadian tersebut.
Pukul 10.00 WIB, upacara Pengukuhan Guru Besar dimulai. Agak berbeda dari upacara wisuda S1 dan S2 yang pernah kulihat. Ini yang dikukuhkan cuma satu orang. Tidak ada sambutan pidato dari rektor ataupun dekan. Pidato satu-satunya hanyalah dari sang Guru Besar yang akan dikukuhkan itu.
Sekitar 10 menit berlalu setelah acara dibacakan para guru besar (termasuk beberapa undangan guru besar universitas dari Aceh, Kalimantan, Bandung, Semarang, Surabaya) memasuki ruangan senat.
Tiba saatnya kakak sepupuku membacakan pidatonya di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada. Judul pidatonya : “KEPATUHAN PENERAPAN STANDAR MUTU UNTUK MEWUJUDKAN STANDARD MINDED PENYELENGGARAAN JALAN DAERAH”.
20 menit berlalu aku masih mengikuti pidatonya dengan baik. Bergeser pada menit-menit selanjutnya aku mulai mengantuk. Mungkin ini akibat bangun terlalu malam (dini hari). Dan juga aku tidak mengerti masalah teknik bangunan jalan, jembatan, bandara dan tentang transportasi, mulailah aku merasa jenuh. Ditambah suasana ruangan yang sejuk karena hembusan ac menyelimuti rungan. Kulihat beberapa tamu lainnya juga mengalami hal serupa denganku.
Hampir satu jam akhirnya pidato itu selesai juga. Para guru besar meninggalkan ruangan dilanjutkan pemberian ucapan selamat kepada kakak sepupuku yang sudah sah menyandang gelar Profesor didepan namanya dalam usia 45 tahun. Lengkap sudah gelar akademisnya hingga jenjang tertinggi. Memang layak dia menyandang gelar tersebut. Orangnya rajin, cerdas dan berkemauan keras untuk mencapai suatu tujuan. Selalu lulus berpredikat cum laude sejak S1, S2, S3.
Acara ditutup dengan jamuan makan siang ala standing party di gedung pertemuan Kagama dengan hiburan pameran batik + fashion show batik, alunan biola dan piano, serta tidak ketinggalan gamelan Jawa. Sekitar 1500 tamu undangan memadati gedung pertemuan tersebut memberi ucapan selamat pada sang empunya gawe.

Senin, Februari 21, 2011

Kondangan Dan Film Hollywood

Intermezzo :
Pergi kondangan kemarin siang. Waktunya dandan ribet dan siap-siap jawab pertanyaan yang itu-itu saja. Kenapa? Apalagi kalo bukan pertanyaan : "Kapan nih?" - Maksudnya, kapan undangannya? Yang berarti, kapan aku menikah?
Sejujurnya aku malas pergi kondangan. Malas dengan basa-basi bila bertemu orang yang menanyakan seperti yang kukatakan diatas. Tapi apa mau dikata, undangan kemarin dari seorang teman. Tidak datang ga enak. Ntar kalo ketemuan pasti nanyain, "koq ga datang waktu nikahanku?"
Begitulah, akhirnya aku melangkahkan kaki pergi memenuhi undangan temanku itu. Benar saja, ketika aku bertemu teman di sana mereka menanyakan hal itu. Jawaban yang sudah ada di kepala kukeluarkan. "Tunggu aja, tinggal tulis nama mempelai laki-lakinya diundangannya", jawabku santai sambil tersenyum...
------ tanggal 24 Februari 2011, undangan upacara pengukuhan kakak sepupu sebagai Guru Besar UGM - Fakultas Teknik (Tek. Sipil), di Balai Senat UGM, gedung pusat UGM, sayap utara lantai 2 - UGM. Semoga aku dapat menghadiri acara tersebut.

Daaag.... Hollywood !!

Ribut-ribut ngomongin Hollywood mau boikot Indonesia dari import film-nya. Kenapa takut? Kenapa harus ngomel-ngomel? Emang bisa mati kalo ga nonton film dari sana? Udah saatnya kita punya sikap atas arogansi Hollywood selama ini. Kita telah didikte, diatur oleh mereka! Kesenjangan antara industri film dalam negeri yang tidak imbang. Pajak industri film dalam negeri lebih besar dibanding pajak film Hollywood / film import.



Inilah penyebab pemerintah menaikkan pajak impor film :

Pajak film impor lebih murah daripada pajak film nasional. Pajak impor cuma dibebani per satu kopi film, yakni Rp 1 juta per kopi. Rata-rata film impor menyetor lebih kurang Rp 15 juta per judul untuk 15 kopi film. Dalam 12 tahun terakhir, film asing yang diimpor rata-rata 180 judul dengan total kopi sekitar 2.500 kopi sehingga rata-rata hanya 15 kopi per judul.

Sementara itu, film nasional harus membayar pajak untuk beberapa hal, mulai dari bahan baku, peralatan produksi, pajak atas artis, karyawan, pajak saat proses produksi, pajak pasca-produksi, dan untuk penggandaan kopi film. Jadi, jika dihitung, maka produser film nasional harus menyiapkan 10 persen lebih untuk pajak. Film seperti Laskar Pelangi atau Ayat-Ayat Cinta yang biaya produksinya Rp 5 miliar harus mengeluarkan pajak senilai Rp 500 juta.

Di Thailand, pajak film menggunakan sistem per meter panjang film tersebut. Angkanya 1 dollar AS per meter. Rata-rata setiap kopi film impor mengeluarkan 3.000 dollar AS per kopi atau lebih kurang Rp 30 juta. Itu artinya 30 kali lipat lebih besar dari pajak yang dipungut oleh Pemerintah Indonesia.

So..., sadarlah!! Jangan cengeng hanya karena Hollywood ga ngedarin filmnya di sini.

Senin, Februari 14, 2011

Palentinan...?? :(

Ga semestinya menanyakan hal bodoh!
Sebeeeeeeeeeeeeeelllllllllll.....!! Kepancing ma manusia GeNit... Hahaha





Jadwal Liga Champions (16 besar) :
AS Roma vs Shakhtar Donetsk, AC Milan vs Tottenham Hotspur, Valencia vs Schalke 04, Inter Milan vs Bayern Munich, Olympique Lyon vs Real Madrid, Arsenal vs Barcelona, Olympique Marseille vs Manchester United, dan FC Copenhagen vs Chelsea.

Leg pertama tanggal 15-16 dan 22-23 Februari 2011. Leg kedua pada 8-9 dan 15-16 Maret 2011. Pertandingan menggunakan sistem home and away.

Kamis, Februari 10, 2011

Negeri Barbar

Beberapa hari lalu kita lagi-lagi dikejutkan aksi anarkis sekelompok orang di Cikeusik, Pandeglang, Banten. Bentrokan antara warga dan jamaah Ahmadiyah mengakibatkan 3 orang tewas, rumah jamaah Ahmadiyah dihancurkan sekelompok manusia yang mengatas namakan agama. Begitu beringas dan menyeramkan kulihat wajah-wajah mereka tersorot kamera tv. Tangan mengacung keatas membawa pentungan, golok, leher berkalung sorjan, kepala/wajah ditutupi sorjan, ada pula yang tanpa atribut seperti itu, mereka seraya melafadzkan nama Tuhan sambil menghajar kaum lawan tanpa peri kemanusiaan. Ckckck… sungguh pemandangan yang amat menakutkan!
Keesokkan harinya, tanpa sengaja aku membaca berita disebuah surat kabar online bahwa terjadi lagi aksi kekerasan di Temanggung. Pemicunya adalah seorang yang bernama Antonius Richmon Baweyang pria Manado yang datang dari Jakarta mengedarkan selebaran yang menyinggung umat Muslim setempat. Oleh Pengadilan setempat dia hanya dihukum 5 tahun penjara. Warga merasa kurang puas atas putusan hakim dan terjadilah amuk massa yang anarkis. Sasarannya kantor Pengadilan, rumah ibadah, sekolah, dan kendaraan warga, mobil polisi dihancurkan. Persis ulah para bar-bar ; anarkis, kejam dan beringas.
Mulailah aku gelisah melihat berita-berita itu sambil ngedumel…. Dasar malu-maluin agama saja perbuatan mereka!? Brutal, tidak mencerminkan seorang yang beragama. Apa bedanya mereka dengan seorang pembunuh? Benarkah Tuhan mengajarkan demikian? TIDAK !! Mereka saja yang keblinger merasa paling suci, paling benar atas tindakannya. Apa yang mereka buat seolah-olah sudah direstui Tuhan? TIDAK !!
Tidak adakah cara-cara yang lebih halus, sopan, cara-cara yang lebih bermartabat sebagai manusia yang beragama?

Sangat disayangkan mengapa pihak kepolisian tidak bisa meredam amuk massa yang demikian beringas?? Kalah beranikah mereka? Atau sekelompok orang beringas itu (katanya) mendapat dukungan dari orang penting di negeri ini? Semoga saja tidak yaa…
Aku tidak mengerti orang-orang itu. Begitu cepat tersulut amarah mereka dan begitu tololnya orang yang memprovokasi kaum yang berseberangan dengannya.

Pernah suatu ketika (beberapa tahun lalu), seorang temanku yang beda keyakinan makan siang lauk rica-rica babi di depanku. Dengan basa-basi dia minta maaf kepadaku tanpa bergeser dari hadapanku. Kubiarkan saja dia makan makanannya dan aku bergeser dari hadapannya. Hal-hal kecil seperti itu kuabaikan saja karena aku sadar aku hidup dalam lingkungan yang berbeda. Yang penting temanku tidak mengganggu / mempengaruhi / menghina keyakinanku. Akupun tidak lantas emosi karena temanku makan daging babi dihadapanku, kuanggap dia masih sopan dan meminta maaf terlebih dahulu terhadapku.

Lain lagi cerita (masih cerita masa lalu),
Seorang teman lainku yang kebetulan beda keyakinan juga denganku. Dia seorang laki-laki, entah karena dia punya hati terhadapku atau karena alasan lain, sadar atau tidak, dia beberapa kali mengirim sms renungan hariannya kepadaku. Dia sangat tahu, aku ini pemeluk Islam. Awalnya aku membalas dengan hal-hal netral saja karena aku menghormati dia dan agama yang dipeluknya. Tapi lama kelamaan dia seperti tidak tahu diri, tetap mengirim sms sejenis terhadapku. Aku merasa mulai terganggu…, kubilang sama temanku itu kalo dia salah tujuan mengirim sms-sms tersebut, dan aku tekankan kepadanya bahwa aku seorang Muslim! Seketika itu dia tidak menjawab smsku dan langsung menghilang bak ditelan bumi. Salahkah aku bersikap tegas terhadapnya?
Kenapa dia memaksakan diri mencari perhatianku dengan hal seperti itu? Tidakkah dia bisa bersikap arif seperti yang ditunjukkan teman-temanku yang lain yang non Muslim juga? Mereka sama sekali tidak mempengaruhi atau menyinggung hal-hal yang berkaitan tentang agama. Kadang-kadang aku lupa bila bicara dengan mereka, aku merasa seperti bicara dengan orang yang sama keyakinan denganku. Inilah yang kumaksud... indahnya kebersamaan dalam perbedaan. Saling mengerti, menghormati, menghargai dan tidak saling mempengaruhi.

Semoga saja negeri ini bisa aman, damai. Wong berteman ama yang berbeda itu enak juga koq. Nyatanya aku aman-aman saja berdampingan dengan yang berbeda.

Senin, Januari 24, 2011

Senin Pagi

Seperti biasanya aku harus berangkat kerja. Kali ini (entah kali keberapa?) dengan semangat pas-pasan atau boleh dibilang malas aku menjalani kewajibanku sebagai seorang pegawai. Benar saja, aura malas yang terpancar dari dalam diriku membawa energi negatif pada lingkungan sekitarku. Kantor masih sepi, baru aku duluan yang datang. Ternyata teman-temanku lebih malas datangnya daripada aku. Hehehe.... Belum lagi pekerjaan yang tertunda harus segera diselesaikan, ini akibat halangan dari pekerjaan lain yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Tapi, sudahlah... tidak ada gunanya harus berkeluh kesah!

Waah.., satu lagi gangguan terjadi. YM-ku ga bisa online. On off kayak blogku. :D
wess... ta' offline aja.

Senin, Januari 17, 2011

Aku Dan Si Kambing Hitam

Dalam hidup banyak sekali excuse yang aku buat hanya untuk menyelamatkan diri atau lari dari kenyataan, atau menyembunyikan kekurangan atau meluapkan kekecewaan. Telunjukku kerap kali terangkat untuk mencari "batang hidung" lain yang "enak" untuk dinobatkan sebagai "penyebab"
Misalnya :
• Koq telat? ------ Bangun kesiangan!
• Kenapa gaji ga naik-naik? ------ Bosnya pelit / Perusahaan kere!
• Kenapa ga lulus? ------ Dosennya sentimen!
• Kenapa ga bekerja? ------ Susah cari pekerjaan!
• dan lain lain....

Jarang sekali rasanya menunjuk hidung sendiri terlebih dahulu sebelum mencari kesalahan orang lain atau menyalahkan keadaan, atau mencari faktor - faktor luar yang menjadi penyebab turut andil memberikan kontribusi utama akan kegagalan, kekalahan, kesalahan serta hal - hal negatif lain yang melekat, menimpa atau mewujud dalam kehidupanku. Mengapa begitu? Mungkin karena aku tidak mau jujur terhadap diriku sendiri. Mungkin juga aku tidak mau mengakui dan menyadarkan diri sendiri bahwa diluar segala “topeng” yang aku kenakan, aku hanyalah insan yang serba kurang, punya kelemahan dan jauh dari kesempurnaan. Mungkin aku ingin terlihat "mulia" sehingga aku mati-matian menjaga citra diriku agar selalu baik dan karena itu aku mulai melimpahkan kesalahan pada pihak lain. Ah, tidak sepenuhnya seperti itu! Sekalipun aku pernah melakukannya tapi semua itu sudah aku sadari. Aku meralat, aku menyesalinya. Aku mulai belajar menengok terlebih dahulu terhadap diriku, mengoreksi apa yang terjadi pada diriku kemudian perlahan aku mulai melihat “obyek” lain yang tengah menjadi sorotan/masalah. Berusaha untuk berkomentar netral agar tidak memperkeruh keadaan, tapi sialnya bila emosi sedang labil pasti aku terbawa arus yang “menyesatkan”. Lagi-lagi aku harus mencari kambing hitam untuk “memaafkan” sikap tidak terpujiku dengan dalih menjelang/sedang datang bulan, jadi emosi lagi tinggi. (Haah…?).

Bukan hanya aku, Negara ini pun mengalami hal yang sama. Saling menunjuk atas sebuah kesalahan, kekalahan atau kehancuran. Misalnya : saat Timnas Indonesia kalah dalam perhelatan Piala AFF 2010 lalu, banyak pihak saling menuding atas gagalnya Timnas menjadi juara. Gayus bisa kabur dari tahanan berulang-ulang kali “semua” sibuk mencari siapa yang patut disalahkan? Kasus Century ga selesai-selesai… telunjuk (masih) sibuk menyalahkan siapa yang harus bertanggung jawab? Masih banyak lainnya…. Bisa pusing sendiri melihat elit/pengamat politik atau pengamat ini itu, pengacara, dll isinya cuma saling menyalahkan, saling menuding siapa harus bertanggung jawab atas “musibah” yang terjadi? Apalagi berbicara di depan kamera tv, semakin gagah dan perkasanya mereka seolah-olah paling benar apa yang dikatakan. Ada yang bicara dengan nada tinggi dan berapi-api, sehingga kata-kata kasar keluar dari mulut orang yang kabarnya berpendidikan tinggi dan pergaulannya dikalangan terhormat itu. Persis seperti melihat gali atau pemabuk sedang “ngoceh”.

Sesungguhnya, satu yang sering kali aku abaikan kehadirannya adalah hikmah yang terkandung dari setiap peristiwa yang menimpaku. Atau aku yang jadi penyebabnya tidak pernah menyerap dengan baik dan menjadi guru pembimbing hidup kedepan atas semua yang terjadi? Seribu kambing hitam akan dapat kita cari, tapi itu tidak membuat kita mau belajar atas makna yang selalu ada dibalik semua cerita/kisah/masalah.

Inspired by : Fto

Kamis, Desember 30, 2010

Akhir Dari Tahun 2010

Lengkap sudah catatan kekecewaanku di tahun ini.
Dengan skor 2-1 atas kemenangan timnas Indonesia vs Malaysia belum berhasil membawa Piala AFF 2010 kepangkuan Ibu Pertiwi. Agregat skor Malaysia masih lebih unggul dengan mengumpulkan 4 gol pada babak final dalam 2 leg. Sedangkan Indonesia hanya sanggup meraih 2 gol dalam final leg ke 2 tadi malam di stadion GBK. Menang tapi belum juara. Meskipun begitu patut diacungi jempol buat pemain timnas Indonesia karena semalam bermain bagus dan penuh semangat. Suporternya pun tertib dan ini patut diacungi jempol juga! Lautan manusia memakai kaos merah memenuhi stadion GBK Jakarta, bersatu mendukung tim Garuda bertarung melawan tim Harimau Malaya. Takjub melihat kekompakkan mereka. Kolektifitas kebanggaan tercipta dengan sendirinya. Rasa nasionalisme begitu tinggi terpatri di dada mereka. Tidak ada perbedaan suku, budaya, agama ataupun kelompok. Hanya satu yang mereka tuju yaitu membela tim Garuda.
Hebat ! Sungguh hebat. Melalui sepakbola kita dapat menunjukkan persatuan dan kesatuan. Kekhawatiran akan terjadi kerusuhan bila Indonesia kalah tidak terjadi. Hanya hujatan kecil lewat tulisan spanduk “Turunkan Nurdin” menghiasi beberapa tempat di stadion. Hehehe… masyarakat pecinta bola di sini memang sudah sangat kecewa atas kepemimpinan dia di PSSI. Jangan dulu bicara prestasi timnas, jualan tiket saja kacau! Belum lagi harga tiket yang melambung semenjak memasuki semi final dan final. Terlihat sekali aji mumpung "kroni2" PSSI ingin meraup untung sebesar-besarnya atas event ini. Alasan ini - itu yang dikemukakan Nurdin tampaknya hanya menutupi keserakahannya mengeruk keuntungan dari penonton sepakbola. Presiden pun menginstruksikan agar harga tiket diturunkan, tetapi hanya tiket kelas 3 saja yang diturunkan PSSI. Sangat mencolok perbedaan harga tiket di Malaysia, untuk kelas tribun hanya mematok sekitar 86.000an sedangkan VIP 143.000an dan untuk anak-anak 14.000an (dalam rupiah). Huuh...!! Berhentilah merampok rakyat!

Prestasi timnas mandul dalam beberapa kali event sepakbola tingkat ASEAN. (Jangan dulu ngomong level Asia apalagi Dunia yaa?). Yang penting sekarang jangan kebanyakan bacot, lakukan yang terbaik untuk persepakbolaan Indonesia.
Ayo benahi PSSI dan bina timnas dengan baik moga-moga kedepannya bisa menjadi jawara ASEAN kemudian ASIA dan meraih mimpi meramaikan Piala Dunia.
Tapi terlepas dari Nurdin dan lain-lainnya itu, layaknya pantas kita beri apresiasi kepada timnas Indonesia dalam Piala AFF 2010 ini. Hanya satu kali kalah dalam 7x pertandingan, tidak pernah drow, tapi naïf sekali tidak berhasil menjadi juara. :D
Sama seperti nasib Belanda di Piala Dunia lalu yaa? Tak terkalahkan tetapi terhempas di final melawan Spanyol. Hohoho….

Pada awal kalimat tadi aku tulis “lengkap sudah kekecewaanku di tahun ini”. Kenapa? Karena jagoanku selama event olahraga di 2010 keok semua. Mulai dari Valentino Rossi yang mengalami kecelakaan pada sesi latihan di Italia bulan Juni lalu sehingga dia harus absen dalam dua bulan. Praktis dia agak terengah-engah menyusul kemenangan Jorge Lorenzo, Dani Pedrosa dan Casey Stoner. Tapi bukan Rossi namanya kalo dia tidak mempunyai fighting spirit. Penampilannya tetap bagus melawan rival-rivalnya di sirkuit. Terbukti dia dapat mempercundangi Lorenzo di Jepang dan Malaysia. Padahal waktu itu dia belum sembuh betul dari cederanya.
Lain cerita MotoGP...., menyambung cerita bola.
Disusul kemudian kekalahan timnas Jerman sebagai tim favoritku dalam semi final Piala Dunia lalu. Mencoba mengadu kegembiraan dengan mendukung timnas Belanda (salah satu tim andalan yang aku dukung juga) dalam babak final melawan Spanyol di event yang sama, ternyata harus tunduk pada keperkasaan timnas Spanyol. Belum usai sampai di situ, beberapa waktu lalu sebelum Piala AFF digelar dukunganku pada Real Madrid pun kandas di kaki Barcelona dalam liga Spanyol. Oh… my God, bertubi-tubi kekecewaanku di tahun ini.

Pesta telah usai. Tapi ada satu pesta yang belum usai, yaitu pesta akhir tahun esok malam. Yo… siapa yang mau ngajak aku jalan-jalan atau makan-makan melepas tahun 2010 ini? Tiga tahun berturut-turut pergantian tahun kuisi dengan makan malam rame-rame bersama keluarga besar, siapa lagi yang mau ngajak aku jalan-jalan atau makan malam? Aku tunggu! Atau cukup bakar jagung di rumah sambil nonton tv? Itu pilihan bagus juga, selain irit dan sangat kekeluargaan. Hehehe…. Bener kan? Daripada makan di restoran rame-rame pasti habisnya banyak.
Mas, mbak ayo happy happy lagi !!
Kalo tidak ada yang mengajakku malam tahun baruan, pilihan terakhirku pasti tidur setahun, tidur jam 23.00 (2010)s/d 04.30 (2011). Inilah pilihan favoritku diakhir tahun. Ayo tidur teruuss... Gedein badan. Hehehe…. SStt...!!

Senin, Desember 27, 2010

Rasanya Seperti Putus Cinta

Hahaha….!! Ini tertawa dalam kesedihan Indonesia. Kenapa aku tertawa? Karena aku merasa konyol atas perasaanku ini. Merasa seperti baru putus cinta karena Timnas Indonesia menelan kekalahan dari Timnas Malaysia 0-3 semalam dalam babak final leg 1 di stadion Bukit Jalil Malaysia. Haduuhh…, rasanya benar-benar sakit, sedih dan kecewa. Skor telak 3-0 memberi harapan tipis pada Timnas Indonesia meraih kemenangan pada leg 2 pada 29 Desember 2010 nanti di Gelora Bung Karno.
Tadi pagi mataku males melek. Berharap kejadian semalam cuma mimpi! Berkali-kali aku berharap ini cuma mimpi tapi kenyataannya memang bukan mimpi. Setelah adzan subuh berkumandang sekitar jam 04.00 aku baru sadar, sadar-sesadar-sadarnya aku, kalo aku tidak sedang bermimpi. Ahh… Tuhan kenapa belum Kau kabulkan harapanku semalam?
Entah kenapa permainan Timnas Indonesia semalam kurang meyakinkan. Terlalu beratkah beban moral dan mental yang mereka tempa? Setelah kemenangan 5 kali yang diraih, eksploitasi yang berlebihan dari media, sanjungan dari publik Indonesia yang terus menerus? Atau karena grogi bertandang di negeri orang? Ataukah karena ulah suporter Malaysia yang sengaja mengganggu Timnas Indonesia dengan sinar laser? Aku tidak tahu! Suporter Malaysia memang keparat!! Hal yang sama mereka lakukan saat melawan Timnas Vietnam pada semifinal lalu. Dasar Malingsia..!! Menghalalkan segala macam cara demi kemenangan.
Aku tidak akan menyalahkan Timnas. Bagaimanapun mereka sudah berusaha semaksimal mungkin berjuang melawan rivalnya. Cuma saja lain kali (buat media dan para pejabat nih), sesuatu yang belum tergapai pasti jangan terlalu di eksploitasi berlebihan. Memuji boleh, mensupport sangat diharapkan, tetapi jangan lebay…!! Kasihan punggawa Timnas kita, yang seharusnya mereka fokus pada pertandingan menjadi terpecah konsentrasinya karena eksploitasi yang berlebihan. Seperti : mewawancarai yang bersangkutan dan keluarganya, pemberitaan yang berulang-ulang, foto bareng, diundang kesana kemari.
Hal ini pernah tersirat olehku sesaat setelah Indonesia unggul atas Malaysia dan Laos pada babak penyisihan lalu. Masih jauh dari semifinal dan final aja sudah heboh seperti ini, pikirku waktu itu. Kan belum juara yang sebenarnya? Benar saja, ketika Timnas Indonesia berhasil menghalau Thailand pada putaran terakhir babak penyisihan dan menekuk Filipina pada babak semifinal dalam 2 leg sekaligus, pemberitaannya semakin menjadi-jadi. Padahal final pun belum dilalui. Setelah kejadian semalam semangat pun seolah runtuh. Bagaimana tidak, tinggal setapak saja (sudah masuk final) Timnas kita tersandung skor yang lumayan banyak. Agak sulit melampaui skor itu walaupun Timnas Indonesia bertanding di negeri sendiri. Malaysia bukan tim yang mudah dikalahkan meskipun pada babak awal penyisihan berhasil dipecundangi Indonesia 5-1.
Yah..!! Semoga saja ada keajaiban terjadi bagi Timnas Indonesia pada tanggal 29 Desember 2010 di Gelora Bung Karno. Keajaiban yang dapat memenangkan Timnas Indonesia. Semoga, semoga dan semoga. Amien....