Adalah sebuah blog yang dimiliki oleh seorang wanita biasa. Memiliki motivasi nge-BLOG yang sederhana dan menyalurkan hobi melamun dengan menuangkan hasil lamunannya dalam bentuk tulisan. Lumayan, memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan positif... Hehehe...
Jumat, Juni 12, 2009
Lagi Mumet...!!
Wis ahh..., bener-bener mentok pikiranku. Ide ga muncul-muncul juga, padahal udah kupaksa-paksain keluar ( ideku ). Susaaaaaahhhh.....!!!
Senin, Mei 25, 2009
Di Bandara
Sambil menikmati snack dan minuman aku nonton tv. Tidak sengaja mataku menatap sepasang pria dan wanita yang sedang asik duduk berdampingan sambil ngobrol. Dari obrolan yang kudengar nampaklah mereka sepasang suami istri sedang membicarakan anak-anak mereka. Lain tempat mataku bergeser kearah yang lebih pojok lagi. Kali ini pemandangan lain yang kulihat, seorang laki-laki kira-kira usia 25-an tahun sedang asik ngobrol di hp. Lama sekali, kayaknya sedang asik pacaran. Perilaku lainnya standard aja, ada yang baca koran/majalah, nonton tv, menikmati hidangan yang tersedia, dan ada yang utak-atik blackberry, laptop. Sementara ruang tunggu di luar pun semakin ramai. Terlihat olehku kesibukan masing-masing orang di sana, sama seperti yang di Lounge ini.
Dan akhirnya, pesawat yang ditunggu datang juga. Jakarta, we are coming...!!
Dua hari aku di Jakarta, weekend lagi. Abis itu pulang lagi ke Jogja. Ga sempat woro-woro teman disana. Sengaja juga sih, takut ngerepotin mereka.
Ke bandara lagi, cari inspirasi lagi buat ngisi blogku.
(Kata teman, ga usah repot-repot ke bandara cari inspirasi. Duduk di wc aja bisa koq dapat inspirasi). Bau tau..!!
Sabtu, Mei 16, 2009
Deklarasi SBY - Boediono
Setelah diundur karena kesibukan World Ocean Conference di Manado, SBY secara resmi mengumumkan Boediono sebagai cawapresnya dalam suatu acara yang meriah di gedung Sasana Budaya Ganesha, Bandung, 15 Mei 2009. Tidak ada kejutan sama sekali. PKS yang di hari-hari terakhir terlihat uring-uringan pun ternyata hadir dalam acara tersebut.
Bintang pada acara deklarasi tersebut tentu saja cawapres Boediono yang berpidato setelah SBY. Mengawali pidato dengan basmallah, Boediono secara perlahan namun pasti memperlihatkan kelasnya sebagai seorang profesor yang layak untuk mendampingi SBY. Pada awalnya memang terlihat grogi, mungkin karena ini pertama kalinya ia menyampaikan pidato politik, namun selanjutnya Boediono berpidato tanpa teks dengan jelas dan elegan.
Boediono secara jelas dan elegan pula menjawab tudingan yang diarahkan kepadanya antara lain mengenai pasar bebas dengan mengatakan bahwa perekonomian Indonesia tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pasar bebas. Menurutnya diperlukan peran negara yang dapat mengintervensi dengan aturan main yang jelas dan adil serta adanya lembaga pelaksana yang efektif. Pada saat yang bersamaan ia menohok pesaingnya dengan menyatakan komitmennya untuk terus memberantas korupsi dan tidak akan mencampur adukan urusan pemerintahan yang dijabatnya dengan kepentingan bisnis pribadi.
Dari caranya berpidato tanpa teks dan terarah tersebut, tampak kalau Boediono ingin memberikan penegasan bahwa dirinya lebih layak dipilih mendampingi SBY dibandingkan calon-calon dari parpol koalisi pendukung Partai Demokrat ataupun Budi Anduk, pelawak yang sedang naik daun dan juga bintang iklan KPU. Ya nama Budi Anduk muncul dan disandingkan dengan Boediono dalam spanduk yang dipasang beberapa hari terakhir. Boediono ingin mengatakan bahwa kalau Budi Anduk cuma bisa menghibur masyarakat melalui lawakannya di televisi, maka Boediono bisa menghibur masyarakat dengan pertumbuhan ekonomi yang positif. Amien....!!
Akhirnya, meski Boediono telah memberikan tampilan yang positif dalam kemunculan perdananya sebagai cawapres, namun ia masih harus bekerja keras untuk membuktikan bahwa ia lebih baik dari Wiranto dan Prabowo Subianto yang menjadi pendamping pasangan capres lainnya. Dan tentu saja ia tetap harus membuktikan lebih baik dari Budi Anduk.
(Thanks to mas Aris)
Lanjutkan...!! SBY berBudi
Rabu, Mei 06, 2009
Kecewa...!!

Kenapa aku banyak diam sekarang? Ini lebih baik daripada aku bicara yang ujung-ujungnya dianggap salah dan dianggap keliru terus. Ini membuatku semakin salah tingkah, salah tindakan dan salah kaprah. Kenapa aku seperti itu?
Aku semakin menenggelamkan diri dalam "duniaku", dunia dimana aku bisa berekspresi dengan leluasa tanpa ada yang jahat menghakimiku. Tidak ada yang usil, nyinyir, memaki dan bersikap atau berkata kasar terhadapku. Duniaku yang sepi, sunyi dan sendiri tanpa teriakan-teriakan yang menyakitkan telinga dan hatiku.
Pagi ini, lagi-lagi aku mendapat perlakuan/ucapan kasar dari seseorang. Tidak langsung memang (lewat sms), tapi sangat menyakitkan. Ini kali kedua kekasaran omongan yang kuterima dari orang yang sama. Orang yang kuanggap bisa mencerahkan hari-hariku, ternyata tidak ubahnya seperti seorang eksekutor yang siap membidik sasarannya.
Sekali lagi, aku hanya coba tersenyum menatap kearoganan manusia yang sering lupa siapa dirinya yang sebenarnya.
Selasa, Mei 05, 2009
Rupa-Rupa
Hari Minggu kemarin gelaran MotoGP yang ke tiga diadakan di Jerez Circuit - Spanyol. Bagi yang nonton, pasti udah tahu hasilnya untuk kelas paling bergengsi itu. Urutan : 1. Valentino Rossi, 2. Dani Pedrosa, 3. Casey Stoner. Oke, gitu aja liputanku dari ajang MotoGP. (ntar aku diprotes lagi...??)
---000---
Btw, belakangan ini aku terjebak dengan sikapku sendiri. Maksud hati tidak mau menyakiti hati orang lain, ternyata kebaikan hati ini menjadi boomerang bagiku. Ketika aku bersikap kurang bersahabat (ini terpaksa kulakukan karena yang bersangkutan ga ngerti-ngerti juga), malah aku dikata-katain yang bikin kuping ini merah. Tapi apa mau dikata, ini sudah menjadi resikoku. Aku salah bersikap dari awal.
Kutepis segala ucapannya yang selalu memojokkan aku, kudiamkan saja saat dia mengungkit-ungkit hal yang sangat privacy bagiku.
Aku diam - dia semakin bereaksi, aku bereaksi - dia seperti mendapat perlawanan dariku. Nah loh..., kalo udah begini enaknya diapain, coba? Mending aku lari...!! (Lama-lama aku jadi gila sendiri ngeladenin orang seperti itu).
---000---
Wooii.., ternyata ga gampang jadi wanita sendiri. Banyak godaan sana-sini. Tapi ga masalah, selama ini masih bisa kutangani dengan baik. Alhamdulillah..., orang usil berhasil kuhalau tanpa harus menyinggung perasaan mereka. Kan ga harus pakai muka garang mengusir orang-orang seperti itu?!
---000---
Hmm...., beberapa hari ini ada sedikit huru-hara. Biasalah, ada yang iseng (tapi serius) udah bikin darah naik keubun-ubun. Alhasil, semua pada bertanya-tanya, siapa ya? Siapa ya? Nah siapa yang dimaksud? Ga usah berburuk sangka ahh.., ntar malah bikin keruh suasana. Mana suasana hati lagi ga enak, mendingan ke kamar mandi guyur kepala biar adem. Seadem hawa pegunungan. Hehehee....
---000---
Ngomongin politik dikit ya.
Dua hari ini aku lihat penghitungan manual KPU, Partai Demokrat teratas. Ini melegakan hati, gimana ga - setelah penghitungan manual awal, PDIP diurutan atas. Bener-bener mengejutkan. Jelas aku keki donk..., ga sudi! Ketahuan, aku pro mana ya? Hihihi..., ssstt..!!
Moga-moga ya jagoanku meraih kemenangan. Amien..... (Disini ada tiga jagoanku lho, ada : Partai Demokrat, Pak SBY dan juga Valentino Rossi. Walaaah...! Satu nama yang terakhir ini apa hubungannya dengan politik? Ga ada emang, tapi dia adalah jagoanku di MotoGP).
Perutku sakit, selain laper, ada hal yang ga bisa kuhindari sebagai kodrat wanita. Ga usah dibahas ya?
Ngomong apalagi? Payah nih pikiran lagi buntu. Ide nulis tiba-tiba stop. Kayaknya perlu makan dulu nih. Lapeeerrrr....!!!
Rabu, April 22, 2009
Malam Itu Di Malioboro
Keliling lagi ketempat lain, ketemu orang iseng itu lagi. Laki-laki, usianya kira-kira diatasku sedikit. Dari tadi kuperhatikan dia berusaha menguntitku. Sejak dari toko pertama yang kusinggahi. Ihh... ngeri juga kalo dia mau berbuat jahat ke aku, pikirku. Aku selalu berjalan ditengah orang banyak untuk menghindarinya. Tapi keparat, orang berengsek itu tetap saja dibelakangku. Ada sebuah toko kaset/CD aku masuk cepat-cepat kedalamnya. Sengaja aku lama-lamain disitu supaya orang itu pergi menjauhiku. Lirik sana-sini sampai-sampai penjaga tokonya nanya keaku, "mau cari albumnya siapa mbak?" katanya. Dengan gelagapan aku menjawab sekenanya, "ada albumnya The Police yang Sinchronicity?". Penjaga itu mencoba cari album yang kumaksud, dan ternyata tidak ada. Sengaja memang aku cari album The Police itu, karena albumnya sudah lama banget pasti tidak tersedia lagi, pikirku.
Keluar dari situ aku masih celingukan mencari sosok yang tidak kuinginkan tadi. Masih menguntitkah dia? Ahh..., ternyata sudah tidak lagi. Lega rasanya. Tiba-tiba dari balik toko yang ada disebelah toko kaset tadi nongol orang sinting itu. Alamaak..., aku harus lari kemana ini? Pikirku mencoba untuk keluar dari rasa takut itu. Akhirnya aku memberanikan diri berjalan tegap tanpa rasa takut. Orang itu mendekat, kemudian menegurku. "Lelly kan...?" katanya menyapa. Dengan perasaan was-was aku memperhatikan dia dengan ekspresi curiga. "Siapa ya?" tanyaku menyelidik. Ini aku, Gino yang dulu di Bali. Haah...? Manusia yang ga tahu malu yang ngaku-ngaku mirip kayak pesohor itu? Bujubune..., menyebalkan! Terpaksa dengan basa-basi aku mengulurkan tangan menyambut ajakannya untuk berjabat tangan. Lalu dia membuka obrolan sembari jalan. Dia ngajak aku makan, tapi kutolak dengan halus. Aku beralasan sudah makan tadi di rumah. Padahal belum tuh! Dan kemudian..., tahulah selama jalan dengannya aku mencari alasan untuk bisa kabur darinya. Ga enjoy aja ngobrol ama dia. Malaasss.... huuh!!
Tiba-tiba hpku bunyi, ada telepon dari teman. Lalu aku cepat-cepat pamit kukatakan pada dia, bahwa adikku sekeluarga ke rumah dan aku diminta cepat pulang karena sudah ditunggu. Ufh..., lega rasanya aku bisa terlepas dari orang itu. Bukannya apa-apa sih..., aku ga suka dia sudah berbohong sama aku. Benar-benar ga simpatik.
Malam itu Malioboro semakin ramai. Hilir mudik kendaraan dan orang berjalan memadati kawasan yang menjadi ciri khas Jogja ini. Selamat malam Malioboro..., wajahmu semakin tertutup dengan bangunan yang ada, dan pantulan cahaya lampu hias yang gemerlap menambah pesonamu di malam hari.
Jumat, April 17, 2009
Apa Yang Sudah Kita Lakukan Untuk Orang Lain?
Melihat Lebih Jauh
Ada dua kisah nyata inspiratif yang akan saya adaptasi. Pertama tentang seorang tukang pipa (plumber). Alkisah, bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman sedang pusing karena pipa keran airnya bocor, ia takut anaknya yang masih kecil terjatuh. Setelah bertanya ke sana-kemari, ditemukan seorang tukang terbaik. Melalui pembicaraan telepon, sang tukang menjanjikan dua hari lagi untuk memperbaiki pipa keran sang bos. Esoknya, sang tukang justru menelepon sang bos dan mengucapkan terima kasih. Sang bos sedikit bingung. Sang tukang menjelaskan, ia berterima kasih sebab sang bos telah mau memakai jasanya dan bersedia menunggunya sehari lagi. Pada hari yang ditentukan, sang tukang bekerja dan bereslah tugasnya, lalu menerima upah. Dua minggu kemudian, sang tukang kembali menelepon sang bos dan menanyakan apakah keran pipa airnya beres. Namun, ia juga kembali mengucapkan terima kasih atas kesediaan sang bos memakai jasanya. Sebagai catatan, sang tukang tidak tahu bahwa kliennya itu adalah bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman. Cerita belum tamat. Sang bos demikian terkesan dengan sang tukang dan akhirnya merekrutnya. Tukang itu bernama Christopher L Jr dan kini menjabat GM Customer Satisfaction & Public Relation Mercedes Benz. Dalam sebuah wawancara, Christopher menjawab, ia melakukan semua itu bukan sekadar tuntutan after sales service atas jasanya sebagai plumber. Jauh lebih penting, ia selalu yakin tugas utamanya bukanlah memperbaiki pipa bocor, tetapi keselamatan dan kenyamanan orang yang memakai jasanya. Christopher melihat lebih jauh dari tugasnya. Kisah lain. Ada juga kisah dari teman saya, James Gwee, tentang Mr Lim yang sudah tua dan bekerja ”hanya” sebagai door checker (memeriksa engsel pintu kamar hotel) di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Puluhan tahun ia jalankan pekerjaan membosankan itu dengan sungguh- sungguh, tekun, dan sebaik-baiknya. Ketika ditanya apakah ia tak bosan dengan pekerjaan menjemukan itu, Mr Lim mengatakan, yang bertanya adalah orang yang tidak mengerti tugasnya. Bagi Mr Lim, tugas utamanya bukanlah memeriksa engsel pintu, tetapi memastikan keselamatan dan menjaga nyawa para tamu. Dijelaskan, mayoritas tamu hotelnya adalah manajer senior dan top manajemen. Jika terjadi kebakaran dan ada engsel pintu yang macet, nyawa seorang manajer senior taruhannya. Jika ia meninggal, sebagai decision maker, perusahaannya akan menderita. Jika perusahaannya menderita dan misalnya bangkrut, sekian ribu karyawannya akan menderita. Belum lagi keluarganya, termasuk anak istri manajer itu. Demikian jauh pandangan Mr Lim, dan ia bukan sekadar door checker. Beberapa pelajaran Christopher L Jr dan Mr Lim relatif manusia sejenis. Keduanya bukan kelas manusia sedang atau biasa (good people). Mereka jenis ”manusia besar atau manusia berlebih” (great people) meski jabatan atau pekerjaan formal di suatu saat demikian ”rendah dan biasa saja”. Sikap mental mereka jauh lebih tinggi dari jabatan dan pekerjaan formalnya. Dua kisah itu memberikan beberapa pelajaran berharga. Pertama, untuk menjadi manusia besar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis seseorang mengerjakan tugasnya. Kemampuan dan kompetensi teknis (hard competence) boleh sama atau biasa saja, tetapi sikap mental atau soft competence yang lebih akan menentukan seseorang menjadi manusia besar atau tidak. Kedua, untuk bisa mempunyai soft competence dimaksud, kita perlu berontak dan bangun dari tidur panjang selama ini, keluar dari zona nyaman good. Sebagai manusia minimalis, pekerja atau pemimpin apa adanya (yang penting job description dijalankan), target kerja atau key performance indicator (KPI) tercapai, beres! Itulah tipikal manusia biasa saja. Upaya ini memerlukan pengorbanan diri sebab hanya dengan menjadi good people seperti selama ini saja, toh tak ada yang mengusik kita, tetap bisa bekerja dengan nyaman, dan seterusnya. Maka, pemberontakan untuk bebas dari kondisi good people itu harus dari diri sendiri dulu. Ingat petuah Jim Collins, good is the enemy of great. Ketiga, langkah lebih konkret selanjutnya adalah sikap mental untuk ”melihat lebih”! Christopher L Jr plumber yang ingin memastikan kliennya nyaman dan selamat. Mr Lim door checker yang ingin menjamin tamu hotelnya terjaga nyawanya dari bahaya kebakaran. Melihat lebih jauh, beyond the job! Keempat, setelah mampu melihat lebih, barulah kita mampu ”memberi lebih” (giving more). Hanya dengan melihat lebih dan memberi lebih, kita mampu menjadi manusia besar yang tidak hanya bekerja sebatas KPI. Kita akan mampu bekerja dengan memberikan key values indicator (KVI), nilai-nilai lebih, mulia, unggul, berguna bagi setiap pengguna atau penikmat hasil kerja kita. Itulah Christopher L Jr dan Mr Lim. Rindu pemimpin besar Betapa bangsa ini rindu seorang pemimpin hasil pemilu yang layak disebut pemimpin besar, great leader. Mereka yang kini sedang giat berkompetisi dan perang iklan dengan saling sorot KPI masing-masing. Perhatikan dengan saksama, maka segenap janji kampanye, termasuk realisasinya, konteksnya masih sebatas pemenuhan KPI. Ini berlaku baik bagi yang masih berkuasa maupun mantan dan juga calon yang baru. Semua bicara tentang KPI kepemimpinan, belum menyentuh KVI kepemimpinan. Para pemimpin dan bahkan kita semua demikian bangga dan terpesona sendiri saat mampu memenuhi ”KPI kehidupan” kita masing-masing, yang biasanya memang bersifat kuantitatif, materiil, dan mudah diukur. Padahal, untuk menjadi great people, great leader, great father, great manager, dan seterusnya, lebih diperlukan kemampuan mempersembahkan ”KVI kehidupan” kita, yang biasanya justru tidak mudah diukur. Bangsa ini sangat memerlukan Christoper L Jr dan Mr Lim sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Sebagai catatan akhir, seorang office boy yang mampu mempersembahkan KVI nilainya tak kalah dengan seorang CEO yang hanya memberikan KPI-nya. Jika kita ”mau” melihat lebih jauh, kita akan ”mampu” melangkah lebih jauh.
Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist & President The XO Way, Jakarta
Kamis, April 16, 2009
Kisruh KPU
Wah, kelihatan sekali ya bahwa di negeri ini kedewasaan berpolitik belum ada. Atau kalo boleh kuralat, masih sedikit politikus yang mau menerima kekalahannya dengan lapang dada & berjiwa besar. Dalam suatu pertempuran pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Ga mungkin donk semua kalah atau semua menang.
Terlepas dari kekisruhan yang terjadi dibeberapa tempat, baik itu DPT yang ga beres, kisruh kartu suara atau penghitungan suara yang dianggap curang - selayaknya KPU perlu berbenah. Berbenah, berbenah dan berbenah terus. Dari periode ke periode (seingatku) memang belum pernah sempurna dalam penyelenggaraan Pemilu. Tengok saja pemilu-pemilu sebelumnya, selalu dihujani protes dari pihak-pihak yang kalah tapi diam saat meraih kemenangan.
Kasian KPU udah capek-capek kerja masih aja disalah-salahin hasil kerjanya. Huuh..., susah ya untuk jadi sempurna??