Selasa, November 14, 2017

Teman Lamaku


Sabtu, Minggu kemarin menemani teman dari Jakarta jalan-jalan di Jogja. Tujuan teman kesini sebetulnya mau menghadiri undangan kawinan relasi suaminya saat pendidikan di Lemhanas dulu. Karena suamimya sedang sakit akhirnya temanku sebagai istrinya menggantikan kehadirannya dihajatan itu.
Sejak hari Jumat temanku (namanya Ida) sudah menelponku ngomongin rencananya itu. Janjian ini itu… dan hari Sabtunya dia datang dijemput sopir. Aku belum bisa menemani karena aku masuk kerja. Setelah bubar dari rutinitas kerjaku aku pulang mandi kemudian menyusulnya ke mess AL menemuinya. Ngobrol-ngobrol sampai maghrib lalu bergantian kami sholat kemudian dia mulai persiapan diri ke kondangan. Kuperhatikan dia dandan. Aku melihat peralatan make up-nya. Dulu pakai Sari Ayu sekarang pakai Ultima dan SK-II.  Wajar dong seiring peningkatan ekonominya beda pula yang dikenakan. Selesai dandan dan Ida nampak cantik dalam balutan atasan hitam dipadu sarung motif dengan warna dasar hitam dan warna-warna kontras. Okay…
Kemudian dilanjut keacara nikahan. Aku tidak ikut turun hanya menunggu di mobil, dan aku sudah bilang Ida, aku tidak ikutan masuk keacara nikahan itu. Alasannya sederhana, aku males dandan :)  
Ida tidak mempermasalahkan keenggananku itu. Dia pun bilang gak akan lama-lama di pesta pernikahan itu. Datang, masukin amplop lalu salaman ke yang punya gawe, salaman sama pengantinnya terus pulang.
Sampai di gedung parkiran penuh, tamunya banyak. Sesuai rencana Ida cuma datang, tulis buku tamu, masukin amplop, salaman terus pulang. Acara dilanjut ketempat bakmi jowo disekitaran jalan Nagan. Temanku itu mau kumpul-kumpul sama teman-teman sesama lulusan Lemhanas suaminya. Kebetulan teman-teman Lemhanas ini banyak ibu-ibunya.
Ida memang supel meski teman-teman suaminya dia kenal juga sama mereka. Ibu-ibu kalo sudah kumpul sama aja kayak ABG.., selfie-selfie gak ketinggalan. Mereka kumpul-kumpul disana sambil melepas kangen sembari makan mie jowo dan foto-foto. Aku yang bukan dari bagian mereka cuma diam saja sembari sesekali senyum saat dikenalkan Ida kepada mereka.

Selesai dari sana pulang ke mess. Ngobrol sampai larut, dari cerita teman, keluarga hingga usaha temanku ini yang ternyata dia sudah mempunyai 300 kamar kos! AC dan non AC.
Cukup lama aku tidak mengikuti perkembangan usahanya ini. Tau-tau udah segitu aja. Aku diperlihatkan foto rumah kosnya yang lebih mirip banguna hotel empat lantai. Busyeeettt ini sih bukan rumah kontrakan atau kos-kosan. Ini udah kayak hotel, Da! Kataku setengah berteriak.
Dia bilang kalo saat ini sedang membangun kamar-kamar tambahan lagi. “Yang pasti aku ngutang bank lagi, Lel.” Kata Ida sambil selonjoran di tempat tidur. Cerita beralih tentang anak-anaknya. Anak keduanya yang lulusan Akpol sudah dinas di Lombok, anak pertamanya lulusan sekolah pilot katanya mau nerusin ke spesialis boeing di Spanyol. Lalu anak ketiganya sudah semester akhir dikuliahannya.
Ida ini temanku sejak SD, SMP kemudian berpisah karena aku ikut orang tua pindah tugas. Orang tua kami pun saling kenal karena sama-sama sebagai pendatang waktu di Bitung - Sulut dulu. Hubungan kami tetap terjalin walau kami berpisah kota, berpisah propinsi. Lumayan sering ketemu jika ada pertemuan-pertemuan di Jakarta. Dari dulu sejak kami kecil, remaja dan kemudian Ida menikah dan punya anak aku tetap keep in contact dengannya. Suaminya seorang perwira tinggi Angkatan Laut. Dulu saat masih muda pernah ditugaskan di Jerman. Saat ini suaminya sudah perwira tinggi bintang dua (kalo gak salah Laksamana Muda), setara Mayor Jenderal kalo di AD (maaf jika salah. Hehehe… Maklum aku kurang mudeng masalah kepangkatan dalam TNI).

Keesokan harinya kami jalan-jalan. Dimulai ke Dowa, toko tas rajutan yang sudah beberapa tahun ini sedang booming di Jogja. Kami kesana liat-liat dan belanja. Gak disangka aku dibelikan sebuah tas. Alhamdulillah…
Selesai dari situ kami pergi makan siang lalu lanjut ke pasar Beringharjo. Borong daster dan cari souvenir untuk pengajian 40 hari meninggal ibunya. Selesai dari situ kami menyeberang ke Mirota Batik. Cari baju untuk mertuanya dan beli sedikit makanan oleh-oleh. Niat mau ke kota gede lihat-lihat kerajinan perak gak jadi karena keburu sore. Sebelum naik mobil Ida yang sejak kemarin pengen banget ronde keturutan juga. Disamping pasar Beringharjo kami menemukan minuman tersebut. Beli dua harganya diluar dugaan 28.000! Memang sih, Ida nambah isi bulatan yang terbuat dari tepung ketan isi kacang entah 3 atau 4 biji. Tapi ya sudahlah yang penting temanku sudah dapat yang diinginkan.
Pulang ke mess masih ada waktu buat ngobrol sambil menunggu adzan maghrib. Ida beres-beres koper dan belanjaannya. Setelah semuanya beres kami bergegas ke bakmi Kadin untuk makan malam. Sampai disana sudah ramai pembeli dan kami harus nunggu satu jam lebih untuk makan bakmi godog pesanan kami. Kelar makan akhirnya kami berpisah. Ida ke bandara aku pulang ke rumah.
Terima kasih ya Allah masih Engkau beri kesempatan lagi aku bertemu teman kecilku, teman remajaku, teman lamaku. Semoga ketemu lagi. Aamiin…

Selasa, Oktober 24, 2017

Reuni 30 Tahun SMA

Akhirnya aku ikut reuni teman-teman SMA Negeri 1 Sumedang. Niat sudah bulat tekatpun sudah memuncak. Meski lumayan jauh kutempuh juga perjalanan yang cukup melelahkan itu. Alhamdulillah… teman-teman lamaku menyambut niatku ini dengan suka cita. Benar-benar gak nyangka mereka semua antusias dengan rencana ini.
Aku berangkat menggunakan kereta malam Mutiara Selatan pukul 00.15 WIB. Ngantuk tak terasa meski jam tidurku biasanya dibawah jam itu.
Tiba di stasiun Bandung pukul 08.35 WIB. Dua temanku (Tatang dan Anit) sudah berada disana. Histeris kegirangan saat pertama kali aku menjumpai dua temanku tersebut. 30 tahun sudah berlalu dan Alhamdulillah Tuhan masih memberi kami kesempatan untuk bertemu dan berkumpul.
Perjalanan dari stasiun menuju Sumedang kota tempat kami pernah bersekolah sudah dipelupuk mata. Wajah teman-teman lama silih berganti seliweran di kepala. Membayangkan betapa kami saling merindu satu sama lain.
Sebelum perjalanan ke Sumedang berlanjut aku minta temanku mampir ke Kartika Sari untuk beli kue bolen yang memang sudah menjadi target oleh-oleh pulang ke Jogja yang harus kubeli.
Sepanjang perjalanan Bandung – Sumedang kami bertiga ngobrol. Cerita masa lalu dan cerita terbaru yang belum aku ketahui bercampur jadi satu. Kami tertawa mengenang masa lalu..., cerita kesana kemari dan akhirnya kami tiba di Sumedang jam 11.00 WIB. Kami langsung menuju rumah salah satu teman (Elly) yang dengan tangan terbuka menjamu kami. Yaaa… Allah begitu hepinya hati ini ketika ada dua teman kami (Dudun dan Utay) yang sudah berada disitu duluan. Tegur sapa peluk cium saat yang lainnya mulai berdatangan. Bener-bener sebuah pertemuan yang mengharu biru. 30 tahun terlewati dan kini mereka berada didepanku. Reuni kelas kami telah dimulai. Sabtu, 21 Oktober 2017.

Acara spontanitas. Dari pembagian kaos kelas yang sudah disponsori oleh salah satu teman kami (Cicin). Kemudian dilanjut makan siang (yang disponsori oleh Elly) dilanjut foto bersama di rumah Elly. Sorenya aku dan tiga temanku ke toko cari jilbab pink untuk seragam kelas kami. Lanjut ke hotel yang lagi-lagi disponsori teman kami Cicin. Maklum dia punya usaha disamping itu orangnya gak pelit. Setelah maghrib kami kumpul di hotel kemudian kami makan malam dan lanjut ke karaoke ditraktir oleh Cicin lagi. Hehehe…
Bersyukur punya teman yang sukses secara materi dan royal menjamu teman-temannya. Makanya, rejekinya mengalir terus.
Kalo ingat masa SMA nya dulu dia ini termasuk murid yang bandel dan sampai sekarang pun masih bandel. Hahaha  (Piisss... atuh kocin)
Tapi siapa yang tahu perjalanan hidup orang kemudian hari?

Keesokan harinya tepat tanggal 22 Oktober 2017 kami berkumpul kembali di hotel dan berangkat ketempat reuni angkatan '87. Saung Pawenang – Sumedang. Perjalanan tidak begitu jauh. Tiba ditempat sebagian peserta sudah datang. Registrasi kemudian masuk ruangan. Sambil menunggu yang lain ada suguhan snack yang sudah disiapkan panitia. Jumpa teman-teman yang lain, ada yang ingat nama dan wajahnya. Ada yang ingat wajah tapi lupa nama. Duhh… semoga dimaklumi karena sudah lama gak bertemu sebagian memori perlahan menguap.
Acara inti sudah mulai dan benar saja kata beberapa teman, reuninya garing alias menjenuhkan.
Kelas per kelas maju diperkenalkan. Dan saat maju kedepan panggung bersama teman-teman kelasku, aku melihat barisan depan tamu VIP guru-guru duduk disitu. Sumpriiittt bukan sok gak mau kenal atau gimana, wajah dan nama guru-gurupun aku gak ingat. Cuma satu yang aku ingat yaitu guru bahasa Inggris, bu Tita. Yang lainnya blank.
Wetti sebagai jubir kelas kami memperkenalkan satu per satu dari kami.
Kelas kami ini dulunya terkenal bandelnya. Sampai ada wali kelas yang mengundurkan diri jadi wali kelas kami karena gak kuat menghadapi kebandelan murid-muridnya. Ketika kenaikan ke kelas tiga beberapa teman laki-laki dari kelas kami dipindah ke kelas lain. Tujuannya supaya terpisah murid bandel satu dan yang lainnya. Huhuhu…
Tapi saat reuni kelas kami (hari Sabtu) mereka yang sudah dipindah ke kelas lain itu malah datang gabung dengan kami. Hehehe… ikatan kekeluargaannya masih kuat.
Selesai acara masing-masing pulang. Aku harus menunggu sampai malam di Sumedang karena aku naik bus malam pulang ke Jogja.
Disela-sela itu aku sempatkan keliling kota Sumedang. Tapak tilas jaman remaja dulu. Dengan diantar temanku, Yanie, aku dibawa keliling Sumedang. Banyak perubahan kotanya setelah 30 tahun dan nyaris aku tidak mengenali lokasi jaman dulu.
Menyempatkan diri beli oleh-oleh khas Sumedang, tahu. Ini juga salah satu target oleh-oleh yang harus kubeli. Wah.. bawaan semakin banyak ketika Elly dan Dudun membawakan oleh-oleh juga. Alhamdulillah rejeki..!
Dari pertemuan bersama teman-teman lamaku itu, satu pelajaran lagi yang aku dapat, bahwa kebahagiaan itu datang tidak melulu dari orang yang kita harapkan, tetapi terkadang datang dari orang-orang yang tidak kita duga sebelumnya.
Malam beranjak aku dan tiga temanku, Elly, Atti dan Dudun mengantar aku ketempat penjemputan penumpang di Alam Sari. Bus baru datang sekitar pukul 21.30 an. Akhirnya aku pulang ke Jogja meninggalkan kenangan indah bersama teman-teman kelasku.
Sampai jumpa lagi kawan!    

Selasa, Agustus 22, 2017

Niat Tulusku

Hampir setahun blogku tak kuisi. Malas menulis dan keseruan ngeblog makin tidak popular lagi adalah dua alasan yang membuatku jadi malas menulis. Sebetulnya, dengan sering kita ngeblog seni bercerita lewat tulisan terasah. Lebih positif dan berguna kan. Kita dapat mengasah, melancarkan dan memperbaiki cara dalam menulis. Tapi ya mau bagaimana lagi, medsos sekarang ganti-ganti trend-nya.
Oke-oke... Mumpung sekarang buka blog, yuk.., kita ngeblog lagi.

Alhamdulillah sudah setahun lebih aku berjilbab. Terlambat ya? Iya! Tapi gak papa daripada enggak sama sekali (klise ya!). Keputusan berjilbab kuambil dengan kesadaranku sendiri. Tidak ada yang memaksa, tidak ada orang yang menyuruh.
Aku termasuk paling belakangan berhijab dalam keluarga intiku. Ibu (sudah alm.), bapak, kakak, adik atau saudaraku tidak ada yang menegurku, aku belum berhijab waktu itu. Bukannya mereka tidak peduli, tetapi mereka membiarkan aku dengan kesadaranku sendiri mengenakan hijab. Yang penting bagi mereka aku tidak meninggalkan sholat, puasa Ramadan dan berperilaku baik.
Lama aku tidak tergerak untuk berhijab dan aku masih getol mencari-cari, wajib enggak sih, wanita muslim berhijab? Sering juga aku sharing sama teman, kadang-kadang adu argumen sama mereka tentang hijab ini. “Walau aku tidak berhijab, toh pakaian keseharianku sopan, tidak minimalis seperti pakaian yang kekurangan bahan. Sopan dan tetap tertutup, hanya saja kepalaku yang tidak ditutupi”. Begitu kataku pada mereka. Jadi… Apa salahnya kalau aku tidak berhijab? Itu pemikiranku saat itu.

Waktu terus berganti.., pada suatu ketika entah sentilan atau pikiranku sedang “baik” tiba-tiba aku ingat segala kejadian masa laluku. Untuk apa aku takut pada orang yang tidak suka wanita berhijab? Untuk apa aku kuatir dengan kehidupanku? Untuk apa aku takut enggak keren karena penampilanku, dsb.
Orang gak akan bisa menolong kita dikehidupan kelak. Sandaran utama kita di dunia ini kan cuma Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa.
Sudah sampai disitu pikiran sehatku bicara. Aku belum juga memutuskan berhijab, masih menunda, kali ini sudah gak banyak ngeyel masalah kenapa wanita muslim kudu berhijab. Aku sudah bisa menerimanya, hanya saja belum pakai.

Sebetulnya sudah setahun sebelumnya aku sudah tergerak untuk berhijab, tetapi kutunda hanya untuk memastikan kebulatan niatku itu. Bener nih sudah siap? Nanti bagaimana dengan keseharianku, harus bagaimana dan bagaimana? Serta tetek bengek lainnya yang selalu buat aku menunda dan menunda. Sampai disitu.., dan aku tetap menunggu momen tepatku.
Di waktu lain, kemudian ada seorang teman baikku, dia belum berhijab dan belum kepingin, katanya. Suatu ketika saat dia mengalami sakit kanker, kemudian dia memutuskan untuk berhijab. Belum sampai setahun dia berhijab akhirnya dia dipanggil yang Maha Kuasa. Innalillahi wainailahi roji’un. Titik.

Aku berdoa, semoga ajalku belum tiba ketika aku belum berhijab. “Beri aku waktu ya Allah… Agar aku dapat menunaikan perintahMu”. Kira-kira begitu doaku saat itu.
Menunggu momen yang pas untuk berhijab (saat aku ulang tahun dan bertepatan dengan momen Idul Fitri).
Jujur saja, sebetulnya aku was-was menunggu waktu yang kuinginkan itu. Takut umurku gak sampai dan aku belum berhijab. Aku masih ngeyel menunggu waktu yang kuinginkan.
Dan Alhamdulillah, Allah mendengar doaku. Waktu yang kutunggu tiba, aku diberi kesehatan dan kesempatan menunaikan niatku, berhijab di tanggal ulang tahunku dan dalam suasana Idul Fitri. Alhamdulillah… 

Oya, hijab yang kupilihpun "modern" bukan berarti suka-suka juga. Yang penting pakaian tersebut tidak ketat, tidak transparan. Kerudung yang kupilih yang biasa. Enggak yang panjang menjuntai, lebar gede. Simple-simple aja. Jadi, jangan ada yang ngomongin ini itu atas keputusan pilihan hijabku ini. Oke...

Terima kasih ya Allah atas kesempatan ini dan tolong beri aku waktu lagi untuk membenahi kekurangan yang ada dalam keseharianku agar aku selalu berjalan dijalanMU. Aamiin YRA…

Rabu, Oktober 28, 2015

Berita Seminggu Yang Bikin Sedih

Mungkin karena aku terlahir dari keluarga yang banyak laki-lakinya jadi secara tidak langsung aku menyukai hal-hal yang berbau kelaki-lakian, termasuk tontonan olahraga. Mungkin juga karena kromosom Y -ku lebih menonjol daripada kromosom X -ku. Jadi sifat kelaki-lakianku lebih sering kelihatan daripada kewanitaanku. Tapi percayalah aku seorang wanita tulen dan punya rasa kewanitaan juga. Hehee...
Tentang tontonan olahraga aku lebih tertarik sepakbola, MotoGP dan F1 juga dulu. Tapi setelah pebalap F1 jagoanku, Ayrton Senna tewas dalam kecelakaan balap F1 tahun 1994, sejak itu aku tidak mengikuti balap F1 hingga sekarang. Praktis yang kuikuti hanya MotoGP dan sepakbola.

Okay lanjut pada pokok cerita...
Minggu lalu benar-benar sesuatu yang bikin hati sedih, kecewa dan rasa tidak percaya.
Awalnya ketika Real Madrid diberitakan bakal diuntungkan dalam laga El Clasico November mendatang dengan cara pihak tertentu menekan asisten wasit/hakim garis untuk memberi keuntungan pada tim Madrid dalam laga tersebut, tapi asisten wasit itu menolak. Lewat pengacaranya, asisten wasit yang tidak disebutkan namanya itu melaporkan pada pihak kepolisian Spanyol, dan kabarnya kasus ini sedang diselidiki.
Agak tidak masuk akal memang ketika wasit dan asistennya belum ditunjuk oleh komite wasit untuk memimpin laga El Clasico tapi sudah ada perintah seperti itu. Apalagi asisten wasit itu diberitakan aksi penekanan dilakukan via telepon. Apakah gak naif bila suatu perintah buruk diinstruksikan lewat telepon? Tidak kah oknum itu berpikir sangatlah mudah melacak pembicaraan yang berbau konspirasi via telepon? Belum lagi nama yang melontarkan kabar tersebut tidak disebutkan. Apakah takut terjadi sesuatu padanya atau memang ini hanya sebuah lelucon yang sengaja digulirkan untuk merugikan pihak Madrid? Adakah kepentingan pihak lain yang bermain diantara perseteruan sengit El Clasico ini? Mungkin soal politik, judi bola atau kepentingan lain? Mbuh, aku ora ngerti!
Menilik kebelakang di musim kompetisi yang lalu-lalu, bukankah Madrid sering dirugikan keputusan wasit saat kontra Barca? Kenapa baru sekarang hal seperti ini digulirkan? Di musim ini saja dalam duel La liga yang sudah bergulir 9x, Real Madrid baru dapat penalti 1x, sedangkan Barcelona mendapat penalti 8x. 
Sungguh hal aneh yang aku sendiri tidak mengerti. Andai saja hal ini benar adanya sangatlah disayangkan. Real Madrid bukanlah klub ecek-ecek yang tidak bisa mengalahkan Barcelona.
Andai saja hal ini sebuah sensasi murahan sangatlah tidak elok untuk dijadikan "penyerangan".
Harapanku, semoga berita itu tidak benar. Aamiin aamiin aamiin...

Nah, yang baru saja terjadi hari Minggu lalu adalah heboh Valentino Rossi (VR) vs Marc Marquez (MM).
Duel sengit antara keduanya memang sudah terlihat diputaran sebelum di Sepang. Puncaknya hari Minggu, 25 Oktober 2015 lalu. Pada saat race bergulir terjadi saling salip menyalip diantara dua pebalap itu. Puncaknya pada tikungan ke 14 VR terlihat "menendang" MM hingga MM terjatuh dan tidak dapat melanjutkan race lagi. 
Oleh Race Direction VR dikenai hukuman penalti 3 poin yang mengharuskan dia start paling buncit pada helatan MotoGP terakhir musim ini di Valencia. Secara hitungan VR sudah tidak bisa juara dunia 2015 dimana selisih poin dengan Jorge Lorenzo hanya terpaut 7 poin saja dibawahnya. Start di grid paling belakang sangatlah mustahil bisa podium. Satu-satunya yang bisa menjadikan VR juara dunia andai Lorenzo jatuh dan tidak dapat melanjutkan race lagi saat di Valencia nanti dan Rossi menyelesaikan balapnya dengan baik.
Kalo boleh urun cuap-cuap versiku, Marquez ini gaya balapnya mirip Rossi. Katanya waktu Marquez kecil dia sangat mengidolakan Rossi, jadi maklum kalo dia meniru gaya balap Rossi.
Tapi belakang ini yang aku lihat Marquez sangat agresif dan kubilang gaya balapnya nyerempet-nyerempet bahaya. Apalagi saat head to head antara dia dan Rossi, bisa dipastikan akan menyuguhkan "pertempuran" sengit diantara mereka. Overtake yang berani, saling mepet membuat dada seakan berhenti berdegup kala keduanya saling kejar-kejaran. Sering aku merasa panas dingin menyaksikan duel mereka. Aku mengkhawatirkan kalo Rossi yang jatuh.
Kembali kesoal crash Sepang lalu. Saat aku melihat duel sengit dan Marquez jatuh aku merasa lega karena bukan Rossi yang jatuh. Setelah tayang ulang aku kaget karena yang terlihat ditayangan TV seolah-olah Rossi menendang Marquez. Sekejap aku sedih, kecewa melihat semua itu. Sangat disayangkan seorang VR melakukan hal itu, kataku dalam hati waktu itu. Duh.. :( 
Usai semua itu, akhirnya berita tentang insiden crash Sepang merebak ramai di media online dan juga berita televisi. Kubaca banyak artiklel yang memuat crash tersebut, banyak yang mensupport Rossi dan banyak pula yang membully.
Akhirnya aku mulai mengerti kenapa hal itu sampai terjadi. Rossi sudah mengungkapkan awal kekesalannya pada Marquez sejak helatan di Australia. Dimana Rossi merasa Marquez seperti menghalang-halanginya. Dalam konferensi pers sebelum gelaran MotoGP Sepang, Rossi sudah berucap tentang hal itu. Kemudian saat race berjalan di sirkuit Sepang terjadilah insiden VR vs MM. Menurut Rossi dia tidak seperti yang dituduhkan itu, kalo dari sisi rekaman helicam tidak seperti itu kejadiannya. Rossi merasa Marquez menghalang-halangi jalannya untuk mengejar Lorenzo. Dia mengatakan hal itu dengan bukti-bukti catatatan race sejak di Australia.
Kata bos Movistar Yamaha Lin Jarvis, mustahil motor seberat 150 an kg bisa jatuh hanya karena senggolan tipis. Pihak Marquez keukeuh mengatakan bahwa Rossi dengan sengaja menendang motor Marquez. Dari pemutaran ulang video menunjukkan terlihat Rossi melakukan seperti yang dituduhkan itu, menendang motor Marquez. Menurut Rossi Marquez melakukan manuver-manuver yang memprovokasi dirinya. Sayang data yang menunjukkan Marquez melanggar aturan MotoGP tidak ada. Mana yang benar dari penyataan kedua belah pihak hanya Rossi dan Marquez yang tahu.
Sedikit masuk akal manakala Marquez memilih untuk "membantu" Lorenzo memenangi kompetisi MotoGP ini karena:
  • Bagi Marquez, dia sudah tidak mungkin memenangi balapan ini sebagai juara dunia. Begitu juga konstruksi karena sudah dimenangkan oleh Yamaha
  • Dia (mungkin) punya dendam pribadi pada Rossi saat race di Argentina dan Belanda
  • Daripada mendiamkan Rossi menjuarai MotoGP lebih baik "membantu" Lorenzo (sama-sama orang Spanyol) memenangi kompetisi ini
Begitu kira-kira opini pribadi yang ada dalam pikiranku. Tidak bermaksud untuk memperkeruh, ini betul-betul sebuah pikiran liarku menanggapi insiden tersebut. 




Jumat, Agustus 07, 2015

Test...test...test...

Kenapa blogku jadi susah untuk diakses gini yaa? Melalui mesin pencari google pun susah. Seakan2 jaringan internetnya bermasalah, yang tertulis setiap kali akses ke blogku "The connection was reset", sedangkan untuk mengakses lainnya gak ada masalah. Apa kena hack yaa blogku ini? Duuh... :(

Jumat, Mei 15, 2015

Curhat Seorang Madridista

Liga-liga Eropa musim 2014/15 segera usai. UEFA Champions League sudah memasuki babak final yang akan digelar pada 6 Juni 2015 yang mempertemukan wakil Spanyol dan wakil Italy, Barcelona vs Juventus.
Klub kesayanganku Real Madrid tersisih dibabak semifinal saat melawan Juventus dengan agregat 2 - 3. Menyakitkan memang, saat piala UCL lepas dari genggaman Madrid setelah musim lalu berhasil diraihnya. Kutukan juara bertahan masih berlaku rupanya, dimana pemegang juara sebelumnya tidak bisa meraihnya kembali dimusim setelahnya (secara berturut-turut).
Banyak spekulasi yang muncul setelah kegagalan Madrid maju ke final UCL musim ini. Mulai dari pemain, pelatih, ketatnya jadwal tanding termasuk jadwal laga persahabatan saat libur paruh waktu Desember lalu, masalah cedera pemain, dan sebaginya. Yang membuatku sedikit tidak terima saat sebagian fans menyalahkan Bale sebagai salah satu biang kegagalan Madrid. Bale memang banyak disorot atas penampilannya yang menurun setelah kritikan padanya sebagai pemain yang egois. 
Atmosfir sepak bola Spanyol dan Inggris rupanya berbeda. Bagi Bale yang sebelumnya adalah pemain klub Tottenham Hotspur (Inggris), hal yang dilakukan seorang pemain seperti Bale, menggiring bola sendiri untuk menembus gawang lawan (mungkin) dianggap biasa karena tujuan bermain bola salah satunya adalah mencetak gol sebanyak-banyak ke gawang lawan dan menang. Tetapi tidak bagi gaya sepakbola Spanyol khususnya Madrid, para suporter Madrid akan bereaksi keras bila ada pemain yang egois dan tidak membuahkan gol. Apalagi pada saat Bale bermain "sendiri" bola yang digiringnya meleset keluar gawang padahal disaat bersamaan di posisi sama-sama di depan gawang ada rekan se-tim yang bisa mengambil alih bola bila Bale mau mengoper bola kepada pemain lain itu.
Seorang pemain mahal akan dituntut bermain bagus dan mencetak gol sebanyak-banyaknya, apalagi dia seorang striker atau gelandang serang. Bagi Bale dan pemain lainnya, bila dia tidak agresif di lapangan dan tidak menunjukkan performa bagus, otomatis dia akan dipaksa hengkang dari klub. Karena sebuah klub sepak bola seperti Real Madrid menuntut hasil gemilang pada setiap pemain atau pelatih yang bekerja di sana. Untuk itu gaji mahal bayarannya dan bagi klub akan menuntut hasil yang sebagus mungkin.
Kemudian hal lain, ngomong-ngomong soal pelatih Carlo Ancelotti yang diisukan bakal dipecat Madrid rasa-rasanya kok sayang yaa..? Pelatih siapa yang sekaliber Ancelotti yang bakal menggantikan bila dia benar-benar dipecat? Jose Mourinho? Dia masih melatih Chelsea. Zinedine Zidane? Selain masih menangani Real Madrid Castilla dia belum berpengalaman menangani klub besar sebagai pelatih kepala. Musim lalu Zidane menjadi asisten Ancelotti menangani Real Madrid dan sukses mempersembahkan 4 trofi bergengsi diajang Eropa dan dunia. Atau sebaiknya Ancelotti kembali bersama Zidane menangani Real Madrid di musim depan. Aku berharap demikian, karena secara pribadi aku tidak suka bila Ancelotti diganti hanya karena musim ini penampilan Madrid tidak konsisten dan terancam tanpa gelar. Mengapa tidak memberi kepercayaan kembali pada Ancelotti yang masih punya kontrak hingga 2016 menangani Madrid. Apalagi Ancelotti mengaku masih senang berada di Real Madrid dan dia suka pada pemain-pemain Real Madrid. Daripada membangun kesinambungan lagi dari awal, bukankah meneruskan yang sudah ada lebih baik? Apalagi kesalahan bukan hanya dari pelatih saja karena memang Ancelotti senang bereksperimen dengan mengganti formasi dan posisi pemain untuk menemukan formula ampuh bagi skuad Real Madrid, yang sayangnya belum membuahkan hasil positif di musim ini. Layak dicoba kembali mempertahankan sang pelatih di musim depan. Semoga presiden Real Madrid, Florentino Perez masih berbaik hati mempertahankan Carlo Ancelotti tetap melatih klub. 

Rabu, Mei 13, 2015

Jogja, Wajahmu Kini




Kesederhanaan Jogja perlahan semakin terkikis dengan bertambahnya mall-mall yang semakin menjamur dibeberapa belahan kota. Tidak bermaksud menolak pembangunan bisnis, tapi mall-mall yang ditanam oleh para pengembang raksasa ini perlahan-lahan merubah wajah kota yang sederhana menjadi sebuah kota yang hedonis. Kota yang tidak begitu besar ini sudah ditumbuhi enam mall yang sudah beroperasional, dari skala mall kecil, menengah dan besar (untuk ukuran Jogja). Masih ada enam mall lagi yang akan dibuka pada tahun ini hingga tahun 2018.
Bulan Mei ini mall baru kabarnya siap menyusul beroperasional di kawasan ring road utara. Menurut promosi yang digembar gemborkan (katanya) terbesar di Jogja bahkan Jawa Tengah. Yang menjadi pertanyaan saya dalam hati, siapakah yang akan berbelanja tiap hari di pusat belanja modern ini? Dari amatan saya sewaktu jalan-jalan di mall, kebanyakan pengunjung hanya sight seeing, window shopping alias cuma lihat-lihat saja. Apa lama-lama gak bangkrut tuh mall?
Jogja istimewa, begitu tagline yang baru saja diluncurkan beberapa waktu lalu. Kalo sudah begini apanya lagi yang istimewa? Mall, hotel, papan reklame dimana-mana membuat pemandangan Jogja semakin aneh dimataku.
Hotel-hotel tumbuh bak jamur dimusim hujan. Banyak banget! Saya gak tau pasti jumlahnya ada berapa? Tingkat hunian tinggi hanya waktu tertentu saja, saat liburan sekolah atau liburan hari raya. Kenapa tidak diperbanyak pusat kebudayaan, tempat rekreasi, buat taman kota yang indah dan asri yang bisa dijadikan tempat bersantai warga Jogja. Tempat-tempat wisata yang sudah ada hendaknya dipelihara. Jangan cuma senang didatangi tetapi tidak dirawat. Nantinya orang akan malas untuk kembali lagi ke situ.
Kawasan Malioboro dibenahi, ditertibkan, dibersihkan dan dirapikan agar lebih aman, nyaman lagi bagi orang-orang yang jalan-jalan kesana. Bila perlu jadikan Malioboro kawasan pejalan kaki (kendaraan dilarang melintas disana). Buat kafe-kafe jalanan sepanjang Malioboro. Kan asik tuh, kalo kita capek jalan-jalan bisa langsung duduk santai di kafe jalanan sambil menikmati suasana Jogja sembari mencicipi jajanan atau minuman yang dijual.
Sejujurnya, eksploitasi Jogja yang berlebihan ini membuat saya sebagai warga Jogja bertanya dalam hati, benarkah Jogja tak lagi istimewa sebagai kota yang sederhana? Apakah wajah Jogja yang “lugu” masih ada? Ataukah saya salah masih mengharapkan kota sederhana seperti dulu ditengah gempuran kemajuan jaman?

Selasa, April 14, 2015

Halo Hola

Piye kabare..? Udah lama gak posting tulisan di blog ini. Masih banyak yang wara wiri di blog gak sih? Kok kayaknya udah sepi-sepi aja yaa.., akupun malas untuk nulis lagi. Gak serajin dulu emang. Duuhhh... :)
Udah ah.., lain waktu nulis lagi. Cari inspirasi dulu yaaaaa...
Yang seneng nonton bola dan MotoGP ayo jangan lupa nonton yak ?!
Hala Madrid ! HalaMadridYNadaMas !
Forsa VR 46 !
Eng ing eeennggg... :)

Rabu, Desember 31, 2014

Postingan Akhir Tahun 2014

Semalam laga persahabatan antara Real Madrid vs AC Milan diselenggarakan di Dubai. 
Tidak seperti biasanya performa Madrid kurang greget dan sangat terlihat mereka bermain santai, ga ngotot dan cenderung membosankan. Mungkin ini hanya sebuah pertandingan uji coba saja dan ga ada napsu untuk meraih kemenangan. Menang syukur, kalah ya udah. Toh ini bukan partai hidup mati yang memperebutkan gelar juara atau trofi, kira-kira begitu yang terbaca olehku atas penampilan Madrid yang mengecewakan. Kalah 2 - 4 dari Milan dianggap biasa saja. Don Carlo (pelatih Real Madrid) hanya mengawasi dari pinggir lapangan tanpa bersusah payah mengarahkan anak-anak asuhnya supaya lebih bermain agresif atau apalah instruksi lainnya sebagai seorang pelatih yang biasa dilakukan. Dari pengamatanku Ancelotti lebih fokus memperhatikan pada pemain-pemain Madrid yang jarang dimainkan, sepertinya dia mempelajari skill anak-anak asuhnya itu agar dapat dimainkan kelak sesuai kemampuan mereka. Termasuk nyetel tidaknya seorang pemain A dan B bila ditempatkan disebuah posisi untuk menambah daya gedor lini belakang, tengah ataupun depan dstnya. Kira-kira itu yang ada dalam pikiranku melihat Carlo Ancelotti tidak banyak memberi instruksi pada pemainnya. Dia lebih sering berdiri, duduk sambil mengamati saja.
Babak 1, permainan Milan lebih oke dibanding Madrid. Lebih semangat dan serius dalam menggiring bola dan semaksimal mungkin meredam permainan Madrid. Pertahanan Milan pun cukup tangguh dan ketat. Gerak-gerik pemain Madrid selalu berada dalam jangkauan mereka, apalagi bila seorang Cristiano Ronaldo sudah menggocek bola bisa dipastikan disekelilingnya adalah pemain lawan untuk memblok gerakan Ronaldo.
Dibabak 1, skuad Madrid menurunkan Ronaldo, Isco dll dan sebagai kiper Keylor Navas. Babak ke 2, permaianan Madrid tampak lebih baik dibanding babak 1. Benzema, Bale dengan kiper Casillas dimasukkan dibabak ini. 
Uji coba pemain yang dipakai Ancelotti kurang berhasil, terbukti permainan mereka tidak seperti biasanya dan mengalami kekalahan. Ini pernah terjadi dipertengahan tahun ini saat liburan musim kompetisi usai. Madrid mengalami kekalahan dari MU saat melakoni laga persahabatan. Trend negatif sempat menjalar di La Liga awal musim ini dan mengalami kekalahan saat Piala Super Spanyol lalu dari Atletico Madrid. 
Alhamdulillah hal negatif itu dapat dilalui Madrid dengan kebangkitan performa moncer di laga-laga dikemudian hari dengan menyabet beberapa gelar juara dan membawa trofi kemenangan.
Semoga tahun depan ini Real Madrid dapat mempertahankan trend positifnya di semua kompetisi yang diikutinya. Aamiin... Hala Madrid !